Dokter Umum Ikut Pelatihan Kegawatan Bedah Saraf

Dinkes Pidie Bersama IDI dan Perpebsi

Simposium bersama dokter umum dalam pelatihan kegawatan bedah saraf bersama Dinas Kesehatan Pidie, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perpebsi. Foto istimewa

HARIANRAKYATACEH.COM – Pemkab Pidie melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie menggelar simposium mini yang bertema “Neuro-Emergency Service” (Pelayanan Kegawatan Bedah Saraf) di Aula Dinas Kesehatan Kabupate Pidie, Senin (26/07/21).

Kegiatan ini sebagai upaya menekan tingginya angka kematian akibat Stroke, Cedera Kepala dan Tulang Belakang, Tumor Otak, Hidrosefalus dan kasus-kasus Bedah Saraf lainnya.

Dalam pelaksanaannya, Pemkab Pidie bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cab. Pidie dan Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi) cabang Aceh agar kegiatan dapat berlangsung optimal, efektif dan efisien.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie dr. Arika Husnayanti Aboebakar Sp.OG(K) mengatakan, Pemda sudah melakukan yang terbaik dengan adanya dokter spesialis bedah saraf di kabupaten ini dan akan terus menyediakan fasilitas yang terbaik untuk pelayanan kegawatdaruratan kasus-kasus bedah saraf. Saat ini hanya ada 6 tenaga ahli Bedah Saraf di Aceh, 5 diantaranya bekerja di RSUZA dan RS Kesdam Iskandar Muda di Banda Aceh, jadi saat ini praktis Pidie adalah satu-satunya kabupaten yang memiliki sendiri tenaga ahli Bedah Saraf di Aceh.

“Simposium Mini ini diselenggarakan untuk sharing ilmu kepada dokter umum yg ada di puskesmas dan RSUD dan juga dokter umum yang ada di RS swasta. Diharapkan dapat memberikan ilmu penatalaksanaan tindakan emergensi pada pasien Stroke, Cedera Kepala dan Tulang Belakang dan kasus Bedah Saraf lainnya yang memiliki angka kematian yang tinggi di Pidie. Terlebih di masa pandemi, kita harus memperhatikan hal ini karena pasien yang mempunyai komorbid sangat mudah untuk penularan covid 19 dan jika terpapar akan sangat cepat terjadi perburukan. Seperti kita ketahui dua komorbid terbesar Covid-19 adalah juga faktor resiko pada Stroke, yakni Hipertensi dan Diabetes Melitus. Jadi selain Cedera Kepala dan Tulang Belakang, penanganan Stroke ini juga sangat penting. Angka kematian akibat Stroke sangat tinggi di kabupaten Pidie ini”, lanjut dr. Arika yang juga Ketua IDI cabang Pidie ini.

IDI Cabang Pidie memfasilitasi acara ini dengan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Kapasitas peserta dibatasi 20 orang dan peserta wajib dilakukan swab antigen terlebih dahulu sebelum masuk tempat simposium. Tidak tanggung-tanggung, simposium sehari ini mendatangkan tiga dokter Bedah Saraf sekaligus sebagai pemateri.

Dua diantaranya utusan dari Perspebsi Aceh, yakni dr. Zainy Hamzah Sp.BS dan dr. Syafrizal Aboebakar, Sp.BS, seorang ahli Bedah Saraf senior di Indonesia yang berdarah Pidie. Kemudian dr. T. Jauhardin, Sp.BS, ahli Bedah Saraf dari RSU Cik DiTiro, Pidie. Acara yang ketat prokes ini berlangsung sukses terlihat dari tingginya antusiasme peserta dalam sesi tanya jawab.

Simposium mencakup penanganan awal di IGD pada Stroke, Cedera Kepala dan Tulang Belakang akibat kecelakaan, dan penanganan Hidrosefalus (penumpukan cairan otak di kepala).

Ketua Perspebsi Aceh DR. dr. Imam Hidayat, M.Kes, Sp.BS(K) menyampaikan, saat ini tenaga ahli Bedah Saraf di Pidie hanya 1 orang sementara jumlah penduduk mencapai hampir 450 ribu jiwa menurut data tahun 2019 BPS Aceh, dan di Aceh hanya terdapat 6 orang ahli Bedah Saraf untuk 5,3 juta jiwa atau 1 tenaga ahli Bedah Saraf untuk 883 ribu penduduk Aceh.

“Akibat kelangkaan ini, penatalaksanaan bermutu tinggi dan unggul di garis depan yakni para dokter umum sangat besar perannya dalam menentukan prognosis (harapan kesembuhan) pasien. Kita berharap kegiatan ini dapat lebih diintensifkan lagi di masa-masa mendatang”, ujarnya. (imj)