Dapat Gelar Doktor, Dua Pengurus MAA Aceh Utara Dipeusijeuk

FOTO BERSAMA- Ketua MAA Aceh Utara, Tgk.H.Usman bersama pengurus berpose dengan Ketua MAA Provinsi Aceh Tgk Yusdedi, usai acara peusijuek dua pengurus MAA yang meraih gelar doktor, Sabtu (25/9). ARMIADI/RAKYAT ACEH.

HARIANRAKYATACEH.COM – Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara, menggelar acara peusijuek terhadap dua pengurus MAA setempat yang sudah mendapatkan gelar doktor. Yakni Dr.Hamdani, MA selaku Kabid Hukum dan Adat serta Dr. Saifuddin Dhuhri, Lc.,MA, Kabid Pengkajian dan Pengembangan MAA Aceh Utara.

Prosesi peusijuek atau tepung tawar itu dilakukan oleh Ketua MAA Provinsi Aceh Tgk Yusdedi bersama penasehat dan Ketua MAA Aceh Utara Tgk.H.Usman di

Victoria Resto, Coffee & Cakes Matang Sagoe, Matangglumpangdua, Bireuen, pada Sabtu (25/9) kemarin. Acara berlangsung dengan tetap mematuhi Prokes Covid-19, seperti memakai masker dan lainnya.

Ketua MAA Aceh Utara, Tgk.H.Usman dalam kesempatan itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua MAA Provinsi Aceh yang telah bersedia hadir untuk melakukan peusijuek terhadap dua pengurus MAA Aceh Utara atas mendapatkan gelar doktor.

” Ini merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi MAA Aceh Utara kedepan, karena sahabat kita sudah berhasil menyelesaikan disertasi sebagai tugas akhir mahasiswa untuk meraih gelar doktor,” ucapnya.

Untuk itu, diharapkan kepada dua pengurus MAA ini agar dapat membantu pihaknya dari segala hal khususnya MAA Aceh Utara dan secara umum MAA Provinsi Aceh. Karena dengan gelar doktor dan ilmu yang sudah dimiliki itu sangat besar manfaatnya demi pengembangan Majelis Adat Aceh (MAA) kedepan.

Sementara itu, Ketua MAA Provinsi Aceh Tgk Yusdedi mengatakan,

kedua pengurus MAA Aceh Utara yang telah dipeusijeuk merupakan orang khusus dan sebagai gudang ilmu. Sehingga perlu dihargai atas gelar doktor yang telah berhasil diraih tersebut.

“Maka hal-hal seperti ini harus kita peusijuek, jangan pernah kita tinggalkan orang-orang yang memiliki gelar doktor sebagai gudang ilmu dan harus kita biasakan untuk peusijuek, karena ini merupakan adat istiadat yang sudah ada sejak zaman dulu sehingga perlu digiatkan kembali di Aceh,”ungkapnya. (arm/icm)