56 Tahun Fakhri Husaini, Selamat Ulang Tahun

MOMEN- Fakhri Husaini foto bersama keluarga besar tim sepakbola PON Aceh pada perayaan ulang tahunnya ke-56, di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Selasa (27/7). FOTO: ICHSAN MAULANA/RAKYAT ACEH

Stadion Harapan Bangsa (SHB) di Lhong Raya, Banda Aceh pada Selasa 27 Juli 2021, menjadi saksi sejarah bagi 56 tahun perjalan karier putra Aceh, Fakhri Husaini. Sosok yang harum namanya berkat segala prestasi, baik sebagai pemain maupun pelatih timnas Indonesia, di pagi yang terik itu, merayakan ulang tahun di stadion kebanggan masyarakat Aceh.

Laporan: Ichsan Maulana – BANDA ACEH

Prit.. Priit.. Priit.. peluit panjang ditiupkan Amiril Mukminin sebagai penanda berakhirnya latihan pagi itu. Amiril bertindak sebagai wasit, lantaran Kapten Tim PON Aceh ini masih didera cedera.

Para pemain, staf kepelatihan hingga Ketua PSSI Asprov Aceh, berhamburan ke pinggir lapangan, seraya menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Mata Novieta Tri Hastuty tampak berkaca-kaca, ia tetap tersenyum sambil mengabadikan momen tersebut lewat ponsel pintarnya.

Sementara itu, Syahmi tampak kalem dan larut mengamati momen berharga tersebut. Novi dan Syahmi adalah istri dan anak dari Fakhri Husaini.

“Ini menjadi bagian dari perjalanan bagi saya, bisa merayakan hari ulang tahun bersama istri dan anak, di Aceh. Menjadi pesepakbola/pelatih profesional, harus siap dengan kondisi begini,” kata Pelatih Sepakbola PON Aceh, Fakhi Husaini di hadapan timnya.

Perayaan ulang tahun kali ini, dimaknai penuh rasa syukur olehnya. Bagi Fakhri, setiap helaan nafas diminta pertanggung jawaban oleh-Nya. Itulah mengapa, ia mengajak semua pihak untuk merefleksi diri, saban hari lahir.

“Hakikatnya ulang tahun itu bukan bertambah usia, tapi berkurang. Saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Kita harus mensyukuri nikmat Allah SWT, apapun yang telah diberikan; usia terutama,” terangnya.

Ulang tahun ke 56 terasa lebih memorable, karena Fakhri menikmati status baru; pensiun sebagai karyawan PT Pupuk Kaltim. Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang ia dapat sebagai karyawan BUMN.

“Ke depan apapun yang saya lakukan tidak lagi terikat oleh protokoler BUMN. Tapi sebagaimana manusia biasa, apapun yang kita lakukan ada batasannya,” jelas lelaki yang lahir pada 27 Juli 1965.

Staf pelatih dan pemain, menghadiahkan kue ulang tahun dengan dekorasi lambang Pancacita. Suguhan itu, mendapatkan apresiasi darinya. Belakangan, selama di Aceh, Fakhri tampak lekat dengan simbol ke-Acehan.

Jaket timnas Indonesia yang ada lambang Garuda, ia tambahi dengan bordir Pinto Aceh di sebelahnya. Bahkan, masker yang dikenakan Fakhri juga tertera ornamen Pinto Aceh. Menjadi Aceh adalah anugrah, dan segala prestasi yang telah ia raih, tak lepas dari rasa syukur.

“Saya tidak pernah berhenti bersyukur atas banyak sekali kenikmatan. Meskipun ada juga ujian-ujian yang menyertai perjalan saya,” terang Fakhri.

Tujuh talam nasi briyani yang dimasak ala Timur Tengah, menjadi sajian penutup bagi keluarga besar PON Aceh. Hidangan tersebut, dipersiapkan Arek Suroboyo, Novi untuk perayaan hari penting suami terkasih.

Sejak awal, staf kepelatihan; Mukhlis Rasyid, Azhar, Amiruddin dan istri dari Fakhri Husaini tampak bersekongkol untuk memberikan surprise pada sosok yang terkenal profesional itu.
Saat ini, doa dan ikhtiar terus dilakukan, Fakhri Husaini ditargetkan bisa membawa tim sepakbola PON Aceh hingga partai puncak di PON Papua. Andai ini bisa terealisasi, menjadi kado indah untuk ulang tahun serta pelengkap prestasi baginya. Sebelumnya, Fakhri sudah pernah membawa timnas Indonesia juara di kelompok umur. (rif)