Tiga Hari di Aceh: Penuh Kebahagiaan dan Tak Terlupakan

PRESIDEN PKS H AHMAD SYAIKHU

Cacatan Harian Presiden PKS, H Ahmad Syaikhu di Aceh

Kunjungan ke Kodam Iskandar Muda

Kamis (27/5), saya mendapat tugas dari Pimpinan Komisi I DPR RI untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan jajaran Kodam Iskandar Muda. Rombongan dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi I Pak Anton Sukartono Suratto.

Kami disambut penuh kehangatan sejak di Bandara Iskandar Muda. Setelah sejenak beristirahat, kami segera bergerak menuju Kodam Iskandar Muda. Letaknya persis di tepi Krueng (Sungai) Aceh. Terlihat indah dari seberang sungai dan atas jembatan. Masuk ke pelataran gedung, kami disambut oleh jajaran prajurit yang berbaris rapi. Rombongan langsung menuju lapangan tengah Kodam Iskandar Muda. Tampak LCD besar bertuliskan SELAMAT DATANG KOMISI I DPR RI. Acara dilanjutkan dengan RDP di aula.

Banyak diskusi yang menarik. Di antaranya terkait upaya peningkatan kesejahteraan prajurit, penyiapan prasarana dan sarana TNI, termasuk alutsista. Dari diskusi ini, para anggota DPR RI mengetahui kondisi riil Kodam Iskandar Muda dan berusaha mencari solusi atas kendala yang dihadapi. Acara diakhiri dengan foto bersama di lapangan tengah Kodam Iskandar Muda.

Kunjungan Media

Selesai acara saya sempatkan bersilaturahim ke teman-teman pengurus DPW PKS Aceh. Sore hari saya diajak untuk melakukan media visit ke salah satu media lokal di Aceh.

Kami disambut langsung oleh Pimpinan Umum dan Pemimpin Redaksi dan beberapa wartawan. Diskusi yang cukup hangat berlangsung dengan penuh keakraban dan kekeluargaan, sesekali diselingi gelak tawa. Dari masalah konsolidasi partai hingga koalisi.

Dari kantor media lokal tersebut, saya diajak ke Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi kebanggaan Masyarakat Aceh. Masjid ini terakhir direnovasi pada tahun 2017 sehingga secara keseluruhan mampu menampung sekitar 20.000 jamaah. Masjid semakin indah dengan 12 payung yang terpasang di halaman. Saya seperti tengah berada di Masjid Nabawi, Madinah. Saya Sholat Ashar berjamaah. Jajaran shaf berjarak sesuai protokol kesehatan dengan barisan yang tersusun lurus

Setelah itu, saya menghadiri Peusijuk bersama ulama kharismatik Tengku Muhammad Yusuf. Bersama beliau, saya meresmikan penggunaan 9 unit mobil pelayanan PKS yang akan disiagakan untuk melayani warga Aceh. Ini adalah bukti komitmen kami untuk terus berkhidmat dari Ujung Timur hingga Ujung Barat Indonesia.

Selepas acara Peusijuk, teman-teman mengajak saya singgah untuk menikmati mie Razali. Rasanya khas Aceh. Kata orang, belum ke Aceh jika tidak mampir ke sini. Terasa nikmat di lidah. Di tengah Pandemi Covid-19 yang berdampak pada sektor ekonomi termasuk UMKM, kemampuan Mie Razali untuk tetap bertahan dan masih banyak dikunjungi orang sangat layak diapresiasi.

Pesan-pesan Ulama Aceh

Malam hari, saya mengadakan silaturahim dengan para ulama di Kyriad Muraya Hotel. Ini kesempatan sangat berharga. Saya menyampaikan perkembangan perjuangan PKS di legislatif. Di samping itu, saya juga meminta nasihat, masukan dan arahan dari para ulama. Alhamdulillah, banyak pesan bernas yang saya dapatkan dari para ulama yang hadir dalam silaturahim tersebut.

Di antaranya dari Tu Suf, panggilan untuk Tengku Muhammad Yusuf. Pertama, PKS harus memperkuat orang baik dan memperbaiki orang kuat. Seperti halnya Rasulullah SAW mengubah Umar bin Khoththob untuk mendukung Islam. Kedua, kepemimpinan dalam Islam harus dimulai dari keluarga. Pondasi awalnya adalah integritas. Ketiga, dunia pendidikan harusnya menghasilkan manusia berkarakter. Oleh karenanya, jangan sampai dunia pendidikan dipegang oleh orang yang tidak berkarakter. Keempat, seandainya PKS memperhatikan kekhususan-kekhususan Aceh, insya Allah akan didukung oleh Masyarakat Aceh. Kelima, PKS harus mengajarkan etika Islam dalam berpolitik. Ustadz yang masuk dalam dunia politik stigmanya jangan sampai berubah. Harus ada partai politik yang mencerdaskan umat.
Keenam, Politisi sering menjanjikan hal yang tidak objektif kepada masyarakat karena itu, masyarakat juga tidak objektif dalam melakukan tuntutan.

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Dr. Damanhuri mengungkapkan PKS harus berbuat yang bisa dilakukan. Perbanyak silaturahim seperti ini. Khusus untuk Aceh, beliau berharap PKS mendatangi MPU.

Sementara itu, Walid Muksalmina mengatakan PKS di mata masyarakat Aceh sudah bagus. Tetapi mengapa mereka tidak memilih PKS? Salah satunya karena ada orang yang memprovokasi bahwa di PKS ada orang Wahabi. Oleh sebab itu, PKS harus banyak bersilaturahim ke Dayah.

Ada juga pesan dari Abi Sirojuddin Saman. Beliau mengatakan bahwa penyebab hilangnya kepercayaan kepada orang-orang politik, karena masyarakat dianggap seperti payung daun. Dimanfaatkan sesaat pada waktu hujan. setelah itu dibuang bahkan diinjak-injak. Saat kampanye dijanjikan dengan janji-janji manis, setelah itu ditinggalkan.

Tengku Masrul Aidi mengungkapkan bahwa konsistensi dan istiqomah masih ada di PKS. Istiqomah dengan akhlak. Berharap PKS tetap konsisten dan istiqomah. Ini sebagai modal yang cukup untuk kampanye ke depan.

Nasihat terakhir dari Ustadz Dzul Arofah, ulama yang seringkali mendampingi KH. Arifin Ilham, PKS harus menjadi media dakwah yang menyatukan umat.

Itulah nasihat-nasihat dan harapan-harapan besar dari para ulama Aceh. Saya bersama seluruh jajaran struktur dan kader PKS berusaha untuk menjadikan nasihat, arahan dan harapan ulama sebagai pegangan.

Sentuhan Hati Budayawan

Selepas pertemuan dengan ulama, saya berkunjung ke Rumah Aspirasi Bang Rafly Kande. Rooftop rumah aspirasi dijadikan layaknya studio terbuka yang nyaman untuk berkumpul. Apalagi dengan sajian buah-buahan dan kopi madu.

Saya meminta Bang Rafly menyanyikan beberapa lagu. Sempat juga saya kolaborasi dengan beliau menyanyikan lagi Si Aneuk Yatim, yang sempat viral pada saat terjadi tsunami pada tahun 2004. Sungguh, lagu-lagu dan syair yang dibuat oleh beliau, mampu menggugah semangat dan kelembutan hati seseorang. Saya jadi teringat peristiwa tsunami dan betapa sangat beratnya ujian yang dihadapi masyarakat Aceh saat itu.

Sarapan di Pendopo Gubernur

Jumat pagi, saya mendapat undangan sarapan bersama Gubernur Aceh Nova Iriansyah di rumah dinas beliau. Meski rumah dinas yang dibangun sejak zaman Belanda tahun 1880 M, tapi masih berdiri megah menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Aceh. Menuju ruang utama, kami melewati yang di kanan kiri terpampang foto-foto para Gubernur Jenderal. Di ruang dalam sebelah kanan dan kiri dijumpai foto-foto para Gubernur. Pak Gubernur mengajak ke ruang makan untuk menikmati makanan khas Aceh.

Setelah sarapan, kami berdiskusi banyak hal terkait Aceh. Beliau minta dukungan dari teman-teman PKS untuk kelanjutan Dana Otonomi Khusus bagi Aceh. Saya menyampaikan bahwa pada saat saya menjadi Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN), salah satu kajiannya adalah mengenai dana otonomi khusus. Salah satu rekomendasinya adalah agar dana alokasi khusus dilanjutkan.

Konsolidasi Struktur

Siang hari saya bertemu dengan Kader-kader PKS di Banda Aceh. Awalnya acara ini hanya diperuntukkan bagi struktur dan kader PKS Aceh, namun rupanya ketua BPW Sumatera Bagian Utara, Ustadz Hendry Munief meminta acara ini di perluas se Sumatera bagian utara secara virtual.

Saya menganggap penting konsolidasi ini, karena sejalan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap PKS dalam beberapa survey terakhir. Survey-survey yang ada jangan membuat struktur dan kader pongah, lengah dan berdiam diri. Justru sebaliknya, harus semakin meningkatkan kinerja sehingga diperoleh hasil yang optimal.

Khutbah Jumat

Sebuah kehormatan bagi saya ketika diberi kesempatan untuk memberikan Khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Saya diminta menyampaikan tema Ummatan Wasathan.

Pengurus DKM Baiturrahman sangat tepat memberikan tema ini. Sebab mengingatkan tentang jati diri penciptaan kita sebagai ummatan Wasathan, seperti yang terdapat dalam Surah Al Baqarah: 143.
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”

Ayat ini tidak secara kebetulan terletak di tengah-tengah surat Al-Baqarah. Ummatan wasathan ibarat wasit. Wasit harus memiliki dua karakter yang kuat yaitu tahu aturan main (alim) dan bisa bersikap adil. Inilah dua karakter kuat ummatan wasathan. Jika dua karakter itu ada pada diri seseorang maka dia akan amanah.

Sebaliknya, jika satu atau dua-duanya tidak ada pada seseorang maka sangat mungkin manusia akan khianat.

Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjadi ummatan wasathan. Amin ya Rabbal alamin.

Silaturahim dengan Pengusaha

Malam hari menjelang kepulangan, saya sempatkan bersilaturahim dengan para pengusaha di Aceh. Alhamdulillah hadir wakil ketua KADIN Aceh, Ketua Apindo Aceh dan para pengusaha lainnya. Dalam silaturahim inilah banyak diskusi menyangkut iklim usaha di Aceh dan solusi-solusi yang diperlukan untuk peningkatan iklim investasi yang akan mampu mensejahterakan masyarakat Aceh.

Kunjungan Ke UMKM SYR Coffee

Sabtu (29/5) pagi, saya manfaatkan untuk melihat secara langsung perkembangan UMKM di Aceh. Saya mendatangi SYR Cafe yang dimiliki oleh Bang Syukri.

Ini salah satu UMKM yang bisa mandiri tanpa sentuhan bantuan dari pemerintah maupun pemerintah daerah. Pada awalnya, kopi-kopi khas Aceh seperti kopi Gayo, untuk konsumsi ekspor. Namun, kini banyak UMKM yang kreatif dengan membuat kopi bercita rasa kopi khas gayo. Satu di antaranya adalah Bang Syukri.

Saya sangat bersyukur bisa langsung diterima beliau. Lebih istimewa lagi, beliau sendiri yang menyajikan berbagai varian kopi buatannya; ada jenis arabika dan robusta. Bahkan beliau bisa juga membuat dengan rasa anggur yang difermentasi.

Saya juga belajar kepada beliau bagaimana meroasting kopi dan menyajikan kopi agar terasa nikmat. Dan beliau memberikan ilmunya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Masyarakat Aceh hatus bangga memiliki UMKM yang bisa mandiri. Saya sendiri sangat bangga karena PKS sendiri salah satu programnya adalah melakukan pemberdayaan UMKM.

Saya meyakini UMKM lainnya yang ada di Aceh juga sudah melakukan upaya-upaya agar bisa lebih mandiri. Ini sekaligus menjadi pembuktian apa yang diharapkan oleh Gubernur Aceh bahwa Aceh sangat kondusif dan siap untuk menerima investasi. Semoga investasi di Aceh semakin meningkat.

Selama di Aceh, jadwal terasa sangat padat. Tentu saja sangat melelahkan. Tetapi kelelahan itu terobati saat melihat semangat struktur dan kader yang sungguh sangat luar biasa. Tiga hari keberadaan saya di Aceh penuh kebahagiaan dan tak terlupakan.