Pendampingan Catin, Ibu Hamil dan Keluarga Risti Stunting

HARIANRAKYATACEH.COM – Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang mengalami stunting akan lebih rentan terhadap penyakit, dampak stunting tidak hanya berpengaruh pada aspek kesehatan, tetapi juga aspek kecerdasan anak dalam berpikir (BKKBN, 2021).

Kini stunting menjadi salah satu masalah yang cukup membahayakan dan perlu untuk ditangani secara serius, tidak sekedar masalah fisik seseorang tetapi akan meluas menjadi masalah nasional dengan kehilangan generasi (lost generation), sekaligus menjadi beban yang semakin membesar jika tidak dihentikan. Pemerintah Indonesia menargetkan angka stunting menjadi 14% di tahun 2024, presiden menunjuk BKKBN menjadi ketua pelaksana percepatan penurunan stunting bersamaan dengan keluarnya Peraturan Presiden nomor 72 Tahun 2021.

BKKBN melakukan konsep pendampingan pada pranikah, ibu hamil dan pasca persalinan sampai dibawah 2 tahun. Kegiatan pendampingan keluarga merupakan upaya untuk mempercepat penurunan angka stunting dengan melakukan pendampingan melalui kader-kader yang sudah ada di masyarakat seperti kader PKK, bidan dan kader IMP (PPKBD/ Sub PPKBD).

Pendampingan Calon Pengantin (Catin)

Konsep pendampingan calon pengantin yang dilakukan adalah menilai status gizi calon PUS sejak 3 bulan sebelum menikah (pra nikah), sehingga akan terkoreksi sebelum masuk masa pernikahan dan bulan madu.

Pendampingan ini diperlukan karena dilatarbelakangi banyaknya remaja atau Pasangan Usia Subur yang status gizinya ada yang sebahagian anemia, yang kalau tidak dicegah akan berpotensi lahirnya bayi stunting. Mencegah sejak 3 bulan bagi calon pengantin sangatlah penting karena angkanya sangat signifikan untuk keseluruhan stunting dan keseluruhan kelahiran karena jumlah yang nikah dalam setahun sekitar 2 juta pasangan dan yang hamil kurang lebih 1,6 juta hampir sepertiga dari kehamilan keseluruhan se-Indonesia pertahun dari calon PUS baru.

Pencegahan kasus stunting yang dimulai dari hulu yaitu dari calon Pasangan Usia Subur yang menikah sangat penting dilakukan pendampingan, yang tidak membutuhkan waktu lama dan tidak rumit. Penggunaan aplikasi terhadap Pasangan Usia Subur yang dipakai di KUA diminta untuk memasukkan ukuran status nutrisi seperti tinggi badan, berat badan, nilai HB dan lain lain sehingga bisa dinilai status gizi dan bisa dipilah siapa yang harus mendapatkan penanganan. Dari hasil tersebut nantinya dapat dibawa ke forum rembuk stunting, atau semacam audit stunting dimana hasilnya akan dijadikan dasar penanganan bagi yang memiliki masalah tadi sebelum dinikahkan.

Bagi calon pengantin yang memerlukan penanganan seperti mengalami anemia, maka langsung akan dikirimkan modul secara virtual yang terkait dengan cara penanganan anemia seperti aturan minum tablet tambah darah, dimana tempat untuk mendapatkan tablet tambah darah, apakah masih anemia atau tidak. Penilaian dilakukan menjelang menikah bukan untuk menghambat pernikahan tetapi menjadi syarat sebelum menikah dengan menyerahkan formulir tadi secara virtual. Apabila ditemukan calon pengantin yang belum memenuhi syarat tidak akan dilarang untuk menikah, namun dianjurkan pada saat menikah untuk ber-KB terlebih dahulu dengan menggunakan pil atau kondom agar fertilitasnya tetap baik. Dengan melakukan pengisian aplikasi pra nikah tersebut, maka data kesehatan calon pengantin akan dimiliki mulai dari berat badan, kondisi status gizinya, kondisi anemia dan lain-lain. Terobosan ini yang perlu dilakukan dalam pendampingan calon Pasangan Usia Subur. Hal ini merupakan salah satu upaya penurunan stunting di Indonesia yang ditargetkan bisa diturunkan menjadi 14%.

Terobosan yang dilakukan BKKBN ini dengan menggunakan sesuatu yang belum dilakukan sebelumnya, dimana BKKBN sebagai ketua satgas penurunan stunting, itulah pentingnya dilakukan pendampingan pranikah bagi calon Pasangan Usia Subur.

Pendampingan ibu Hamil

Konsep berikutnya adalah pendampingan pada keluarga atau Pasangan Usia Subur yang sedang hamil. Dari hasil aplikasi yang digunakan untuk memonitor sejak calon Pasangan Usia Subur, dipakai oleh tim pendampingan untuk melaksanakan tugasnya mendampingi ibu hamil. Sebagai tim pendampingnya terdiri dari bidan, kader PKK dan kader KB, setiap pendamping memiliki tugas masing-masing dan dipimpin oleh bidan.

Pembagian tugas dilakukan sesuai kemampuannya masing-masing, bidan melakukan tugasnya seperti melakukan pemeriksaan ibu hamil, kemudian memasukkan data-datanya ke aplikasi, sebagai contoh pemeriksaan pada ibu hamil muda data yang di input adalah “kapan hari pertama menstruasi”, kapan perkiraan lahir dan dilihat apakah ada resiko tinggi karena factor usia atau penyakit penyerta lainnya, termasuk juga didata tentang kehamilan berapa, berapa jarak dengan kehamilan sebelumnya.

Dengan adanya pendataan tersebut bidan sudah dapat mengetahui potensi adanya resiko kehamilan, potensi resiko kematian ibu dan bayi serta resiko lainnya pada ibu hamil tersebut. Tugas pendampingan kader PKK dan kader KB dapat mendampingi dan mengarahkan kepada keluarga untuk periksa rutin ke bidan, atau jika perlu penanganan gizi bisa disarankan untuk menemui ahlinya.

Setiap ibu hamil disarankan untuk bertemu dengan bidan 8-10 kali selama masa kehamilan, sehingga ibu hamil dapat terus diikuti perkembangan setiap tri semester 1,2 dan 3. Ada ukuran-ukuran yang harus dicatat. Apabila ditemukan tidak sesuai atau patologis maka ditengarai sebagai calon kasus melahirkan stunting. Hal ini kemudian ditindak lanjuti dengan system rujukan, audit stunting dan rekomendasi apa yang harus disiapkan bagi ibu hamil tersebut.

Pengawalan dengan pendampingan kepada ibu yang sedang hamil ini sangat baik dilakukan karena dapat sekali dayung dua sampai tiga puluh terlampaui. Kita dapat mencegah stunting menurunkan angka kematian ibu (AKI), dan menurunkan angka kematian bayi (AKB) pada 5 juta kehamilan di Indonesia. Derajat kesehatan bangsa ditentukan oleh kematian ibu dan bayi, diharapkan dengan pendampingan ini pemerintah menjadi effisien dan sukses dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia.

Dalam pelaksanaan pendampingan tersebut, BKKBN mengusulkan bantuan berupa paket internet kepada kader dan memberikan stimulant transport/ uang harian yang di usulkan melalui Dana Alokasi khusus. Hal ini diharapkan akan diperoleh kepastian pengawalan stunting, termasuk mengawal apakah pemberian makanan tambahan sampai kepada ibu hamil. Dari pendampingan ini dapat diperoleh data profil antropometri dari bayi (vetus) yang masih ada didalam perut ibu hamil dapat dikawal dengan system yang ketat. Hal ini karena 22,6% bayi lahir di Indonesia masih dalam kondisi stunting.

Konsep pendampingan yang dikembangkan oleh BKKBN yaitu menggunakan orang-orang dan petugas yang sudah dimasyarakat. Tim tersebut terdiri dari kader PKK, Bidan desa, dan Kader KB (PPKBD/ Sub PPKBD). Jika bidan tidak ada maka kepala desa bisa mengangkat bidan swasta menjadi kader pendamping. Tim pendampingan akan mendampingi ibu hamil sampai detik-detik terakhir melahirkan, bila keluarga mempunyai riwayat persalinan sulit pendamping mengarahkan agar melahirkan di Rumah Sakit bukan di klinik bidan.

Pendampingan Pasca Persalinan dan Bayi

Pada saat lahir data anak langsung dicatat termasuk Panjang Badan (PB) jika kurang dari 48 cm dan Berat Badan (BB) dibawah 2500 gr harus selalu dimonitor sehingga kondisi awal bayi yang memiliki indikasi stunting dapat diketahui sejak dini untuk nantinya disiapkan intervensi yang tepat. Tim pendamping juga melaksanakan pendampingan kepada kepada ibu pasca persalinan untuk konseling KB. Pemantapan bagi ibu pasca salin agar mendapatkan akses ber-KB sangat penting, karena pada umumnya semua ibu pasca salin pasti ingin menunda hamil terlebih dahulu dalam waktu 1-2 tahun, namun yang ber-KB 30%. Pemakaian alat/obat KB pasca persalinan berguna untuk menjaga jarak kehamilan/ kelahiran dekat. Menurut penelitian bahwa semakin dekat jarak kelahiran anak maka semakin besar pula potensi terjadinya stunting.

BKKBN mempunyai alat/obat baru yaitu pil progestin only yang bisa dipakai untuk ibu pasca salin dan tidak mengganggu ASI. Selain itu berdasarkan hasil penelitian terbaru bahwa implant juga sudah dapat digunakan untuk ibu pasca persalinan.

Pendampingan juga harus dilakukan pada bayi yang sudah lahir, data yang sudah diinput sejak awal akan menjadi bahan untuk pendampingan awal 1000 Hari Pertama kehidupan (HPK), hal ini sangat berpengaruh untuk mencegah terjadinya stunting. Pendampingan dilakukan sampai dengan sebelum 24 bulan untuk mengawal ASI ekslusif dan makanan tambahan pendamping ASI. Riskesdas tahun 2020 menyatakan kondisi bayi lahir panjang badan kurang dari 48 CM sebesar 22,6% akan tetapi pada usia 24 bulan semakin bertambah menjadi 37%. Hal ini berarti ada kegagalan menangani bayi lahir stunting untuk tidak berlanjut pada perkembangan hidupnya.

Metode perhitungan untuk pendampingan bagi semua ibu hamil yang dilakukan BKKBN adalah dengan menghitung seluruh perkiraan ibu hamil sebanyak 5 juta, kemudian jumlah bidan keseluruhan adalah 450 ribu, yang praktek aktif sekitar 250 ribu berdasarkan data dari IBI. Jika semua bidan yang praktek aktif dilibatkan, maka hanya cukup untuk mendampingi dalam satu tahun sekitar 20 ibu hamil selama satu tahun perbidan. Bila standart yang kita ambil adalah bidan 250 ribu orang maka pendampingan yang kita siapkan juga 250 tim. Hal ini tidak mutlak diikuti karena nantinya akan disesuaikan dengan intervensi anggaran yang tersedia. Setiap tim tidak jalan sendiri-sendiri, namun akan dibagi tugas masing-masing untuk mendampingi keluarga secara berkelanjutan.

Bila tidak punya data real, tentunya perlu kita lakukan estimasi dari data-data yang kita butuhkan, contohnya untuk estimasi calon pengantin di tahun 2017-2018 mendekati angka 2 juta orang yang tercatat di KUA, belum termasuk non muslim dan yang menikah siri. Mengapa kita bisa juga memproyeksikan estimasi kelahiran 1,6 juta karena semua penelitian di multicenter untuk Indonesia 80% pasangan usia subur hamil di tahun pertama atau sembilan bulan pertama. Estimasi ini mungkin bisa membantu menentukan jumlah tim pendamping yang bertugas sebagai pendampingan keluarga yaitu catin, ibu hamil dan ibu pasca salin dan bayi dalam rangka menurunkan angka stunting menjadi 14%.

 

Oleh: Ir. Faizah

(Penyuluh KB Ahli Madya Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh)