Ribuan Anak Aceh Tamiang Tidak Melanjutkan Sekolah

Siswa siswi SMP mengunjungi gedung DPRK Aceh Tamiang untuk mengetahui Tupoksi kerja anggota dewan, belum lama ini. IST/RAKYATACEH.COM

HARIANRAKYATACEH.COM – Meski berbagai kebijakan pemerintah untuk meningkatkan keberhasilan pendidikan terus dilakukan. Namun kenyataannya menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada laporan Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Aceh Tamiang 2020, setengah penduduk berumur 5 tahun ke atas status pendidikannya sudah tidak bersekolah lagi.

Adapun jumlah persentasenya sebanyak 66,15 persen dengan klasifikasi jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang hampir sama besar pada tahun 2019. Artinya tanpa disadari ada ribuan anak baik tingkat SD tidak melanjutkan ke SMP dan seterusnya yang perlu diketahui apa faktornya.

Hal itu diungkapkan Anggota Komisi I DPRK Aceh Tamiang, Jayanti Sari dalam perbincangan dengan harianrakyataceh.com di Karang Baru, Sabtu (21/8/2021).

Dengan tidak mengenyampingkan program-program pendidikan selama ini, namun Jayanti menegaskan hasil laporan BPS 2019 itu tentunya wajib menjadi perhatian.

Diketahui saat ini jumlah sarana pendidikan di Aceh Tamiang terdapat 325 sekolah terdiri dari 192 SD, 83 SMP dan 50 SMA sederajat yang tersebar di 12 kecamatan. Di mana, jumlah penduduk terbanyak berada di kategori umur 5-9 tahun atau tingkat SD.

“Sebesar 15,79 persen anak umur 5 tahun ke atas masih bersekolah SD sederajat, sebesar 4,54 persen status pendidikannya tidak/belum pernah sekolah, sebesar 3,96 persen masih bersekolah di jenjang SMA sederajat dan sebesar 2,62 masih berstatus sekolah di jenjang Perguruan Tinggi.” beber Jayanti Sari mengutip data BPS Aceh Tamiang.

Dewan yang membidangi masalah pendidikan ini sangat menyayangkan dunia pendidikan Aceh Tamiang yang terlihat baik-baik saja namun faktanya sangat ironis dengan tingginya angka anak tidak menyambung sekolah.

“Fakta ini tentunya menjadi faktualisasi yang ironis. Jika dilihat dari jumlah persentase tersebut dan rentang usia maka dibutuhkan kolaborasi stakeholder untuk mengatasi persoalan klasik dunia pendidikan ini,” imbuh politisi PKS ini.

Menurut dia, persoalan pendidikan tidak dapat kita abaikan. Dibutuhkan kebijakan tepat, program yang jelas dan pengawasan yang berjenjang untuk menekan angka tersebut. Seperti tertuang dalam UU Nomor 20/2003 tentang Pendidikan Nasional dan PP Nomor 47/2008 tentang Wajib Belajar.

Terkait hal ini, Jayanti Sari menyatakan telah meminta file data dari Disdikbud Aceh Tamiang untuk mengetahui daerah mana saja yang tinggi kasus angka putus atau tidak melanjutkan sekolah serta indikatornya.

“Saya berharap dinas mempunyai data tersendiri untuk kita bisa melakukan pemetaan angka putus sekolah. Data itu harus per kecamatan atau wilayah hulu dan hilir untuk dibuat perbandingan data. Jadi dinas tidak hanya mengandalkan data pokok pendidikan (Dapodik) yang bersifat global per kabupaten,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Tamiang, Abdul Muthalib menjelaskan, penyumbang terbesar angka 66,15 persen terkait anak tidak melanjutkan sekolah adalah tamatan SMA rentang usia 18 tahun yang tidak menyambung ke Perguruan Tinggi.

“Betul 66,15 persen itu tamatan SMA yang tidak menyambung, bukan anak usia di atas 5 tahun seperti tamatan SD dan SMP,” jelas Abdul Muthalib.

Perlu diketahui, kata Abdul Muthalib, anak SMA yang menyambung kuliah setiap tahunnya hanya berkisar 35 persen, sementara 65 persen sisanya memilih berkerja tidak melanjutkan pendidikan.

“Jadi kalau dicek dalam satu SMA paling yang nyambung ke Perguruan Tinggi hanya 15-30 persen,” ungkapnya.

Namun berdasarkan angka partisipasi sekolah (APS) tahun 2020 diambil dari data pokok pendidikan (Dapodik) bahwa anak usia 7-12 tahun baik laki-laki dan perempuan yang bersekolah sebesar 99,66 persen.

“Kalau yang disinggung anak usia di atas 5 tahun tingkat TK kami tidak punya datanya. Tapi untuk jenjang SD dari angka partisipasi murni (APM-Dapodik) mencapai 99,15 persen. Kalau pun ada anak tingkat SD tidak bersekolah lagi, tapi persentasenya sangat kecil, kan,” terang Abdul Muthalib. (mag-86)