Kearifan Budaya Lokal Mendukung Kelancaran Migas

Oleh: Rusmadi

Harianrakyataceh.com – Ketika bicara kearifan budaya lokal kita akan terbayang tentang kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat di sekitar atau sebuah daerah. Bagi masyarakat Aceh, tidak jauh beda dengan masyarakat di provinsi lain di Indonesia.

Aceh yang dikenal masyarakatnya santun, ramah dan tidak pernah mencari lawan. Prinsipnya, memperbanyak kawan bukan lawan.

Selain itu di Aceh dengan budaya lokalnya sering membuat acara kenduri, baik kenduri hidup maupun kenduri kematian.

Tak hanya itu, dari banyak budaya lokal Aceh yang sudah menjadi kebiasaan dilakukan turun temurun, apakah itu peusijuek (tepung tawari) untuk ucapan selamat atas keberhasilan seseorang maupun sebagai calon linto dan dara baroe supaya selamat dunia akhirat.

Belum lagi, di bulan maulid Nabi ini, banyak masyarakat Aceh merayakannya dengan membuat makanan lengkap dilengkapi lauk pauknya untuk di hidangkan kepada tamu undangan di masjid maupun di mushalla.

Disamping itu juga ahli bait mengundang sanak famili untuk datang ke rumah dan mencicipi masakan yang sudah dihidangkan. Bahkan peringatan maulid di Aceh lamanya tiga bulan, dari bulan Rabiul Awal hingga Jumadil Awal.

Dari gambaran kearifan budaya local, tetap mendukung kelancaran industri migas bumi di Aceh. Tak bisa dipungkiri, orang-orang di sekitar harus diutamakan untuk dipekerjakan.

Namun sekarang dengan semakin transparansinya informasi dalam membuka lowongan kerja (loker) dan perusahaan tersebut mengeluarkan aturan yang sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk jenjang pendidikan bagi calon tenaga kerja dan juga pengalaman kerja.

Dengan demikian, bagi yang memenuhi kualifikasi maka mareka akan dipanggil, diwawancarai dan langsung bisa kerja di perusahaan tersebut. Bahkan yang lolos dan dinyatakan bisa bekerja di perusahaan itu mereka dari daerah lain.

Bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di lingkungan industri tidak punya pekerjaan, kehidupan dan rumah tergolong tidak layak huni.

Menurut hemat saya, inilah yang menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang tidak punya skill (keahlian) dan knowledge (pengetahuan).

Meski pun perusahaan memiliki dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau bentuk tanggungjawab social perusahaan  kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Dan ini harus bisa dimanfaatkan untuk dibangun rumah warga tidak layak tersebut. Namun dana CSR itu juga tidak bisa langsung digunakan karena masuk ke rekening pemerintah daerah terlebih dahulu.

Pembangunan perusahaan PT Medco di Aceh Timur yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas), sangat dirasakan benefitnya oleh masyarakat sekitar maupun pemkab bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Dana bagi hasil (DBH) migas.

Walaupun dana bagi hasil migas sebelum ditransfer ke daerah, awalnya dana ini ada di Menteri Keuangan.

Selain itu paling tidak kita bisa berharap ada penambahan produksi migas barel pertahunnya, bahkan harus lebih meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. Misal rencana produksi migas di tahun 2021 harus lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020.

Sehingga hasil produksi itu perusahaan  melebihi target dan penghasilan bisa membuat perusahaan berlaba.

Sebagai masyarakat yang baik dan memiliki pengetahuan tentu sangat mendukung kelancaran berdirinya perusahaan migas. Tak hanya itu, aspek ramah lingkungan di sekitar industri juga sangat penting diperhatikan. Sehingga masyarakat sekitar akan merasakan aman dan nyaman tidak ada rasa was was.

Menurut hemat saya, dari sisi negatif ada perusahaan yang ingin melakukan investasi namun sudah berapa modal habis duluan hanya untuk mengurus ini itu dengan jumlah ratusan juta, akhirnya rencana pembangunan tersebut batal.

Di sisi lain, positifnya dengan adanya perusahaan tentu bisa membuka lapangan kerja bagi putra putri daerah, dan ini bisa mengurangi angka pengangguran, angka kemiskinan dan taraf perekonomian masyarakat bisa berjalan.

Dengan perhatian perusahaan untuk mempekerjakan  asal putra daerah maka akan menghilangkan image yang sering muncul di tengah masyarakat dengan sebutan Buya Kreung Teudong dong, Buya Tameng Meuraseki (artinya masyarakat sekitar lapar, orang yang masuk ke Aceh makmur).

Jadi, pemerintah harus memberikan peluang kerja kepada warganya sesuai dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki.

Hemat saya, oknum yang melakukan provokasi karena tidak mendapatkan proporsi sebagai tenaga kerja di perusahaan tersebut bukan bagian dari kearifan budaya lokal Aceh.

Di Aceh, tidak ada persoalan bagi perusahaan yang ingin melakukan investasi, asalkan izin operasional dan segala administrasi lengkap. Masyarakat Aceh sangat wel come kepada perusahaan yang melirik daerah Aceh sebagai sumber migas dengan melakukan eksplorasi baik di darat maupun di laut pada jarak 12 mil laut lepas pantai Aceh, walau ini merupakan wewenangan pusat. Namun, Aceh mendapatkan proporsi bagi hasil sesuai ketentuan perundang-undangan.

Minyak dan Gas

Minyak dan gas bumi sebagai Sumber Daya Alam (SDA) yang wajib dilindungi dan dikelola negara untuk kepentingan rakyatnya. Misal di Aceh, pengeboran dan eksplorasi minyak dan gas (Migas) di lepas Pantai Utara, Aceh, yang disebut Blok Andaman II oleh Premier Oil Indonesia selaku Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Wilayah Andaman II berada di lepas pantai utara Aceh tepatnya di lepas pantai Kabupaten Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara. Bahkan pengeboran dilakukan di tahun 2021.

Di Aceh dengan keberadaan (SKK Migas Sumbagut), Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), pengelolaan Blok B Aceh Utara oleh PT Pema Global Energi (PGE), PT Medco di Aceh Timur dan Dinas ESDM Aceh akan lebih memudahkan menyangkut teknis pelaksanaannya.

Kita tahu, dengan adanya program pengembangan masayrakat akan membangunan kesejahteraan dan kemandiraian masyarakat di wilayah operasi hulu migas. Begitu juga, tidak melakukan kegiatan yang merugikan industry hulu migas seperti kegiatan illegal drilling dan illegal tapping (pengeboran minyak secara illegal dan pencurian minyak secara illegal (illegal tapping).

Penulis adalah Jurnalis harianrakyataceh.com