Jadikan Hardikda Momentum Evaluasi

HARIANRAKYATACEH.COM, BANDA ACEH – Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh tahun 2021 yang diperingati setiap tanggal 2 September hendaknya menjadi momentum mengevaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan terus mutu dan kualitas pendidikan Aceh. Demikian disampaikan Kepala SMA Modal Bangsa, Jamaluddin, S.Pd.

“Hari Pendidikan Aceh 2 September 2021 ini bisa menjadi momen yang tepat untuk berembuk mengevaluasi meningkatkan terus mutu dan kualitas pendidikan Aceh. Pendidikan Aceh tidak mungkin digerakkan hanya pada segmen tapi harus bersama,” katanya, ujarnya Minggu (5/09/2021).

Menurutnya, untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan harus ada kepedulian bersama. Pendidikan itu tidak boleh dinikmakti segmen-segmennya saja, tetapi harus menyeluruh dan utuh.

Maka itulah, penting mengevaluasi, tapi bukan hanya kemajuan pendidikan sekarang ini dan ke depan, melainkan bagaimana pendidikan masa lalu dengan serba tidak lengkap – terutama menyangkut fasilitas – tetapi bisa maju. “Hari kita serba lengkap tapi masih macet.

Terkadang, ada yang menyalahkan kekurangan fasilitas dan segala macam. ” Tapi komitmen kita tidak perbaiki. Masa lalu orang tua kita kuat di komitmen. Mungkin hari ini kita lemah di komitmen,” katanya.

Terkait evaluasi, sebutnya, bukan hanya anak-anak sudah pandai ilmu matematika atau kimia. “Karakter dan moral harus kita evaluasi, karena kerinduan orang Aceh itu pada moralitas, keagamaan dan adat istiadat,” katanya.

“Mari kita reduksi diri, melihat secara bersama-sama di mana titik lemah. Kalau ingin baik dan kuat, perbaiki kelemahan. Bukan menuding kekuatan,” katanya.

Kecuali itu, katanya, peringatan Hardikda akan menyentuh jika dilaksanakan menurut adat-istiadat kita. “Misalnya, perangkat upacara dengan penggunaan pakaian adat Aceh. “Dulu pernah dulu kita buat”, sebutnya.

Lebih lanjut disaampaikan, proses belajar dan mengajar di SMU Modal Bangsa tetap berjalan dengan baik, meski pandemi corona virus desease 2019 (Covid-19) masih belum berkesudahan. Tentunya dilakukan dengan mengikuti regulasi pemerintah, sesuai perkembangan zona.

Ia mencontohkan, kalau zona merah misalnya, pulang ke rumah dan belajar daring. Begitu juga jika orange, kuning dan hijau tinggal di sekolah (boarding) dan tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan.

Jamaluddin menyebutkan, menyangkut hal tersebut ada paradigma yang berbeda, anak SMU Modal Bangsa yang orang tuanya menengah ke atas tentu sesintif, kepekaan dalam mempelajari regulasi cepat, tanggap serta respek.

“Kita lakukan itu untuk menyentuh kenyamanan semua, berdasarkan kepahaman dan regulasi yang berkembang. Misalnya, zona merah, kita daring. Kalau orange sudah boleh tatap muka,” katanya.

Disinggung minat lulusan SLTP mendaftar masuk SMA Modal Bangsa, sebutnya, setiap tahun cukup tinggi. Begitu juga soal prestasi, baik akedemik maupun ekstrakurikuler cukup banyak dan kerap diraih sekolah ini pada event tingkat provinsi serta nasional.

“Pada 2021 ini prestasi terbaik kita pertukaran pelajar tingkat international ke Amerika, bertambah dari dua menjadi tiga siswa/siswi dan ada lagi yang sedang persiapan ke Jepang,” sebutnya.

Meraih medali pada olimpiade science dan event Kihajar (kita harus belajar) 2020 dapat medali emas. “Sekarang 16 siswa sedang proses event nasional lomba debat bahasa debat Inggris, festival literasi, Kihajar dan 22 siswa mengikuti event science tingkat Provinsi Aceh”, ujarnya.

Lomba Pramuka Penggalangg (LPP) 2020 peringkat satu tingkat Aceh dan ranking dua se Sumatera.
Sedangkan program ke depan untuk meningkatkan terus mutu dan kualitas pembelajaran, Jamaluddin menyebutkan, salah satunya berupaya menata manajemen sekolah dan belajar dengan kondisi kekinian.

Selain itu, memperbaiki sistem dan suasana kesiapan pembelajaran daring maupun luring. “Artinya multi kesiapan pada kondisi sekarang. Tidak boleh kita bilang hanya siap di daring, atau sebaliknya,” ujarnya.

Selanjutnya, berupaya terus ada prestasi – prestasi sekolah dengan pendekatan yang ada, walaupun pendanaan terbatas dan segala macam. Mendukung semua upaya dan program juga sangat diperlukan ketersedian tenaga pengajar atau guru yang cukup. “Ketersedian guru di sekolah masih belum cukup,” katanya. (ps/ka).