Wabah Ngorok Tewaskan Kerbau Warga Simeulue

Hasrat Abubakar, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Simeulue.

HARIANRAKYATACEH.COM – ‎Sepakan terakhir, wabah penyakit “Ngorok” atau nama lainnya penyakit ‎Septicaemia Epizootica (SE)‎, telah menewaskan kerbau milik warga Kabupaten Simeulue.

Penyakit “Ngorok” tersebut hanya butuh waktu sekitar 10 menit hingga 20 menit menyerang dan menewaskan kerbau, sehingga telah mengkhawatirkan pemilik ternak kerbau di kawasan Desa Lataling dan Pulau Bengkalak, Kecamatan Teupah Selatan.

‎Wabah pnyakit Ngorok yang sedang menyerang ternak warga itu, dibenarkan Hasrat‎ Abubakar Kepada Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Simeulue, kepada harianrakyataceh.com, Rabu (11/8).

“Kita telah mendapat laporan bahwa wabah penyakit ngorok atau SE sedang menyerang ternak kerbau milik warga di dua desa, yakni desa Lataling dan desa pulau Bengkalak, Kecamatan Teupah Selatan. Wabah penyakit Ngorok itu telah terjadi sekitar 4 hari lalu”, katanya.

Dia menyebutkan, ternak kerbau yang mati diserang penykit ngorok itu  kurang dari 10 ekor dan sebelumnya diduga ternak kerbau itu belum mendapat vaksin, padahal dari total 28.000 ekor kerbau di Kabupaten Simeulue, sekitar 70 persen telah divaksin.

Wabah penyakit Ngorok terbesar iperna terjadi pada tahun 2018 lalu dan sebanyak sekitar 10.000 ekor kerbau mati, dan pihak Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Simeulue meminta kepada pemilik ternak untuk mengkandangkan kerbaunya serta ikut serta membantu petugas saat hendak divaksin.

Wabah penyakit Ngorok yang menyerang ternak kerbau, muncul saat memasuki musim penghujan setiap tahunnya, dan penyakit tersebut menular kepada ternak kerbau atau ternak sapi, bila bangkai ternak tersebut tidak dikubur dan dibiarkan membusuk di area terbuka.

Kerbau Yang Mengidap Penyakit Ngorok Masih Bisa di Konsumsi

Kerbau yang terserang penyakit ngorok dan belum mati, masih aman untuk dikonsumsi, dengan persyaratan setelah dipotong, kerbau tersebut digantung dengan posisi terbalik, kepala kebawah dengan tujuan untuk menguras darah kerbau hingga tetes darah terakhir atau darah dalam tubuh kerbau telah zero.

“Masih bisa dikonsumsi kerbau yang diserang penyakit ngorok itu, tapi dengan persyaratan yang wajib dipenuhi. harus digantung dengan posisi terbalik atau kepalanya kebawah, untuk memudahkan pengosongan darah hingga tetes darah terakhir dan benar-benar zero darah”, imbuh Hasrat Abubakar. (ahi)