Tubuh Lansia Mati Sebelah Setelah Divaksin 

HARIANRAKYATACEH.COM – Seorang pria lanjut usia (lansia) stroke diduga setelah disuntik vaksin Covid-19. Saat dia terbaring lemah dirawat di RSUD Aceh Tamiang. Dia adalah Kek Ponidi (74) warga Kampung Afdeling Selele, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

Menurut keluarga, Ponidi divaksin pada hari Jumat (2/7) pagi, di Kampung Alur Selalas tetangga Kampung Selele. Menjelang siang dia bersama warga lainnya pulang dari mengikuti vaksin. Sampai di rumah ia mandi lalu pergi ke Masjid untuk menunaikan Salat Jumat.

“Tapi bapak tidak mampu berjalan lagi, berhenti duduk di warung akhirnya tidak jadi Salat Jumat,” ucap sang istri.

Artinya selang beberapa jam setelah vaksin Ponidi mengalami gejala gangguan kesehatan yang serius. Kemudian Supariah menceritakan, malam Sabtu suaminya sempat dibawa ke Puskesmas. Oleh bidan ditensi darah dan diberi obat. Tidak menginap habis diperiksa disuruh pulang.

“Tengah malam mau ke kamar mandi kaki kakek sudah tidak bisa untuk jalan. Hari Sabtu (3/7) sudah lumpuh total. Sempat di kusok juga baru hari Senin (3/7) dibawa ke rumah sakit,” ulasnya.

Diungkapkan, organ tubuh Ponidi lumpuh separuh tidak bisa digerakan pasca beberapa jam dia mendapat suntikan vaksin Covid-19. Padahal sebelum divaksin Atok ini sehat walafiat dan mampu bekerja di kebun.

“Dari tangan badan hingga kaki sebelah kiri mati sebelah, tidak bisa digerakan,” kata dia.

Supariah dan anaknya Listiani sangat terpukul melihat kondisi ayahnya stroke mendadak usai divaksin. Sebab, Ponidi selama ini adalah andalan tulang punggung keluarga. Atas kejadian ini, pihak kelurga menyatakan tidak terima dan akan menuntut pihak tim vaksinasi Aceh Tamiang agar bertanggungjawab.

“Kakak saya yang di Malaysia dia paling tidak terima kali dengan kejadian ini. Dia yang suruh kami harus menuntut,” kata Listiani.

Kek Ponidi sambil terbata menuturkan, abis divaksin kepalanya merasa pusing sekali. Dia pulang dalam keadaan oyong. “Habis disuntik saya duduk sebentar beberapa menit, terus pulang naik mobil pikap rombongan warga Selele,” tuturnya.

Pria uzur ini pun mengaku sudah dua kali divaksinasi Covid-19. Pertama vasinasi massal di Kantor Camat Karang Baru pada awal bulan Juni dan vaksin kedua di Kampung Alur Selalas pada Jumat (2/7) pagi. Ponidi disuntik vaksin oleh perawat perempuan. Dia pun tidak tahu merek vaksin apa yang masuk ke tubuhnya. Sebelum disuntik lansia ini hanya ditensi darah. Saat ini kondisi kesehatan Ponidi mengalami stroke berat dan sulit berbicara normal.

“Saya disuntik tangan sebelah kanan, tapi yang tidak bisa bergerak separuh badan sebelah kiri. Saya hanya ingin sembuh kembali agar bisa kerja menderes karet lagi,” harap Atok Ponidi.

Hasil diagnosa dokter spesialis saraf yang merawat Ponidi menyebutkan, pasien menderita SNH (stroke non hemoragik). SNH merupakan kategori stroke berat.

“Lemah anggota gerak sebelah kiri, stroke berat lah. Tensinya sudah bagus, yang menangani dokter Anwar spesialis saraf,” ujar perawat di meja informasi ruang Muda Sedia RSUD tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, Ibnu Azis dikonfirmasi mengatakan, prosedur vaksinasi tetap dijalankan oleh tim medis sebelum menyuntik, meliputi cek kesehatan seperti tensi darah. Jenis vaksin yang disuntikan ke tubuh lansia dan orang muda pun sama yaitu merek Sinovac.

“Diceklah. Kita tanya terus kesehatannya. Kalau tidak ada riwayat penyakit lain, tekanan darah normal, atau sebatas yang bisa kita vaksin kita lakukan vaksin. Tidak terlalu intensif kali,” kata Azis.

Awalnya, menurut Ibnu Azis, ada program vaksinasi khusus lansia, namun sekarang para lansia sudah digabung sama rata dengan masyarakat umum di atas usia 18 tahun demi untuk memenuhi target vaksinasi di Kabupaten Aceh Tamiang.

Namun sejauh ini Ibnu Azis belum mendapat informasi terkait lansia yang stroke sehabis divaksin. Dia berpendapat jika dapak gejala muncul 1-2 jam setelah vaksin kemungkinan itu karena vaksinnya.

“Namun kalau stroke setelah sehari vaksin, belum tentu itu akibat vaksin, bisa saja ada faktor lain,” sanggahnya.

Mantan Direktur RSUD Aceh Tamiang ini menambahkan, terkadang habis divaksin orang tidak apa-apa sebenarnya. Kondisi kesehatan seseorang bisa down ketika takut berlebihan mendengar informasi tentang vaksin.

“Seperti paranoid sendiri jadinya kalau mendengar cerita orang memang,” ujar Ibnu Azis. (mag-86)