Vaksinasi Covid-19 dan Prokes Cara Tepat Untuk keluar dari Wabah Pandemi Covid-19

Dosen FKM Unmuha Vera Nazhira Arifin, MPH

Banda Aceh – Jumlah kasus infeksi virus corona di Provinsi Aceh mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir (17/8/2021). Bahkan berdasarkan data dari dinas kesehatan (Dinkes) Aceh pada minggu ini mencapai rekor tertinggi kasus terinfeksi covid (dengan 411 kasus harian) di Provinsi Aceh.

Sebabnya, banyak menilai rendahnya kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan kesadaran masyarakt yang masih rendah dalam melakukan vaksinasi covid19, ikut berkontribusi dalam kenaikan kasus terinfeksi covid19 di Aceh.

Maka dari itu, kondisi seperti ini diperlukan kerjasama semua pihak untuk melakukan pencegahan agar semua masyarakat bisa memutus rantai penyebaran covid19.

Berdasarkan data terakhir dari Dinkes Aceh cakupan vaksin covid19 di Provinsi Aceh baru sekitar 710.617 (17%) untuk vaksin dosis 1 dan 352. 092 (9%) orang yang telah divaksin lengkap dari target PemProv sekitar 4 juta orang. Angka ini tentu saja masih sangat jauh sekali dari target yaitu 4 juta jiwa penduduk Aceh.

Maka dari itu, perlu sinergitas dari semua pihak dari berbagai institusi dan gampong agar semua masyarakat Aceh mau melakukan vaksin Covid-19. Misalanya Peran kampus, sekolah dan peran dayah/pesantren yang juga sangat diperlukan, agar semua anak anak kita bisa belajar kembali secara tatap muka tanpa rasa takut. Prokes dan cakupan vaksin yang masih rendah menyebabkan penularan semakin tidak terkendali di Aceh.

Vaksin menjadi penting dalam pengendalian covid19, dengan vaksin resiko tertular virus corona menjadi lebih kecil. Andai tertular covid19, resiko mengalami gejala yang lebih beratpun menjadi lebih rendah. Berdasarkan data, rata rata orang yang sudah vaksin dan terinfeksi covid19 hanya mengalami gejala ringan.

Dinas kesehatan Provinsi Aceh sudah sangat pro aktif untuk menyediakan pelayanan vaksin untuk masyarakat. Begitu juga sudah seharusnya kita sebagai masyarakat memanfaatkan ini. Walau bagaimana pun tentu saja kita semua ingin keluar dari wabah ini tetapi kita perlu ikhtiar lebih banyak, perlu niat yang kuat dan belajar mendisiplinkan diri. Vaksin adalah salah bentuk ikhtiar kita untuk mengakhiri pandemi ini. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang melakukan vaksinasi , maka akan terbentuk Herd immunity (kekebalan berkelompok).

Sebagai Provinsi yang menerapkan syariat Islam, tentu saja ikhitiar sangat diwajibkan dalam kondisi ini untuk melindungi sesama terlebih untuk orang orang disekeliling kita yang sangat rentan terhadap virus covid ini, seperti Lansia, orang dengan comorbid, ibu hamil dan anak anak. Dengan vaksinasi kita melindungi kaum rentan ini dan juga meringakan beban kerja para tenaga kesehatan (nakes).

Vaksin juga aman dan halal, apabila ada reaksi muncul setelah vaksin adalah wajar. Walaupun lebih banyak yang tidak mengalami reaksi apa-apa setelah vaksin dibandingkan yang mengalami KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi). Tetapi banyak orang yang terinfeksi covid19 yang wafat dikarenakan belum melakukan vaksin covid19. Reaksi yang muncul setelah vaksinasi jauh lebih ringan dibandingkan terkena covid-19 atau komplikasi yang disebakan oleh virus covid 19.

Berdasarkan data sekitar 90% pasien dengan gejala berat dan akhirnya meninggal dunia disebabkan oleh comorbid dan belum melakukan vaksinasi covid19. Sebagai seorang muslim Kita wajib ikhtiar sebagai bentuk keimanan kita terhadap sang pencipta. Menghindari kemudharatan yang besar adalah keharusan.
Semua ahli sepakat, untuk keluar dari pandemi ini melakukan vaksinasi covid19 dan penerapan protokol kesehatan (menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan) adalah cara yang paling tepat. Jangan menunggu besok atau minggu depan, segera datangi gerai-gerai vaksin yang sudah tersebar di wilayah anda. Mari akhiri pandemi bersama sama, niatkan apa yang kita lakukan hari ini adalah sebagai bentuk tanggung jawab dan bentuk keimanan terhadap Allah SWT. Amin.

Oleh: Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh, Vera Nazhira Arifin, MPH