Di Simeulue, Uang Receh Kurang Peminat

Eri Suprianto, memperlihatkan uang receh dan uang lusuh‎ yang dismpan. Senin (2/8). Ahmadi - harianrakyataceh.com

HARIANRAKYATACEH.COM – Duit receh atau uang logam (koin), sulit dijadikan sebagai alat tukar resmi saat transaksi antara pembeli dan pedagang lokal di 10 Kecamatan dalam  Kabupaten Simeulue. ‎

Bahkan pedagang ada secara berterus terang dan juga secara halus menolak transaksi menggunakan uang receh nominal Rp 500 – Rp 1.000, meskipun pedagang dan warga mengakui salah satu uang dalam bentuk logam itu, merupakan mata uang resmi Negara Indonesia.‎

‎Sejumlah pedagang lokal di Simeulue menolak uang receh sebagai alat transaksi resmi, dengan alasan repot untuk disimpan, sehingga meskipun uang logam itu tercecer atau terjatuh diarea terbuka, seperti dijalan umum tidak mendapat perhatian, sehingga dibiarkan saja tergelak uang sah tersebut.

Karena pedagang sering menolak uang receh sebagai alat transaksi resmi itu, juga tukang parkir juga menolak uang receh sebagai biaya ‎parkir, kecuali uang kertas dengan nominal Rp 1.000, meskipun kondisi fisik uang kertas tersebut telah kumal dan rapuh.

“Uang receh atau uang koin itu gak laku dan gak bisa untuk membeli barang. Contohnya saja uang receh itu kita temukan dijalan, dibiarkan saja sebab dalam pikiran kita itu uang tidak laku, bahkan uang logam itu tidak menarik minat anak-anak, kecuali uang kertas, padahal nominalnya sama‎ saja”, kata Fikar, warga kota Sinabang, kepada harianrakyataceh.com, Senin (2/8).

Hal senada juga disampaikan Eka Sastra, yang mengaku banyak simpan uang receh yang tidak diterima sebagai alat tukar yang sah. “Saya perna kasih uang koin untuk biaya parkir, tapi petugas parkir itu tak terima, alasannya tidak laku, tapi anehnya uang kertas yang sudah lusuh diterima petugas parkir itu”, katanya yang ditemui terpisah harianrakyataceh.com, Senin (2/8).‎

‎Terkait uang receh kurang peminat bahkan sering ditolak sebagai alat transaksi resmi itu, juga dialami Afrizal, ZA  Kepala Cabang Bank Aceh Syariah di Simeulue, yang ditemui harianrakyataceh.com, diruang kerjanya Senin (2/8).‎

‎”Saya sendiri heran, kenapa uang logam di Simeulue tidak diterima sebagai alat tukar resmi dan sah, dan saya perna berdebat dengan pedagang, padahalkan antara uang logam dan kertas sama-sama masih diakui. Serta mata uang dalam bentuk logam lebih tahan lama, dibandingkan dengan mata uang dalam bentuk kertas”, kata Afrizal.‎

‎Masih menurut Afrizal, ZA ‎didampingi Teuku Rajuli, Kasi Operasional‎ Bank Aceh Syariah, mengaku terkejut saat pertama kali ditugaskan ke Simeulue, kemudian belanja di pasar lokal dan pedagang tidak menerima receh sebagai alat transaksi, sementara dipasar yang ada  pulau Sumatera, uang receh tersebut masih diterima.

“Meskipun uang logam tidak diterima sebagai alat tukar resmi, namun bila ada warga yang mau dan berminat untuk menukar uang koin itu, silakan datang ke Bank Aceh Syariah, disini tersedia stok. Serta untuk aturan atau hukum yang menolak uang logam itu bukan ranah saya, itu ada pihak lain yang bisa menjelaskannya‎”, imbuh pemilik 37 ribu nasabah itu di Kabupaten Simeulue.

‎Selain itu dia mengaku khawatir kondisi fisiki uang kertas yang beredar dalam Kabupaten Simeulue, diperkirakan capai satu persen telah lusuh, rapuh dan rusak, sehingga diharapkan pihak Bank Indonesia (BI) untuk melakukan operasi penukaran uang di wilayah kepulauan Simeulue, disebabkan terakhir BI tukar uang sebelum pandemi Covid19.(ahi).