Pemuda Muhammadiyah Nilai Migrasi BSI Tak Proporsional

HARIANRAKYATACEH.COM- Proses migrasi tiga bank syariah di Lhokseumawe ke Bank Syariah Indonesia (BSI) sejak 7 Juni lalu hingga saat ini dinilai tidak proporsional. Akibat migrasi itu telah menimbulkan penumpukan nasabah ditengah pandemi Covid-19 di setiap bank syariah, seperti di bekas Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah dan BNI Syariah yang kini sudah dimerger menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Hal itu disampaikan Ketua Pemuda Muhammadiyah Lhokseumawe Abdul Gani Haitamy, kepada Rakyat Aceh, Rabu (9/6). Ia mengatakan, 

seharusnya pihak Bank Syariah Indonesia dapat melakukan migrasi nasabah dari tiga bank syariah secara bertahap. Namun, persoalan yang terjadi saat ini adalah semua nasabah eks BNI Syariah dan BRI Syariah tidak dapat melakukan transaksi apapun sebelum melakukan migrasi rekening. Karena sejak tanggal 7 Juni lalu hingga sekarang semua rekening nasabah telah diblokir dan harus migrasi rekening terlebih dahulu ke BSI. 

“Kita memperhatikan di lapangan dan juga mendapatkan banyak protes masyarakat yang disebabkan proses migrasi rekening. Begitu juga jika mau migrasi maka harus rela antrian berjam-jam, dalam sehari itu setiap unit BSI hanya memberikan untuk 500 nomor antrian kepada nasabah. Bahkan banyak nasabah yang tidak memperoleh nomor antrian,”ungkapnya.

Disebutkan, sejatinya manajemen BSI dapat melakukan migrasi secara bertahap artinya tidak menutup akses transaksi para nasabah yang masih memiliki rekening BNI Syariah, BRI Syariah dalam seketika. 

“Ketika di tutup akses transaksi maka yang terjadi adalah penumpukan nasabah yang berpotensi terjadinya penyebaran virus corona di Lhokseumawe. Kita melihat penumpukan nasabah terjadi di bank BRIS sangat banyak sementara kita ketahui BNI dan BSM juga termasuk Bank yang masuk dalam katagori migrasi inilah yang saya maksud tidak proporsional,”ucapnya.

Kemudian ada praduga nasabah bahwa proses migrasi ini terjadi pemotongan sampai Rp 50 ribu pernasabah. “Ini perlu juga di perjelas oleh manajemen bank BSI agar asumsi negatif ini tidak terus berlanjut,”katanya.

Menurut dia, sebenarnya yang perlu dijelaskan oleh pihak BSI secara resmi bahwa tidak terjadi pemotongan terhadap proses migrasi ini, hanya saja jumlah saldo yang muncul di ATM berbeda dengan jumlah saldo yang terdapat di buku. Kenapa bisa berbeda antara saldo yang muncul di ATM dengan yang ada di buku.

“Kita sangat berharap agar proses migrasi ini dapat berjalan dengan baik tanpa ada masalah dikemudian hari yang dapat bermuara pada hukum,”ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, ada juga nasabah yang melakukan penarikan di ATM saldonya berkurang dan uangnya tidak keluar dan ini masalah yang cukup sering terjadi dan ketika kita proses sangat berbelit-belit. Kemudian membutuhkan waktu lama dan yang menjadi pertanyaannya BSI kan punya tingkat IT-nya sudah sangat profesional dan semuanya menggunakan sistem yang sangat cepat dan akurat serta tidak diragukan lagi. Namun, kenapa kesannya seperti masih manual cara kerjanya.

Untuk itu, Ketua Pemuda Muhammadiyah juga meminta masyarakat dapat bersabar dalam proses migrasi rekening tersebut. Akan tetapi, pihak Bank Syariah Indonesia harus segera mencari solusi agar proses migrasi tidak membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak terjadi masalah yang dapat menimbulkan berkurangnya kepercayaan masyarakat dalam menabung. (arm/ra)