BSI Mobile, Pakai Handphone Transaksi Bisa dari Rumah

Salaha satu gedung Bank Syariah Indonesia (BSI) di Banda Aceh. Rakyat Aceh/Rusmadi

Kelola hidup kini semakin mudah, betapa tidak, dengan menggunakan aplikasi Bank Syariah Indonesia (BSI) Mobile, mempermudah bagi nasabah dalam melakukan transaksi. Nasabah tidak perlu repot-repot dari layanan yang menyenangkan dengan adanya (BSI) mobile tersebut.

Laporan Rusmadi, Banda Aceh

Murizal Alhadi (30), tampak sibuk dengan gawai pintarnya (smarthone). Jemarinya terus mengetik angka-angka yang tak lain adalah nomor rekening tujuan transaksi nontunai. “Yes, terkirim,” ucap Murizal usai transaksi via mobile bankingnya sukses, saat disambangi di kediamannya di Jalan Japekah, Desa Leu U, Darul Imarah, Kabupaten Aceh
Besar.

Sebagai nasabah sangat merasakan kelebihan dengan layanan BSI mobile yang disediakan. Betapa tidak, untuk melakukan transaksi tidak perlu capek-capek apalagi pergi ke bank dan harus antri.

Murizal, mengaku sudah lama menggunakan mobile bangking kurang lebih 5 tahun lalu, ketika masih tabungan masih Bank Republik Indonesia (BRI). Dengan aturan peralihan rekening ke BSI, maka dirinya tetap menggunakan mobile bangking.

“Saya sekitar sudah 5 tahun menggunakan mobile bangking sampai sekarang,” ujarnya, didampingi Isteri, Rini Anggraeni.

Ia mengaku, dengan menggunakan mobile bangking dalam hitungan menit lewat segala pembayaran bisa dilakukan dan tidak ribet.

“Saya lakukan pembayaran untuk bayar listrik, pembayaran telkomsel, token, transaksi uang dan lainya,” ujar Murizal.

Bagi Murizal, dengan adanya aplikasi BSI mobile sangat membantu sehari hari dalam melakukan transaksi. Hal ini sesuai dengan program pemerintah untuk menerapkan pembayaran non tunai.

Murizal mengaku, selama ini mobile bangking digunakan khusus pribadi dengan jaringan yang aman dan selalu memudahkan nasabah.

“Baru-baru peralihan ke BSI ada sedikit masalah untuk melakukan transaksi,” jelasnya.

Ia berharap, BSI dapat memperbagus tampilan aplikasinya supaya ada perubahan dari masa sebelumnya. Selain itu, kata Murizal, BSI dapat menyelesaikan keluhan nasabah yang belum tuntas.

“Dengan kekurangan dan ada keluhan nasabah supaya cepat ditangani atau ada tempat mengadu,” ujar Murizal, yang belum sampai setahun membina rumah tangga itu.

Selain itu, harapnya, BSI menyediakan mesin setor tunai untuk mempermudah nasabah. Sebab, sebelum migrasi ke BSI mesin setor tunai sudah terwujud di provinsi Aceh.

“Semoga mesin setor tunai masih bisa dilakukan di BSI,” ujarnya.

Lanjut Murizal, paling tidak setelah migrasi ke BSI programnya harus lebih maju lagi dari sebelum migrasi.

Murizal, saat ini bekerja sebagai salah seorang bagian IT di Net TV Aceh.

Salah seorang pengusaha kopi Arabika, Syabryandi (35), sudah melakukan migrasi ke BSI rekeningnya juga sangat terbantu dengan transaksi yang dilakukan.

“Paling saya kalau perlu tinggal ambil uang pakai ATM,” ujar Sabry, saat ditemui di kediamannya di Dusun Cut Hamzah, Gampong Lheu, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Kata dia, selama menggunakan BSI belum ada kendala, dan sangat mendukung bisnis yang dilakoninya dengan menggunakan BSI untuk transaksi.

“Untuk BSI mobile saya belum buat,” jelasnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Irham Fahmi menungkapkana, kiranya dengan adanya Program BSI ini mampu menjaga stabiltas perekonomian Provinsi Aceh yang selama Pandemi Covid 19 mengalami kelesuan.

“Pihak BSI mampu memberikan bantuan krdit lunak atau sejenis KUR yang mampu menolong ekonomi masyarakat bawah (grassrot) sehingga angka kemiskinan menjadi berada di posisi actual expected,” ujarnya.

Diatakan, sejauh ini kinerja dari BSI belum benar-benar mampu memperlihatkan bukti kinerja karena usia yang masing sangat muda, namun seiring waktu tempaan dan kematangan akan diperoleh.

“Tentunya kesempatan dan kepercayaan public jangan disia-siakan, apalagi dalam era direct information saat ini, maka masyarakat Aceh menjadi sangat kritis dalam melihat setiap perubahan yang ada,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakannya, BSI juga diharapkan mampu mendorong membuka lapangan kerja dengan pemberian pinjaman dalam bentuk kredit dengan tingkat margin yang rendah, saat ini angka kemiskinan 17%, pengangguran bertambah 6.800
orang atau tingkat pengangguran terbuka (TPT) Februari 2021 sebesar 6,30 persen.

“Dengan adanya BSI diharapkan mampu membangun mekanisme yang bisa menurunkan angka kemiskinan tersebut,” harapnya.

Kepala Bank Indonesia Provinsi Achris Sarwani, menyampaikan BSI bersama bank syariah lainnya dapat lebih berperan dalam menjalankan fungsi intermediasi dan menjadi sumber pembiayaan pembangunan maupun aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih luas di seluruh wilayah Aceh.

selain itu, kapabilitas BSI sebagai bank besar nasional dan memiliki jaringan yang luas, baik domestik dapat bermitra dengan Bank Aceh Syariah sebagai bank milik pemerintah daerah, harus lebih mampu mendorong penguatan pelaku ekonomi Aceh. Sehingga lebih produktif dan mampu bersaing di level lokal, nasional maupun domestik.

“Dengan bersama seluruh stakeholders terkait, mewujudkan terbentuk dan berjalannya ekonomi dan keuangan syariah di provinsi Aceh sejalan dengan kekhususan sistem syariah di wilayah Aceh,” harapnya.

Tambahnya, terbentuknya ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang berbasis teknologi digital menjadi salah satu target milestonenya.

Achris Sarwani, menambahkan, BI Aceh memiliki tugas sebagai otoritas sistem pembayaran, pengedaran uang Rupiah, dan bermitra dengan OJK untuk stabilitas sistem keuangan.

Seluruh bank yang beroperasi di Aceh pasti terkait dengan 3 area tugas BI tersebut.

“BI harus menjalankan peran sebagai mitra bagi perbankan di Aceh, agar secara efektif bank dapat menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan (intermediasi) dan melakukan pembiayaan terhadap sektor ekonomi produktif milik
masyarakat dan pemerintah di wilayah Aceh,” tutupnya.

Sebelumnya, Regional CEO BSI Aceh Nana Hendriana pernah menyampaikan, tetap memberikan kemudahan bagi nasabah BSI di Aceh dan tidak mempersulitnya. Apalagi pasca migrasi ke BSI. (*).