Kadistan Pijay Minta PPL Evaluasi Kegiatan MTG 2021

HARIANRAKYATACEH. COM – Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Kadistanpang) Pidie Jaya, drh Muzakkir Muhammad MM, meminta penyuluh pertanian lapangan (PPL) di wilayahnya supaya mengevaluasi sejauh mana sudah kegiatan musim tanam gadu (MTG) 2021.

Hal ini untuk menghindari kemungkinan timbulnya serangan organisme pengganggu tanaman, jadwal yang sudah disepakati supaya ditaati.

“Saya sudah hubungi semua Koordinator Penyuluh/Pengelola Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di delapan kecamatan agar mengevaluasi kegiatan di lapangan hingga akhir Juni 2021,” kata Muzakkir kepada wartawan harian ini, Senin (28/6).

Kata Kadistanpang, untuk mengetahui kemajuan lapangan MTG 202 yang secara umum, pada bulan Juni ini harus dilakukan penaburan benih.

Jadwal yang telah disepakati bahwa, selesai tanam (top blang) di Pidie Jaya awal Agustus. Dengan demikian diperkirakan panen akan berlangsung mulai awal September 2021.

Pengalaman menunjukkan jika jadwal tersebut tepat waktu (kalau pun melor paling lama 1-2 pekan), niscaya akan terhindari dari serangan OPT dan musim tanam rendengan atau MTR 2021/2022 (pade thon) tidak akan terganggu.

Karenanya, kegiatan di lapangan terutama pengolahan tanah, lanjut Muzakkir, perlu dipacu. Ditanya menyangkut dengan alat pengolahan tanah, Muzakkir menyebutkan, ketersediaan traktor  mencukupi.

Semua traktor roda dua (traktor tangan) dan traktor roda empat, seluruhnya sudah ke lapangan. Hanya saja terkadang, keterlambatan terjadi usai tanah diolah. Artinya, kebanyakan petani tidak ke sawah.

Akhirnya, lahan yang sudah diolah kembali mengeras. Padahal, perlu segera dibuat bedengan untuk penyemaian benih. Yang terjadi di lapangan setiap tahun, kebanyakan petani mengulur-ngulur waktu.

Akibatnya timbulnya ketidakserentakan atau centang perenang. Diakui selama ini, Meurahdua, Ulim dan sebagian Meureudu adalah kecamatan yang lamban bertani.

Padahal, persediaan air di tiga kecamatan dimaksud lumayan bagus. Air disuplai dari Irigasi Blang Awe dan sebagian dari Irigasi Ulim.

Ditanya tentang pupuk bersubsidi, Kadistanpang mengatakan, quota atau jatah yang diberikan provinsi masih seperti musim tanam sebelumnya. Jika dilihat dari kebutuhan riel, sama sekali tidak mencukupi. Karena yang disalurkan hanya sepertiga dari kebutuhan.

Artinya, jika Urea misalnya, kebutuhan per-hektare 250 kg, tapi yang diberikan hanya sepertiga atau paling tinggi 100 kg. Begitu pula pupuk NPK Phonska.

Ditambahkan, secara umum hingga saat ini petani Pidie Jaya belum butuh pupuk

Karenanya, ia sudah berulangkali mengingatkan kios penyalur resmi di wilayahnya agar mentaati aturan main termasuk lokasi penjualan. Pupuk dijual kepada petani yang namanya tercantum pada daftar rencana defenitif kebutuhan kelompok (RDKK).

Ditanya, apa memang ada kios yang menjual pupuk bersubsidi diluar wilayah yang telah ditunjuk.

Muzakkir menyebutkan, itu sudah sering ditemui termasuk menjual kepada petani luar kecamatan.

“Malah ada kios yang sudah ditegur,” timpalnya lagi. (mag87/rus)