Pasar Sibreh Milik Pemkab tak MIliki MCK

Rakyat Aceh

HARIANRAKYATACEH.COM – Pasar Sibreh Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar tidak memiliki tempat MCK (Mandi Cuci Kakus). Para pedagang baik yang menyewa Ruko (Rumah Toko) maupun lapak di los pasar sayur dan ikan harus ke masjid bila Buang Air Besar (BAB) maupun Buang Air Kecil (BAK).

Amatan Rakyat Aceh pada Kamis (3/6), pasar milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar yang dibangun tahun 2005 itu sangat minim perawatan dan juga fasilitas. Seperti, banyak talang air bocor, yang mengakibatkan air masuk dan mengenangi ruko dan lapak jualan saat hujan.

Kecuali itu, tidak ada penutup riol (got) di sekeliling pasar pasar tersebut. yang membuat sampah menumpuk di dalam got. Dan bahkan ketika pasar sedang ramai saat Hari pecan, sering para pengunjung jatuh ke dalam got sedalam 50 cm itu yang mengakibatkan cedera baik ringan maupun berat.

Salah seorang pedagang kelontong Abdul Manaf mengatakan saat ini MCK atau WC (Water Closet) sangat dibutuhkan di pasar tersebut, tidak hanya untuk para pedagang namun juga untuk pengunjung (pembeli) terlebih saat ramai sepeti Hari Peukan.

“Sekarang kalau BAB atau BAK, ya ke masjid kami harus lari, kalau sepi seperti ini, kalau ramai seperti Hari Peukan, ya tidak mungkin kami tinggalkan toko atau lapak jualan, tapi ya mau bagaimana, terpaksa,” ujar Abdul Manaf yang diamini oleh beberapa temannya sesame pedaang di pasar itu.

Masih menurut Abdul Manaf, pembangunan WC umum di pasar yang memiliki 2 hari peukan, yaitu Rabu dan Minggu itu merupakan hal yang sangat mendesak dan harus diprioritaskan oleh pemerintah. Perihal biaya operasionalnya, kata ia, bisa digunakan dari jasa pakai WC umum itu oleh pedagang maupun pengunjung.

“Banyak ruko disini yang kosong, dari 32 pintu, hanya 40 % saja yang terisi, yang lain kosong karena orang tak mau menyewa, tidak ada WC atau air,” sebut Abdul Manaf .
Selain itu, Abdul Manaf juga berharap Pemkab Aceh Besar sebagai pemilik pasar itu, harus menyediakan penutup got untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung. Menurutnya, sudah banyak jatuh korban bahkan ada yang cedera berat karena jatuh ke dalam got tersebut.

“Kami buat sendiri boleh juga, tapi nanti dipotong dari uang sewa Ruko. Dan itupun tidak ada jawaban dari mereka. Dan kami hanya sanggup buat di depan toko masing-masing, itupun dari kayu. Dan masih sangat banyak yang terbuka, mudah-mudahan dapat perhatian dari pemerintah,” harap Abdul Manaf.

Hal yang hampir senada juga diutarakan oleh salah seorang pedagang sayu-mayur M Rasyid, menyampaikan, selain kebutuhan mendesak akan MCK dan penutup riol, ia juga berharap pemilik atau pengelola pasar itu merehap talang air yang ada di dekat ia membuka lapak.

Kata dia, bila hujan turun, lapak dan barang dagangannya basah akibat air yang keluar dari talang air yang rusak. “Dan kawasan ini dipenuhi dengan genangan air, tidak hanya menyulitkan pembeli datang, kita yang berjualan sendiri sulit,” ujar M Rasyid yang mengaku sudah 40 tahun berjualan sayu di pasar tersebut.

Sampai dengan berita ini diturunkan, Rakyat Aceh sudah mencoba menghubungi pihak-pihak terkait, baik Petugas Pasar maupun dinas terkait, namun belum bisa dihubungi. Menurut sejumlah pedagang, petugas pasar yang bernama Ismail, sudah mengganti nomor ponselnya, begitupun dengan dinas terkait.(tar/rif)