Segudang Impian Ifwan Sahara, Pernah Ditolak Gabung di Partai Nasional

Ifwan Sahara

Ifwan Sahara, dikenal sebagai aktifis yang getol memperjuangkan hak- hak penyandang disabilitas di Aceh. Bahkan pada tahun 2019 mencoba nyalon untuk legislative (nyaleg) lewat partai nasional di Dapil 3 untuk Calon Anggota DPRK Aceh Besar.

Laporan Rusmadi, Banda Aceh.

Ifwan Sahara, panggilan akrabnya ipan, punya segudang impian untuk memperjuangkan hak hak disabilitas di Aceh. Ia pernah diamanahkan sebagai Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas (PPDI) Aceh, periode 2011-2018.

Dalam hidupnya, Ipan selalu melihat ke masa depan yang lebih baik dan tidak pernah pesimis dengan apa yang dialaminya saat ini secara fisik. Baginya, semuanya itu hanya kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Ipan, selalu menggali potensi dalam dirinya, tidak pernah menyesali apa yang menimpanya. Semua nya sama di depan Tuhan, yang membedakan hanya ketaqwaannya.

Baginya optimis adalah modal utama dalam menata hidup yang juga harus dibarengi dengan perjuangan dan pengorbanan.

“Perjuangan dan pengorbanan paling dasar untuk keluarga anak dan isteri,” ujarnya.

Ipan, sering mengisi acara untuk memberikan semangat kepada para penyandang disabilitas di Aceh. Bahkan organisasi yang dibentuknya itu memperjuangkan hak hak disabilitas.

Dengan kepiawaian Ipan, sering tampil di media sebagai narasumber baik di media cetak, elektronik maupun online.

Kata Ipan, ketika Musda PPDI Aceh, ada  perhatian dari pemerintah Aceh dalam hal ini Dinsos Aceh, ikut membantu suksesnya acara tersebut.

“Meski pun uang tidak kita pegang,” jelasnya.

Saat ini, Ipan diamanahkan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PPDI Aceh tahun 2019 hingga sekarang.

Sebagai orang yang pernah memegang amanah di organisasi disabilitas tetap memberikan masukan dan nilai optimis kepada pengurus PPDI Aceh yang baru.

Dengan pengalaman organisasi, murah senyum, salam dan sapa, teman teman seprofesi mendukung untuk nyaleg. Pada tahun 2019 ia diberikan amanah nomor urut 1, untuk Anggota DPRK Aceh Besar, dapil 3 meliputi Kecamatan Darul Imarah, Simpang Tiga dan Darul Kamal.

Keikutsertaan Nyaleg, Ipan pada tahun 2019 ini lewat partai Nasional yakni Partai Hanura.

Sebelum menggunakan atribut partai Hanura itu. Di tahun 2019 pernah ditolak gabung di partai nasional lainnya. Penolakan itu karena kondisi fisiknya. Namun, tidak membuat dirinya putus semangat.

“Partai apa itu tidak perlu saya beberkan,” ucap Ipan, belum lama ini.

Ayah dua anak ini, menyampaikan tahun 2014 hanya sebagai simpatisan di partai itu dan juga pernah membantu dan membesar partai tersebut, lewat perkenalannya dengan salah seorang pengurus partai.

“Ya sudah lah itu saya jadikan sebagai pengalaman dalam hidup,” ungkapnya.

Untuk memanfaat pesta demokrasi, Ipan dipinang dan diajak untuk menjadi salah seorang calon legislatif di partai Hanura saat itu. Lantas Ipan menyanggupinya untuk ikut bersaing di pesta demokrasi.

“Saya mendapatkan beberapa ratus suara, namun belum cukup untuk duduk di kursi DPRK Aceh Besar,” jelas suami dari Seri Murni.

Kata Ipan, banyak cara dan jalan untuk membantu sesama penyandang disabilitas dan kelompok masyarakat lain Aceh, tidak harus menjadi anggota legislative (anggota dewan).

Ipan, walaupun tidak memiliki pekerjaan tetap, selain penarik becak. Namun untuk kebutuhan keluarga sehari hari tergolong cukup dan tidak perlu meminta minta kesana dan kemari.

Saat ini, Ipan, telah menjatuhkan pilihan hatinya kepada partai politik nasional dan dipercayakan Ketua Ranting Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Desa Lambhue periode 2019 hingga sekarang.

Ipan mengaku, sebelumnya juga ada beberapa partai nasional yang menawarkan bergabung. Namun belum masih mikir mikir.

“Ketika saya ditawarkan di PKS, langsung mau,” jelasnya.

Ipan yang sehari hari bekerja sebagai penarik becak, namun tidak patah semangat untuk menata masa depan yang lebih baik lagi. Impian dan cita cita  didambakan bisa terwujud untuk banyak berbuat lagi bagi penyandang disabilitas di Aceh.

Ipan, tidak bisa jauh dari dua kruk untuk mengapitnya di kiri dan di kanan, saat ia  jalan.

Tidak hanya aktif di organisasi disabilitasi dan organisasi kemasyarakatan, Ipan juga menjabat sebagai Ketua RW Kreung Jreu Perumnas Lambhue, Kecamatan Darul Imarah, tahun 2019 hingga sekarang.

Ipan pernah memberi masukan kepada pemerintah Kota Banda Aceh, tentang keberadaan halte Transkutaraja, supaya ramah disabilitas ketika menggunakan kursi roda maupun kruk.

Pada tahun 2016-2017, juga pernah menjabat sebagai komisioner Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Darul Imarah, Aceh Besar.

Menurut cerita Ipan, sejak umur 3 menderita polio setelah demam tinggi, kakinya mengecil tidak bisa berjalan normal, sehingga harus menggunakan dua kruk untuk kiri dan kanan.

Bagi Ipan, dengan usia yang tidak lagi muda, apalagi mau ikut tes CPNS, maka jalan yang terbaik menjadi seorang wiraswasta dan juga bergabung di beberapa organisasi di tingkat gampong Lambhue.

Selain itu, Ipan berusaha menyempatkan diri untuk terlihat dalam kegiatan kegiatan di desa, baik dalam peringatan Hari hari Besar Islam (HBI), maupun dalam bidang social lainnya.

Pria kelahiran Desember 1976 di Kota Banda Aceh, pernah mengenyam pendidikan SDN Lambhue, SMPN 5 Banda Aceh dan SMAN 5 Banda Aceh dan strata satu di Universitas Abulyatama Fakultas Teknik Sipil.