Kejari Tetapkan Lima Tersangka” Kasus Dugaan Korupsi Monumen Islam Samudera Pasai

HARIANRAKYATACEH.COM – Akhirnya, Kejaksaan Negeri Aceh Utara menetapkan lima tersangka yang terlibat kasus dugaan korupsi Pembangunan Monumen Islam Samudera Pasai di Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Akibat kasus dugaan tindak pidana korupsi itu telah menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 20 miliar.

Sementara kasus proyek pembangunan tersebut mulai dilakukan penyelidikan sejak Mei 2021. Sedangkan, lima tersangka yang terlibat yakni berinisial F selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Ir N selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Ir P selaku pengawas serta dua rekanan yang berinisial R dan T.

Demikian disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara, Dr Diah Ayu Hartati, SH.,MHum dalam konferensi pers dengan awak media di kejaksaan setempat, Kamis kemarin.

Ia mengatakan, pembangunan proyek itu dilakukan sejak tahun 2012 hingga 2017 lalu, dengan total anggaran mencapai Rp 49.162.787.000. Sementara pihak pelaksana proyek dilakukan bertahap oleh beberapa perusahaan.

Diah Ayu Hartati juga menjelaskan,

untuk tahun 2012 dana proyek itu sebesar Rp 9,5 miliar yang dilaksanakan oleh PT PNM. Kemudian, proyek berlanjut pada tahun 2013 sebesar Rp 8,4 miliar dikerjakan oleh PT LY dan tahun 2014 dilaksanakan oleh PT TH dengan jumlah anggaran Rp 4,7 miliar. Selanjutnya, proyek di tahun 2015 senilai Rp 11 miliar dikerjakan oleh PT PNM, tahun 2016 dikerjakan PT TH sebesar Rp 9,3 miliar dan proyek tahun 2017

dilaksanakan oleh PT TAP dengan anggaran Rp 5,9 miliar.

Disebutkan, untuk penyelidikan kasus dugaan tindak pidana korupsi itu dimulai pada Mei 2021. Kemudian, ditingkatkan statusnya ke tahap penyidikan pada awal Juni lalu. ” Dalam proses penyidikan itu, kita juga telah memeriksa saksi-saksi, ahli, dan juga kita telah berkoordinasi dengan BPKP menyangkut perhitungan kerugian negara,”ungkap Diah didampingi tim penyidik dan Kasubag Bin Abdullah.

Selain itu, lanjut dia, berdasarkan hasil penyidikan dan pemeriksaan di lapangan terhadap proyek Pembangunan Monumen Islam Samudera Pasai juga ditemukan dugaan penyimpangan dan perbuatan melawan hukum. Bahkan, kondisi proyek juga sangat memprihatikan karena pondasi bangunan sangat lemah dan sangat membahayakan jika terjadi gempa.

“Kami melihat sebagian bangunan sudah retak dan bergeser. Termasuk pekerjaan tanah yang seharusnya 12.800 meter kubik, tapi kenyataan di lapangan hanya 3.000 meter kubik. Sehingga ini sangat mengkhawatirkan untuk keselamatan dan juga telah terjadi adendum terhadap perubahan desain,”jelasnya.

Kajari juga menyatakan, proyek pembangunan Monumen Islam Samudera Pasai di Kecamatan Samudera Aceh Utara ini telah ditemukan sejumlah poin penyimpanan. Bahkan, sudah memenuhi unsur dugaan korupsi dalam pelaksanaan proyek itu dengan sengaja yang memperkaya diri sendiri dan orang lain. (arm/icm)