Syech Mulyadi Gandapura : Seudati Aceh, Riwayatmu Kini

Syech Mulyadi Gandapura

HARIANRAKYATACEH.COM – Siapa tak kenal dengan sosok Syech Mulyadi Gandapura. Pelaku seni Tari Seudati ternama asal Bireuen yang mendunia. Beberapa event seni di tingkat Internasional, sudah diikuti diberbagai belahan dunia. Negara Mesir, Qatar, Turky, Malaysia, Thailand, Australia dan beberapa negara lainnya, sudah tidak asing dengan Wakil Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bireuen ini.

 

Kali ini, ia memberikan pemahaman berharga kepada para pecinta seudati. Kupasan menarik tentang salah satu khasanah budaya tradisi Aceh, sangat menarik untuk disimak dan dipelajari.

 

Sambil menikmati secangkir kopi di sudut Kota Bireuen pada Kamis (21/10), sapaan akrab Syech Muli ini, menjelasankan sedikit banyaknya tentang Tari Seudati.

 

“Tari ini sangat merakyat dari semenjak lahir hingga saat ini. Penamaan tari seudati sangat erat kaitannya dengan pengembangan agama Islam di Aceh. Dari berbagai sumber nama tari seudati, diyakini berasal dari bahasa arab, yaitu “Syahadatin” atau “Syahadati”, yang bermakna pengakuan. Sumber lain juga menyebutkan, nama tari seudati adalah saman, sehingga sering kita dengar pada saat bermain seudati di sebutkan “jak meusaman”. Sumber ini memang kurang populer karena tidak ada faktor pendukung yang kuat,” ujarnya.

Syech menyebutkan, untuk membuktikan darimana serta kapan tari seudati lahir, memang belum ada data otentik. Ada yang berpendapat bahwa tari Seudati pada mulanya tumbuh di Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Kemudian berkembang ke desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Sumber lain juga menjelaskan bahwa dasar lahir tari seudati adalah di kabupaten Aceh Utara. Keterangan ini disampaikan oleh almarhum T Alamsyah, salah satu tokoh seudati Aceh asal Kota Lhokseumawe. Menurutnya, benar bahwa Syech Tam berasal dari kabupaten Pidie, tetapi ia mempelajari Seudati di Kabupaten Aceh Utara.

 

“Ketika Syech Tam mempelajari tari seudati, ia dikenal dengan sebutan Syech Tam Pulo Amak dengan aneuk syahi pertama adalah Rasyid yang kemudian popular dengan sebutan Nek Rasyid Bireuen. Melihat dari sejumlah sumber, sepertinya tari seudati muncul di dua kabupaten tersebut, yaitu Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Utara. Ini dikuatkan dengan munculnya syech-syech dari daerah tesebut seperti syech Amat Burak, syech Rasyid Rawa, syech Maun Kunyet dari Pidie, syech Usuh Pandak, syech Puteh Raja Ngang, syech Ampon Nyak, syech Ampon Bugeh, syech Ampon Seuman serta syech Abi Un dari Kabupaten Aceh Utara,” sebunya.

Ia juga mengatakan, ciri khas Tari Seudati adalah heroik, gembira, dan kebersamaan. Disamping itu, tarian ini tidak menggunakan alat musik dan sebagai pengganti para penari membunyikan ketipan jari, hentakan kaki, tepukan dada serta syair-syair yang dilantunkan bertemakan keagamaan atau informasi pembangunan pesan pesan sosial dan sebagainya.

 

“Sewaktu perang Aceh, tari seudati digunakan untuk membakar semangat para pemuda untuk berperang melawan penjajah, sehingga tari ini sangat dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda. Tarian ini dimainkan khusus oleh para pria. Busana tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang ketat, keduanya berwarna putih atau hitam, kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang, rencong yang disisipkan di pinggang tangkulok yang disangkut diatas kepala. Busana seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi berbusana seragam, namun berbeda dengan pemain,” jalas Syech Muli secara detail.

 

Dijelaskan, formulasi penampilan tari seudati memiliki perbedaan berdasarkan keperluan atau kepentingan, misal untuk penyambutan tamu penampilan hanya berdurasi 5-10 menit dengan tampilan bahagian tertentu saja. Selanjutnya, ada yang disebut seudati tunang, ini dimainkan oleh dua grup dengan tampilan bisa semalam suntuk dengan sistim naik turun dan semua rukon dalam seudati harus ditampilkan. Sesungguhnya, seudati tunang adalah ukuran kehebatan dari seorang syech. Selanjutnya, ada istilah seudati festival, sekali tampil sampai selesai dengan memainkan seluruh rukon durasi 20 sampai dengan 30 menit.

Adapun Rukon atau bahagian dari tari seudati berupa, Saleum aneuk syahi, Saleum syech, Bak saman, Likok, Bak saman, Saman dan kisah Chahi panyang lagu atau penutup.

 

Sebuah bentuk seni tradisi yang tumbuh dan berkembang di bagian Aceh pesisir, tari ini merupakan hasil dari perpaduan dan peleburan budaya pasca masuknya Islam ke Aceh. Semua istilah yang semula dari budaya tempatan berubah dan diubah menjadi nama-nama yang bernafaskan Islam. Istilah-istilah Islam atau Arab itu tercermin dari istilah Syech yang berarti pemimpin, Saman yang berarti delapan, dan syair yang berarti nyayian.

 

Selain itu, syair-syair lagu pun dipresentasikan dalam bahasa Arab dan bahasa daerah dengan memuat pesan-pesan dakwah, sehingga pada akhirnya tarian ini dijadikan sebagai media dakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Namun dari masa ke masa, mengalami penambahan fungsi, yaitu sebagai media untuk menyampaikan informasi tentang perkembangan pemerintahan, sebagai media hiburan sekaligus sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan sosial.

 

 

*Perkembangan dan Kondisi Tari Seudati*

 

Tari seudati menjadi sangat populer pada masa syech Ampon Bugeh dari Geurugok, syech Lah Banguna dari Pidie, syech Ampon Mae dari Mulieng, syech Ampon Seuman dari Gedong Pasee dan tentunya syech Lah Genta. Syech Lah Genta telah mempopulerkan tari seudati ke manca negara mulai dari Amerika Serikat, Spanyol, Belanda, Australia, Taiwan dan Malasyia.

 

Situasi ini kisarannya adalah tahun 1990an sehingga popularitas syech Lah Genta menjadikannya sebagai maestro tari seudati. Peranan pemerintah dalam upaya pelestarian tari seudati pada saat itu cukup baik. Hal ini terbukti dengan adanya sejumlah agenda seni yang didalamnya ikut di tampilkan tari seudati terutama pada kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Begitu juga untuk tingkat pemula, terdapat agenda seni lain yang memberikan ruang kepada tari seudati untuk berkembang seperti kegiatan Pekan Olah Raga Dan Seni tingkat sekolah dasar sejak tahun 1968.

 

Bahkan, semasa Gubernur Aceh, Prof Dr Ibrahin Hasan MBA, kegiatan tari seudati menjadi festival tahunan. Namun, kondisi tersebut tidak maksimal sampai sekarang. Kini, hanya tinggal ajang PKA yang masih mewajibkan tari seudati menjadi perlombaan bagi daerah kab/kota, sementara Personi SD telah berganti dengan FLS2N dan tidak lagi mempertandingkan tari seudati sebagai perlombaan wajib. Festival terakhir dan sangat meriah adalah yang dilaksanakan di Pidie oleh Disbudpar Aceh tahun 2019.

 

Era setelah syech Lah Genta, hanya muncul beberapa syech generasi baru yang meneruskan tradisi tari seudati, diantaranya syech Manyak Cut Aceh Utara, syeh Yahya Langsa, syech Hindismi Aceh Barat, Syech Mulyadi Gandapura serta Syech Dan Bireuen.

 

Pasca konflik, situasi tentang keberadaan tari seudati dapat dikatakan lebih parah. Hal ini terbukti dengan pemahaman keliru dari sebagian masyarakat serta lembaga tertentu tentang seudati. Imbasnya adalah adanya pelarangan pementasan tampil pada malam hari. Bahkan, upaya untuk pelarangan permanen dalam berbagai bentuk di daerah tertentu.

 

Peluang bagi pemangku kepentingan tari seudati untuk kembali menemukan jati diri sebagai kesenian tradisi menjadi sangat terbuka, seiring dengan rujukan sistem pelaksanaan pemerintah Aceh mengacu kepada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 Pemerintahan Aceh.

Implementasi aturan tersebut dalam sistem Pemerintahan Aceh telah memberikan ruang dan payung hukum untuk upaya pelestaian budaya secara menyeluruh.

 

Peluang ini hendaknya menjadi momentum untuk menata kembali pelestarian budaya etnis, khusus untuk tari seudati. Upaya pelestariannya tak hanya sekedar adanya festival, tapi perlu semacam terobosan yang menyeluruh dan besifat berkelanjutan dan ini tak hanya tanggung jawab pelaku seni tari seudati semata, tapi perlu semua pihak terutama pemerintah.

 

Sebagai contoh, bila pemerintah mau mengambil sebuah kebijakan bahwa untuk regenerasi tari seudati dapat kiranya materi tari seudati di adopsi dalam kurikulum muatan lokal pendidikan dasar, hal ini cukup di mungkinkan karena struktur kurikulum secara nasional tetap memberikan ruang untuk pengembangan budaya yang bersifat kearifan lokal dan bila ini dapat terlaksana, maka tari seudati akan tetap menjadi seni tradisi yang dapat diketahui, dilakukan serta menjadi ruang pelestarian yang terstruktur dari pemerintah. Namun, bila tidak maka berkemungkinan tari seudati akan hilang di telan bumi. (akh)