PM Malaysia Muhyiddin Yassin Mundur Senin Besok

Muhyiddin Yassin melambaikan tangan di luar rumahnya di Kuala Lumpur, Sabtu (29/2). Dia menjadi PM baru menggantikan Mahathir Mohamad. (John Shen Lee/AP Photo)

HARIANRAKYATACEH.COM – Tak tahan goncangan, Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin dilaporkan akan melepas jabatannya pada Senin (16/8).

Informasi tersebut pertama kali dicuatkan oleh situs lokal, MalaysiaKini.

Muhyiddin mundur setelah kehilangan mayoritas dukungan di parlemen Malaysia, karena perselisihan dalam koalisi yang berkuasa.

Tidak segera jelas siapa yang dapat membentuk pemerintahan berikutnya, karena tidak ada anggota parlemen yang memiliki mayoritas yang jelas di parlemen. Kemungkinan pemilu dapat diadakan di Malaysia di tengah pandemi, juga masih belum jelas.

Semua tergantung pada Raja Malaysia, Sultan Abdullah Riayatuddin Mustafa Billah Shah untuk memutuskan apa yang terjadi selanjutnya.

Menteri Di Departemen (Fungsi Khusus) Perdana Menteri Mohd Redzuan Md Yusof mengungkap, rencana tersebut disampaikan Muhyiddin saat bertemu dengan anggota parlemen Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) di markas Perikatan Nasional (PN), Minggu (15/8) pagi.

“Kami baru saja menyelesaikan rapat. Besok, akan ada rapat kabinet khusus. Setelah itu, Muhyiddin akan menuju Istana Negara untuk mengajukan pengunduran dirinya,” kata Redzuan kepada MalaysiaKini, Minggu (15/8).

Muhyiddin Yassin memimpin Malaysia pada Maret 2020 dengan mayoritas tipis, dan membentuk kabinet Perikatan Nasional.

Tekanan terhadap Muhyiddin meningkat, setelah beberapa anggota parlemen dari partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) yang merupakan blok terbesar dalam koalisi yang berkuasa, menarik dukungan.

Selama berminggu-minggu, Muhyiddin menentang seruan untuk mundur. Dia mengatakan, akan membuktikan mayoritasnya di parlemen melalui mosi tidak percaya pada September mendatang.

Namun pada Jumat (13/8), Muhyiddin mengakui untuk pertama kalinya dia tidak memiliki mayoritas. Dia melakukan upaya terakhir untuk merayu oposisi, dengan menjanjikan reformasi politik dan pemilihan dengan imbalan dukungan pada mosi percaya.

Tawaran itu ditolak dengan suara mentah-mentah oleh kalangan oposisi.

Raja Malaysia memiliki kekuatan konstitusional untuk menunjuk seorang perdana menteri, dari anggota parlemen terpilih, berdasarkan siapa yang menurutnya dapat memimpin mayoritas.

Sultan Abdullah menunjuk Muhyiddin sebagai Perdana Menteri Malaysia tahun lalu, setelah Mahathir Mohamad mengundurkan diri secara mendadak. (rmid)