Era Digital, Aceh Siap-siap Analog Switch Off

HARIANRAKYATACEH.COM – Aceh, menjadi salah satu prioritas tahapan 1 menuju Analog Switch Off (ASO) migrasi ke TV digital, Bahkan, dua wilayah Aceh Besar dan Kota Banda Aceh menjadi percontohan. Di tanggal 17 Agustus 2021 nanti kedua wilayah tersebut sudah full digital.

Laporan Rusmadi, Banda Aceh

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesi Provinsi Aceh (KPIA), Faisal Ilyas, menyampaikan, KPIA sejauh ini terus berkolaborasi kepada pihak Kominsa Aceh, Banda Aceh dan Aceh besar untuk melakukan sosialisasi secara masif.

“KPIA telah melakukan beberapa pertemuan stakeholder pemerintah, lembaga penyiaran publik, dan lembaga penyiaran swasta untuk membantu mensosialisasikan migrasi tv digital,” jelasnya.

Dikatakan, pada tahap awal ini, ada 5 Provinsi dan 15 kabupaten kota yang menjadi fokus awal.

Tahap kedua di Desember 2021, ke-3 Maret 2022, ke 4 Agustus 2022 dan berakhir paling telat di November 2022.

“Pemanfaatan frekuensi semakin efisien, sehingga kedepan masyarakat semakin mudah akses internet karena frekuensi yang tidak padat lagi,” jelas Faisal.

Masih kata Faisal, yang pasti tv digital, gambar lebih jernih, suara lebih bening dan teknologi lebih canggih.

Meskipun, untuk mendapatkan siaran tv digital tersebut, masyarakat membeli alat yang namanya set top box.

Mantan Ketua KPI Provinsi Aceh, Said Firdaus, menyampaikan, migrasi ke tv digital sebagai sebuah adopsi yang positif. Di negara-negara maju sudah mulai Analog Switch off (ASO).

“Dampaknya yang positif kita meninggalkan analog dan menuju digital yang penggunaannya itu bisa mendapatkan banyak siaran,” jelasnya.

Dikatakan, dengan migrasi tentu masyarakat harus menukar apa yang dinamakan dengan set top box untuk mendapatkan siaran.

Untuk itu ia berharap bagaimana pemerintah dapat membantu subsidi industri, sehingga harga yang dijual kepada masyarakat tidak terlalu mahal.

“Ini ibarat televisi bergerak bisa dinonton di dalam mobil, seperti hp bisa kita bawa kemana saja,” jelas Said Firdaus.

Selain sisi positif juga ada sisi negatifnya, sisi negatif mengenai dengan ekonomi di mana masyarakat harus membeli sesuatu supaya siaran tv kembali bisa ditonton.

Lanjutnya, pembahasan migrasi tv digital sudah sejak 2004 dibicarakan, jadi bukan hal yang baru. Saat ini uupenyiaran Indonesia belum ada, hanya kesepahaman untuk mengadopsi teknologi penyiaran saja.

Dikatakan, Aceh sebagai zona 1, dari Multifleksing (mux) tersebut yang bisa mendapatkan banyak layanan informasi.

Untuk itu ia berharap jangan ada monopoli frekwensi dari penyelenggara mux siaran televisi digital tersebut.

Pun demikian, tambahnya, televisi masih menjadi sebuah perangkat yang paling mudah dijangkau dan diakses masyarakat Aceh.

Terpisah, Anggota Komisi I DPRA, Bardan Sahidi, mengungkapkan, ada kelebihan dengan gambar yang canggih dengan menggunakan tv digital. Aceh masuk regional 1, di Sumatera.

“Waktu nya sudah mepet karena tanggal 17 Agustus 2021 tidak lama lagi, kita sudah digital, Aceh Besar dan Banda Aceh daerah percontohan,” jelasnya.

Politisi PKS ini menambahkan, pada 17 Agustus, kalau bisa di lembaga penyiaran pemerintah, lembaga publik maupun swasta lebih awal menyiarkan dengan serentak sebagai bentuk dukungan.

“Kalau bisa tanggal 17 Agustus penayangan perdana secara serentak,” harap Bardan.

Pun demikian lanjutnya, masyarakat diharuskan membeli set top box untuk menuju analog switch off tersebut, yang sebelumnya boxster.

“Mungkin TV produk pengeluaran 2020 ke atas sudah mulai digital tidak payah beli set top box,” jelasnya.

Dikatakan, hal ini sudah pernah dibicarakan dengan KPIA, migrasi ke TV digital, selama ini juga belum ditemukan kendala atau masalah.

“Kita apresiasilah KPIA, Diskominsa Aceh yang telah terlibat untuk membahas hal ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, bila tidak mau migrasi ke tv digital, maka akan ditinggalkan penonton dan rating TV analog semakin ketinggalan.

“Digital bukan ganti televisi,” jelasnya.

Kepala Dinas Kominfo Kota Banda Aceh, fadhil, menyampaikan, rencananya migrasi ke TV digital ada di 5 provinsi, salah satunya provinsi Aceh.

“Namun saya dengar ASO tanggal 16 Agustus, akan ditangguhkan, atau ditunda,” jelasnya.

Dikatakan, sesuai surat masuk dari KPIA, untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui camat dan kepala desa sudah disampaikan.

Ia berharap, menuju ASO dari pusat pemerintah atau melalui lembaga penyiaran dapat memberikan bantuan kepada masyarakat alat set top box tersebut.

“Paling tidak bantuan ini melalui SCR lembaga penyiaran,” harapnya.

Dikatakannya, Pemko Banda Aceh siap mendukung migrasi TV digital dari TV analog.

“Saya sudah beli set top box, gambarnya lumayan bagus, dapat 24 siaran,” jelas Fadhil.

Sementara itu, Jusri (50), warga Dusun Said Usman, Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, mengaku tidak mengetahui dengan nama atau istilah sekarang. Asal bisa nonton televisi sudah lumayan.

Kata Jusri, suami dari Kambariah ini, biasanya menonton televisi hanya pada malam hari sambil istirahat bersama keluarga.

“Kalau ada yang payah beli alatnya supaya warna dan suara jernih terpaksa lah beli alat,” ungkapnya.

Diakuinya, saat ini belum menggunakan TV digital masih TV tabung dengan menggunakan Boxster.

“Jangan habis kita beli itu nanti payah beli yang lain lagi,” cetus Jusri.

Menurutnya, tahun 80 an masih televisi hitam putih yang ditonton, dengan kecanggihan teknologi beralih televisi warna dan jernih, kemudian kecanggihan itu, kembali beralih ke digital.

“Mudah-mudahan kami yang miskin ini berharap ada bantuan dari pemerintah untuk membeli alat tersebut,” ujarnya. (*).