Pengungsi Korban Kebakaran Butuh Kelambu Anti Nyamuk

Harianrakyataceh.com – ‎10 Kepala Keluarga (KK) dari 20 KK korban  kebakaran hebat, Kamis (27/5) lalu, yang mengungsi dan masih bertahan di tenda darurat, keluhkan setiap malam manjadi santapan nyamuk karena tidak tersedianya kelambu anti nyamuk.

‎10 KK sejak 27 Mei 2021 lalu telah menempati tenda darurat yang berlokasi di desa Amiria Bahagia Kecamatan Simeulue Timur, untuk mengusir nyamuk hanya mengandalkan obat anti nyamuk bakar dan obat anti nyamuk oles, sehingga tidak maksimal untuk menghadang nyamuk.

“Kalau nyamuk memang banyak, dan nyamuknya tidak mempan dengan obat anti nyamuk‎. Kami memohon sangat membutuhkan kelambu, kasihan anak-anak kami,” kata Amir (45) salah seorang korban kebakaran, kepada harianrakyataceh.com, Sabtu (29/5) malam.

Masih menurut Amir, sambil mengamati keluargana sedang sarapan malam, selain gangguan nyamuk juga berharap untuk lantai tanah dalam tenda darurat yang hanya beralaskan plastik sehingga menimbulkan hawa dingin dan rawan genangan air bila hujan turun‎.

Hal senada juga ditambahkan, Ani salah seorang korban kebakaran yang diperkirakan berusia sekitar 40 tahun, selain jadi santapan nyamuk dan berharap ada bantuan kelambu, juga lokasi pengungsian banyak binatang penghisap darah lainnya, jenis pacet atau lintah kecil.

“Disini banyak juga pacat, selain nyamuk dan lantainya rawan genangan air,” katanya dan sesaat sekitar 20 menit kemudian harianrakyataceh.com saksikan, menyaksikan tiba-tiba Ani menjerit ketakutan dan meminta bantuan anaknya untuk melepaskan pacet yang sedang menghisap jari tangannya.

‎Harianrakyataceh.com, melintasi salah satu tenda darurat seorang ibu rumah tangga korban kebakaran yang sedang menjaga dua anak kecil yang terlelap, meminta kasur jenis matras dan kelambu serta plastik penutup tenda darurat, disebabkan saat angin dan hujan tanpa hambatan bebas masuk kedalam tenda darurat.

“Pak, mintalah kalau masih ada kasur. Tolonglah ada penutup pintu masuk kedalam tenda, sebab kalau ada angin dan hujan masuk kedalam tenda,” kata seorang ibu rumah yang ditaksir berusia 30 an tahun, yang mengira harianrakyataceh.com, petugas posko pengusian, Sabtu (29/5) malam.

Terkait permintaan kelambu tersebut, Edi Rahman Kalak BPBD Simeulue menyebutkan stok kelambu tidak ada dan sedang berupaya melakukan koordinasi untuk ketersediaan kelambu anti nyamuk yang diharapkan pengungsi korban kebakaran.

“Di BPBD tidak ada lagi stok kelambu, kita sedang koordinasi dengan sejumlah instansi lainnya, mana tau ada stok kelambu yang dikeluhkan korban kebakaran yang mengungsi di tenda darurat‎, dan juga kita coba koordinasinya dengan pihak badan usaha milik negara maupun badan usaha swasta, mana tau mereka mau membantu kelambu,” kata Edi Rahman kepada harianrakyataceh.com, Minggu (30/5).

‎Sejumlah kalangan menyebutkan, penanganan pengungsi korban bencana kebakaran berbeda dengan penanganan pengungsi korban bencana alam lainnya, disebabkan untuk korban bencana kebakaran, seluruh harta benda dan tempat tinggalna tidak terselamatkan, habis terbakar.

“Bedalah penanganan pengungsi korban bencana‎ kebakaran dengan pengungsi bencana lainnya. Kalau korban bencana kebakaran, itu harta benda dan rumahnya habis tidak tersisa, jadi harus lebih konsisten dan berkesinambungan, disini seluruhnya harus berperan, terutama dari BUMN, di Simeulue kan banyak BUMN, jangan hanya mengharap dan mengira ini tugas Pemerintah Daerah saja,” kata Sastra salah seorang warga setempat, Minggu (30/5). (ahi/rif)