Pra Pora III Futsal Aceh Kericuhan Dipicu Kecurangan Wasit

Tangis Haru atlet dan official Bener Meriah saat meninggalkan Stadion Harapan Bangsa Minggu (5/9) sore.

BANDA ACEH (RA) – Dipicu akibat kecurangan wasit Pertandingan Pra Pora III Futsal Aceh Grup D Antara Kabupaten Bener Meriah vs Kota Banda Aceh yang berlangsung di Venue Futsal Hall Serba Guna SHB Lhong Raya Banda Aceh berakhir ricuh, Minggu (5/9).

Sejumlah pemain dan official nyaris baku hantam dengan wasit dan panitia penyelenggara pasca tim futsal Bener Meriah menciptakan gol ke 7 namun tidak diakui dan memberikan fault kepada Banda Aceh serta tidak mengakui gol yang sudah tercipta.

Tangis harus atlet futsal Bener Meriah saat itu pun tak terbendung dan hanya bisa pasrah untuk meninggalkan lapangan stadion harapan bangsa.

Pantauan Rakyat Aceh kericuhan nyaris baku hantam dengan panitia penyelenggara yang dipicu akibat keputusan wasit sudah terjadi di awal pertandingan, namun tidak merubah perilaku wasit yang terus-menerus menyatakan pelanggaran dan memberikan kartu-kartu kuning untuk pemain Bener Meriah.

Dan dari 6 gol yang diciptakan tim tuan Rumah Banda Aceh, 4 gol diantaranya merupakan gol penalti yang diberikan wasit untuk terus menyamakan kedudukan.

“Tim tuan rumah Banda Aceh mendapatkan 6 kali tendangan penalti selama pertandingan berlangsung dan dua tendangan berhasil digagalkan oleh kiper sehingga mereka hanya memperoleh gol 4 gol pinalti saja,” ungkap Armiza Bersah selaku Official tim Futsal Bener Meriah Kepada Rakyat Aceh.

Disebutkanya, untuk mengimbangi gol-gol yang diciptakan Bener Meriah wasit terus memberikan penalti untuk tuan rumah, namun Bener Meriah masih bersabar dan tetap melanjutkan pertandingan.

Ia menambahkan, keputusan wasit semakin menjadi-jadi dan terus menerus memberikan Pool untuk Bener Meriah. “Saat diprotes wasit langsung memberikan kartu tidak hanya kepada pemain, namun kepada pelatih dan official,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya mengaku tidak mau melanjutkan pertandingan yang tidak fair dan akan melakukan gugatan kepada wasit serta menyurati Asosiasi Futsal Aceh (AFA), KONI, Gubernur dan DPRA Aceh.

Menurutnya, keputusan Wasit Zulfikar tersebut telah merugikan tim Futsal Bener Meriah, “Kami akan meminta bukti pelanggaran yang terjadi, ini tidak masuk akal, wasit Zulfikar telah merugikan tim kami,” tambahnya.

Usai mengamankan atlet, katanya Pengurus AFK Bener Meriah juga kembali mendatangi tim panitia namun mereka terus berkilah dan terkesan tidak bertanggung jawab penuh atas kesalahan-kesalahan yang terjadi di lapangan.

“Usai kericuhan tadi, kami sempat bertemu dengan pihak panitia dan perwakilan AFA, anehnya kami diminta untuk menyiapkan bukti video pelanggaran, sementara kami tidak diizinkan untuk mengambil video saat jalannya pertandingan karena dilaksanakan di masa pandemi dan Banda Aceh merupakan zona merah,” jelasnya.

Ia juga mengatakan tidak berkonflik dengan atlet Banda Aceh melainkan dengan wasit dan panitia penyelenggara yang dinilai tidak fair. “Kami juga memiliki dua wasit yang sudah berlisensi nasional dan ikut menjadi official serta menyaksikan jalanya pertandingan,” terangnya.

Untuk itu Armizan berharap adanya keputusan dari pihak panitia penyelenggara dan AFA Aceh terkait kecurangan yang dilakukan oleh wasit.”Gol yang tercipta di sisa waktu satu menit terakhir harus disahkan. Selanjutnya kami meminta KONI, PSSI dan AFA agar melakukan investigasi terhadap keputusan wasit yakni Zulfikar, kami menduga wasit ada unsur kesengajaan yang lebih memihak kepada tuan rumah,” tutupnya (uri/rif)