Dewan Dukung Desa Wisata Sejarah Bukit Kerang

Ketua DPRK Aceh Tamiang Suprianto memberi keterangan saat meninjau situs cagar budaya Bukit Kerang yang berlokasi di pesisir Aceh Tamiang, Kamis (1/7). DEDE/HARIAN RAKYAT ACEH.COM

HARIAN RAKYATACEH.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang akan mendukung pihak desa melakukan pemugaran situs cagar budaya (CB) Bukit Kerang di Kampung Masjid, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

“Saya akan minta Komisi II yang membidangi pariwisata melakukan rapat dengar pendapat (RDP) bersama Dinas Pariwisata, bahwa ada potensi spot wisata di sini. Jadi kita harapkan peluang sekecil apapun yang bisa menarik orang datang harus kita optimalkan,” kata Ketua DPRK Aceh Tamiang, Suprianto saat meninjau lokasi cagar budaya Bukit Kerang bersama Bupati Mursil di wilayah pesisir Aceh Tamiang, Kamis (1/7).

Ketua DPRK Suprianto meminta semua pihak dapat mempromosikan cagar budaya purbakala tersebut kepada masyarakat luas. Ia menilai objek wisata sejarah Bukit Kerang memiliki ciri khas tersendiri untuk dikembangkan. Pria yang hobi travelling ini pun mencontohkan seperti di daerah Padang hanya modal ‘asap’ bisa jadi potensi wisata. Jika Bukit Kerang dikombinasikan dengan kuliner khas pesisir Aceh Tamiang, Suprianto memastikan tentu akan ketemu dan makin menarik untuk didatangik orang.

‘Makanya kami DPRK akan dukung apa yang disampaikan tokoh-tokoh masyarakat berkeinginan untuk menjadi desa wisata sejarah kami dukung sepenuhnya,” ungkap Suprianto.

Datok Penghulu (Kades) Kampung Masjid, Kecamatan Bendahara, Syaiful Syahputra mengatakan, sejak Bukit Kerang ditetapkan sebagai cagar budaya, sejumlah insfrastruktur seperti pagar sudah usang dan jebol sehingga bisa dimasuki ternak sapi warga. Termasuk paving block dan akses jalan masuk tak pernah dirawat sehingga kurang menarik minat wisatawan lokal maupun luar daerah.

“Memang selama ini untuk fasilitas cagar budaya ini kurang mendapatkan perhatian, sehingga dengan kondisi itu membuat para pengunjung tidak berminat melihat peninggalan sejarah zaman purba di sini,” kata datok.

Syaiful Syahputra menyatakan, butuh anggaran Rp1 miliar untuk mempoles wajah cagar budaya Bukit Kerang agar lebih terawat dan terjaga keberadaannya.

Meski minim perhatian dari pemda, pihak kampung berencana akan memperindah situs cagar budaya Bukit Kerang itu menjadi objek wisata sejarah yang akan diminati pengunjung.

“Perlu pagar baru dan dicat warna warni agar terlihat cantik. Kemudian pasang paving block secara menyeluruh pada halaman dipadu oleh gubuk/cakruk lesehan untuk pengunjung bersantai dan istirahat,” tekad Syaiful.

Sementara itu, arkeolog Aceh Husaini Ibrahim sebelumnya pernah menjelaskan bahwa tumpukan kulit kerang (moluska) yang berada di Aceh Tamiang itu sebenarnya merupakan sampah dapur dari manusia purba, atau dalam bahasa Belanda disebut kjoken mordinger.

Sedangkan versi sejumlah tokoh masyarakat setempat menyebutkan, berdasarkan penelitian, manusia prasejarah itu datang ke Aceh Tamiang sekitar 6.000 tahun silam, karena usia Bukit Kerang itu saat ini diperkirakan sekitar 4.000 tahun atau 2.000 tahun sebelum Masehi. (mag-86)