120 KK Petani Dambakan Jembatan Gantung

HARIANRAKYATACEH.COM – Warga petani dan pekebun di tiga gampong dalam Kemukiman Ujong Rimba Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, mendambakan bangunan jembatan, meskipun jembatan gantung untuk kelancaran pengangkutan hasil panen rakyat.

Petani dari tiga gampong di Kemukiman Ujong Rimba yang membutuhkan jembatan gantung berasal dari petani di Gampong Didoh, Gampong Kulam Ara, dan Gampong Meugit.

Camat Mutiara Timur, Achmad Mulyana, membenarkan jika warga petani Gampong Didoh, Gampong Kulam Ara, dan Gampong Meugit, sebanyak 150 Kepala keluarga (KK) sangat membutuhkan sebuah jembatan gantung.

Camat Achmad Mulyana kepada Rakyat Aceh, Kamis (20/5), menyebutkan, lokasinya hutan di kaki bukit itu sangat subur, termasuk areal persawahannya. Sayangnya, tidak ada sarana pendukung.

Dalam peninjauan ke lokasi, Camat Mutiara Timur menyebutkan, daerahnya cukup luas, termasuk persawahan cukup menjamin disaat musim tanam, hanta sebagian kecil areal sawah yang sering tergenang banjir.

Pun begitu, Camat Mutiara Timur turut berharap pihak kabupaten mendukung harapan masyarakat agar terbangun sebuah jembatan gantung untuk kelancaran pengangkutan hasil panen petani di tiga desa tersebut.

“Kebutuhan itu, terkait dengan kondisi petani sangat sulit mengangkut hasil panen sawah (gabah) dan hasil kebun lainnya, karena harus melintasi sebuah anak sungai yang luapan air cukup parah disaat musim banjir,” ujar Achmad.

Salah seorang tokoh masyarakat Gampong Didoh, Fauzi ST kepada Rakyat Aceh menyebutkan diseberang sungai tersebut ada 120 hektar sawah setahun dua kali tanam, atau hasil panen cukup memuaskan.

Fauzi yang turut mendampingi Camat Achmad Mulyana menyebutkan, warga di tiga desa memang sudah pernah mengajukan permohonan agar Pemkab Pidie membangun satu unit jembatan di alur anak sungai tersebut.

“Di seberang sungai tersebut ada lahan persawahan seluas 120 hektar, jika musim panen padi sulit mengangkut gabah karena tidak ada jembatan penyeberang,” ungkapnya.
Pantauan media ini di lokasi melalui perkampungan penduduk Kemukiman Ujong Rimba, selanjutnya menerobos jalan hutan belantara tanpa beraspal, atau penuh bebatuan dengan kondisi jalan mendaki dan menurun.

Kawasan hutan ini, di masa konflik bersenjata dikenal sebagai kawasan yang dicap “merah”. Selanjutnya, jalan ini tembus ke Gle Rinti, Kecamatan Tiro Truseb. (mag-85/rus).