Harga Pinang Merangkak Turun

Biji Pinang/ist

HARIANRAKYATACEH.COM – Belakangan harga biji pinang bulat maupun yang sudah dibelah dibeli pedagang pengumpul di Pidie Jaya menurun, setelah sebelumnya atau sekitar sebulan lalu normal. Walau pun begitu karena permintaan luar negeri seperti India dan Pakistan belum begitu lancar, sehingga pedagang enggan menyetop dalam jumlah besar. Saat ini harganya berkisar Rp18.000-Rp20.000. Sementara sebelumnya rata-rata Rp 25.000.
“Harga biji pinag selama ini turun,” kata seorang pedagang.

M Yusuf CA, satu-satunya pedagang pengumpul hasil bumi terbesar di Pidie Jaya kepada Rakyat Aceh, menuturkan, ekses dari wadah corona sangat terasa dialami dunia perdagangan. Apalagi pengiriman barang antar negara lumpuh total. Hanya baru dalam beberapa bulan terakhir.

Lanjut Yusuf, suasana mulai berubah secara perlahan-lahan kendati terkadang naik turun atau belum normal hingga seratus persen.

“Yang penting bagi petani hasil bumi terjual, walau agak murah,” kata Yusuf.
Saat ini mulai mendingan dibandingkan ketika mulai merebaknya virus corona tahun 2020 lalu. Kala itu, harga biji pinang paling tinggi dibeli dari petani hanya Rp 12.000 perkilogram. Beberapa bulan berikutnya harganya naik menjadi Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per-kg. Katagori Rp 13.000, jika kondisi pinang 50 berbanding 50. Artinya, sebagian bagus dan sebagian kurang bagus.

“Sementara yang harganya Rp 15.000/kg dimaksudkan, 75 persen kondisinya bagus dan hanya sekitar 25 persen kurang bagus,” jelasnya.

Biji pinang yang telah dikupas kulitnya, yang dibeli dari wilayah Pidie Jaya dan Pidie, sebut Yusuf, selanjutnya dibawa pulang ke Deah Teumanah Trienggadeng untuk proses lanjutan (dijemur).

“Jika permintaan pedagang Medan-Sumut dalam bentuk biji sudah dibelah, maka langsung mengupahkan kepada warga setempat yang mayoritas ibu rumah tangga (IRT) untuk membelahnya,” ungkapnya.

Dari sini juga pihaknya harus mengeluarkan biaya lagi untuk ongkos belah yang berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per-hari/orang. Dari satu sisi, Yusuf mengaku lega atau senang. Karena usaha dagang yang digelutinya dapat menampung tenaga kerja yang tentunya menambah pendapatan keluarga bagi puluhan warga Gampong Deah Teumanah dan desa sekitarnya. “Setiap hari rata-rata 10 orang IRT bekerja membelah pinang,” imbuh Toke Sop yang juga menampung hasil bumi lainnya.

Beberapa warga Meurahdua dan Meureudu yang ditanya Rakyat Aceh secara terpisah membenarkan, bahwa belakangan harga biji pinang sedikit menurun dan itu dinilai wajar-wajar saja. Amatan wartawan harian ini, mayoritas penghasil pinang di Pidie Jaya adalah gampong belahan selatan. Kecamatan Trienggadeng antara lain, sejumlah gampong dalam Kemukiman Puduek dan Peulandok. Kecamatan Ulim, antara lain Blang Cari, Bidok, Pantang Cot Baloi, Cot Seutuy, Blang Rheue dan Reulet.

Bandarbaru, kawasan Kemukiman Jiemjiem, Kemukiman Cubo dan kawasan Musa. Bandardua, kawasan Kemukiman Ulee Gle Tunong, Ulee Gle Timu dan Ulee Gle Barat. Meureudu, Kemukiman Beuracan dan Kemukiman Manyang. Meurahdua, Kemukiman Kuta Rentang dan Kemukiman Kuta Baroh. (mag87/rus)