Heboh Prasasti Hilang, Tokoh Masyarakat : Prasasti Lahirnya Pemko Subulussalam Hilang Kok Diam

Azhari Tinambunan (tengah) saat memberi keterangan menanggapi hilang nya prasasti

HARIANRAKYATACEH.COM – Baru-baru ini heboh dengan hilang nya prasasti gedung milik Pemerintah Kota Subulussalam. Salah satu nya prasasti tribun lapangan Beringin. Hebohnya prasasti yang diduga di bongkar orang tak dikenal itu disaat mantan Walikota Subulussalam H. Merah Sakti melihat langsung ke tribun lapangan beringin. Di sana, Merah Sakti yang merupakan mantan Walikota dua periode itu terlihat menunjukkan bekas prasasti yang dibongkar orang tak dikenal.

Bahkan, Merah Sakti menyayangkan prasasti semasa ia menjabat itu hilang. Karena, menurut Merah Sakti prasasti merupakan catatan sejarah yang mesti di jaga.

Menanggapi hal itu, seorang tokoh masyarakat, Azhari Tinambunan mengapresiasi langkah Merah Sakti yang begitu peduli terhadap prasasti. Namun, Azhari Tinambunan juga menyayangkan sikap Merah Sakti kurang peduli di saat prasasti lahir nya Pemerintah Kota Subulussalam yang ditandatangani langsung oleh Widodo Adi Sutjipto selaku Menteri Dalam Negeri ad-interim hilang disaat ia menjabat sebagai Walikota.

” Pak Merah Sakti kita ketahui menjabat selaku Walikota Subulussalam dua periode atau 10 tahun. Nah, di sini saya juga mempertanyakan dimana keberadaan prasasti lahirnya Pemko Subulussalam. Hilangnya prasasti tersebut di masa pak Merah Sakti menjabat dan menurut saya prasasti itu punya nilai sejarah di banding prasasti gedung yang di tandatangani pak Merah Sakti ” ungkapnya saat ditanyai, Jumat (7/8/2021)

Menurut pria yang akrab disapa Buyung Bahagia ini, jika prasasti yang ditandangani Merah Sakti itu hilang masih bisa di tempah ulang mengingat posisi Merah Sakti berada di Subulussalam, namun berbeda dengan prasasti lahirnya Pemko Subulussalam yang ditandatangani Widodo AS dan tidak mungkin di tempah ulang dan ditandatangani oleh Widodo AS. Masih menurut Buyung Bahagia, beberapa tokoh masyarakat mengetahui prasasti lahirnya Pemko Subulussalam itu hilang di era Merah Sakti namun tak ada upaya untuk mencarinya dan terkesan hanya dijadikan ajang pembicaraan setiap menjelang peringatan lahirnya Subulussalam.

Buyung Bahagia yang juga mantan anggota DPRK semasa Subulussalam masih bergabung dengan Aceh Singkil ini juga berharap agar jangan membawa sentimen pribadi dengan menyalahkan pemimpin sekarang ” mari kita sama-sama membangun daerah ini. Beri saran kepada pemerintah jika ada hal yang perlu di perbaiki ” tambah Buyung.

Buyung juga menilai pernyataan Merah Sakti yang selalu menyebut bahwa ia selaku pejuang lahirnya Pemko Subulussalam juga aneh. Sebab, pejuang lahirnya Pemko Subulussalam bukan hanya Merah Sakti tetapi banyak tokoh yang terlibat memperjuangkan lahirnya Pemko Subulussalam, ” termasuk saya juga ikut memperjuangkan lahirnya Pemko Subulussalam. Lahirnya Pemko Subulussalam ini bukan karena perjuangan satu kelompok tapi banyak pejuang-pejuang yang tidak mau menyebutkan dirinya sebagai pejuang ” tandas nya.

Menyikapi surat Merah Sakti ke Kapolres terkait hilangnya prasasti tersebut, Buyung Bahagia juga menilai kurang relevan (lim)