Kurang Perhatian, Dayah dan Pesantren di Simeulue Terancam Bakal Gulung Tikar

Mus Mulyadi, S. Ag. Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Simeulue‎,‎

HARIANRAKYATACEH.COM – Belasan‎ Dayah dan Pesantren yang beroperasi di Kabupaten Simeulue, kurang mendapat perhatian dan dukungan dari Eksekutif, Legislatif, BUMN, BUMD dan pihak swasta lainnya.

‎Sehingga minim perhatian tersebut, nantinya akan kembali bartambah daftar dayah dan pesantren salah satu tempat generasi muda menimba ilmu di sektor pendidikan bidang agama islam itu, mati suri dan satu persatu bakal gulung tikar, tidak lagi operasional.

‎Sebelumnya ada 13 dayah dan pesantren yang aktif dan operasional, kini hanya 11 dayah dan pesantren yang masih operasional, itupun bakal kembali menyusut bila tidak mendapat perhatian serius dari berbagai pihak dan kalangan yang ada didaerah maupun dari luar daerah.

‎Terkait minim perhatian dan akan bertambah daftar dayah dan pesantren yang bakal gulung tikar Hal itu dijelaskan Mus Mulyadi, S. Ag. Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Simeulue‎, yang dihubungi harianrakyataceh.com, Rabu (8/9).

‎”Benar dayah dan pesantren sangat kekurangan dan sangat minim dana, kurang perhatian serius dari pemerintah maupun pihak lainnya. Dulu ada 13 dayah dan pesantren, kini hanya 11 lagi yang operasional. Padahal disana para generasi muda kita sedang menuntut ilmu agama islam, bila ini tidak mendapat dukungan, bakal bertabah dayah dan pesantren yang gulung tikar”, kata Mus Mulyadi, S. Ag.‎

‎Masih menurut Mus Mulyadi, S. Ag, juga tidak menapik ada dayah dan pesantren yang mendapat bantuan dari Pemerintah, namun dalam bentuk peningkatan bangunan fisik, tidak dalam bentuk peningkatan Sumber Dayanya serta yang rutin mendapat bantuan Pemerintah itu hanya dayah dan pesantren terpadu, disebabkan ada kelas tingkat SD sederajad, SLTP sederajad dan SLTA sederajad.

Mus Mulyadi juga mengaku, ada tenaga pengajar atau ustad yang tidak mendapat honor sepeserpun, disisi lain pihak manajemen dayah ‎dan pesantren tidak memberlakukan iuran, disebabkan santri dan satriawan merupakan dari kalangan keluarga dan orang tuanya  kurang mampu, ekonomi dan ekonomi lemah.

Setidaknya dalam setahun untuk dayah dan pesantren, membutuhkan anggaran untuk biaya operasional berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 100 juta, dan juga diperparah lagi dayah dan pesantren tidak mendapat dana bos, kecuali dayah dan pesantren terpadu yang memiliki kelas ‎tingkat SD sederajad, SLTP sederajad dan SLTA sederajad.

“Dayah dan pesantren tidak ada itu dana bos dari Pemerintah, kecuali dayah dan pesantren terpadu itu ada dana bosnya, kita harapkan juga ada kesetaraan dan minimal Rp 1 juta pertahun untuk santri dan satriawan. Kalau honor untuk tenaga pengajar atau ustad di dayah dan pesantren kecil, memang nol, serta kami sangat berharap ada uluran tangan dari siapapun”, imbuhnya.

Adapun 11 dayah dan pesantren yang masih operasional dengan total sebanyak 755 orang santri dan satriawan yang tersebar di wilayah Kabupaten Simeulue, yakni Al-Fatah. Ma’had Ashabul Qur’an. Hudep Saree. Baitul Qur’an. Nurul Iman Mutiara. Darul Aitami. Syekh Khalilullah.‎ Ma’had Darul Qur’an. Nurul Maghfira dan Syekh Banurullah.

Dari 11 dayah dan pesantren dengan tipe 1 tersebut, ‎sebanyak 82 tenaga pengajar dengan berbagai disiplin ilmu, untuk mendidik ilmu agama islam ratusan santri dan satriawan yang berasal dari 10 Kecamatan dalam Kabupaten Simeulue, termasuk yang berasal dari luar daerah. (ahi).