Dana Paskibra Bener Meriah Dipotong Rp150 Juta

Riga Wantona pelatih Paskibraka Bener Meriah

REDELONG (RA) – Pelatih Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kabupaten Bener Meriah, Riga Wantona, sesalkan pemotongan anggaran biaya pelatihan sampai insentif untuk pasukan pengibar bendera senilai Rp 150 Juta.

Kepada Rakyat Aceh Selasa (24/8) Riga Wanton yang juga merupakan Ketua HPBM ini menyebutkan, anggaran biaya pelatihan sampai insentif pasukan pengibar bendera yang diisi puluhan generasi muda Bener Meriah telah disunat.

“Iya benar, anggaran Paskibra dipotong sampai Rp150 juta yang seharusnya Rp600 juta menjadi Rp450 juta,” ujarnya.

Disebutkannya, pemerintah daerah beralasan anggaran tersebut dipotong lantaran terkena aturan refocusing. “Saat pertama kali pihak kami pelatih berdiskusi dengan pemerintah daerah yang diwakili Sekda dan Asisten III. Mereka menjelaskan anggaran tersebut dipotong karena refocusing,” ujarnya.

Namun katanya tidak dijelaskan lebih jauh direfocusing untuk program apa. “Saat itu kami menolak, namun pemerintah daerah tetap saja melakukan pemotongan, dengan berbagai alasan, salah satunya adalah membayarkan gaji honorer,” tambah Riga.

Pihaknya juga mengaku memahami keharusan pemerintah daerah untuk melakukan refocusing pada beberapa program sesuai peraturan menteri keuangan namun pihaknya menyesalkan kenapa harus program Paskibra yang disunat anggarannya.

Ia menambahkan, pembelian mobil baru pejabat, termasuk Sekda jumlah anggarannya miliaran tapi tidak di refocusing. “Kan aneh, memilih refocusing anggaran untuk pelatihan Paskibra yang peruntukannya untuk memeriahkan perayaan hari Kemerdekaan Indonesia,” ujarnya

Untuk itu pihaknya mengaku sangat kecewa kepada Pemerintah daerah yang lebih memilih menyunat program yang peruntukannya untuk kepentingan orang banyak dengan alasan refocusing dan mempertahankan program yang memanjakan pejabat.

Sementara itu, Kepala Dinas Keuangan Bener Meriah, Marwan menyebutkan, Menko PMK memerintahkan setiap daerah refocusing delapan persen anggaran.

“Refocusing itu adalah merupakan perintah PMK, sehingga kita harus melakukan refocusing dan kita telah memberitahukan kepada dinas,” ungkap Marwan.

Ia menambahkan, dari Rp600 juta anggaran Paskibra, disahkan sebanyak Rp450 juta jadi sisanya itu direfocussing untuk pelaksanaan tes CPN.

“Salah satunya dan Paskibra yang direfocussing untuk pelaksanaan perekrutan tes CPNS, dan juga untuk memberikan gaji tenaga pendidikan yang honor yang tidak teranggarkan,” jelas Marwan.

Marwan menerangkan, refocusing itu dilakukan sesuai kebutuhan dan kemampuan sehingga pihak dinas menyampaikan kegiatan apa yang direfocussing.

“Berdasarkan hal itu, karena tahun ini paskibra kegiatannya tidak sepadat tahun-tahun sebelumnya karena Pandemi COVID-19, maka Rp600 juta terlalu besar sehingga kita revisi dan itu juga pertimbangan agar tidak memberatkan dinas terkait,” pungkas Marwan.

Menurutnya, pemangkasan anggaran yang direfocusing, tentunya melalui hasil rapat dinas dengan tim TAPD, dalam hal itu tim menanyakan kepada dinas apakah dengan anggaran yang ditetapkan setelah direfocussing mampu untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

“Kita memanggil dinas, jika sebelumnya dialokasikan anggran Rp600 juta namun direfocussing dengan anggaran Rp450 juta apakah dinas tersebut mampu melaksanakannya, jika mereka menyangupi ia dilaksanakan,” tegas Marwan. (uri/min)