Warga Tuntut Pemkab Pidie Bangun Jembatan

Foto Sungai Memutus badan jalan desa dengan areal persawahan, karena itu warga petani minta dibangun jembatan gantung. Kawasan Gampong Didoh Kemukiman Ujong Rimba. Rakyat Aceh/ Dhian Anna Asmara

HARIANRAKYATACEH.COM – Warga masyarakat di Kemukiman Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, menuntut Kabupaten Pidie (Pemkab) membangun satu unit jembatan penyeberangan agar memudahkan petani sawah dan perkebun di Kemukiman tersebut mengangkut hasil panennya.

“Kami sangat berharap Pemkab Pidie membangun satu unit jembatan meskipun jembatan gantung agar memudahkan petani sawah mengangkut hasil panen padi,” papar Hamidah dan M.Adam, warga Gampong Didoh, Kamis (10/6).

Disebutnya, apabila panen padi tiba, warga di tiga desa bertetangga sangat sulit mengangkut hasil panen padinya, karena harus masuk sungai yang membelah gampong (desa) tentu menyita waktu dan tenaga.

Dikatakannya, petani sawah yang menanam padi diseberang sungai tersebut adalah petani yang berasal dari Gampong Kulam Ara, Gampong Meugit, serta Gampong Didoh, Kemukiman Ujong Rimba.

Hamidah berharap agar anggota dewan dari DPRK Pidie, membantu memperjuangkan lahirnya sebuah jembatan permanen atau jembatan gantung di sungai yang dilewati petani.

“Kami sangat berharap, pemerintah membangun jembatan meski jembatan gantung sekali pun di sungai kecil itu, sehingga petani disini terbantu,” sebut Mansur dan M Adam tokoh Gampong Didoh.

Pengamatan media ini, tingkat kesuburan lahan pertanian di Kemukiman Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara Timur, cukup subur dan luas. Namun, kawasan Kemukiman ini sering tergenang banjir.

Camat Mutiara Timur, Achmad Mulyana secara terpisah, menyebutkan, warga di Kemukiman Ujong Rimba tersebut memang sangat membutuhkan satu unit jembatan gantung untuk kelancaran mengangkut hasil pertaniannya.

Ia menyebutkan, sudah pernah melihat langsung ke lokasi sungai yang dibutuhkan sebuah jembatan untuk ke sawah dan ke kebun, atau sedikitnya 150 petani sawah dan kebun bercocok tanam disana.

Achmad Mulyana mengakui, jika jalan menuju ke lokasi pertanian rakyat harus menyeberang anak sungai yang airnya setinggi lutut dan saat banjir melewati pinggang dan meluap ke jalan padat karya atau jalan irigasi. (Mag85/rus)