Menjaring Aspirasi Guru Lewat Acara Talk Show

Salah satu guru menyampaikan keluh kesah kepada tiga legislator perempuan dalam acara talkshow Hari Guru Nasional ke 76 berlangsung di Aula Kantor Diskominfosan Aceh Tamiang, Kamis (25/11). DEDE/RAKYARACEHONLINE

HARIANRAKYATACEH.COM – Tiga anggota DPRK Aceh Tamiang yakni, Jayanti Sari, Erawati Is dan Tri Astuti bekerjasama dengan Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian (Diskominfosan) Aceh Tamiang menggelar acara talkshow bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke 76 untuk melihat kondisi rill dunia pendidikan di kabupaten ujung timur tersebut.

Talwshow ala tiga dewan perempuan ini mengangkat tema “Legislator Perempuan Tamiang Peduli Pendidikan” dengan menghadirkan nara sumber Dosen Unimal Lhokseumawe, Dahlan A Rahman dan moderator dari pejabat Diskominfo setempat, Neni Sriwahyuni diikuti puluhan peserta dari kalangan guru dan kepala sekolah se-Aceh Tamiang berlangsung selama dua hari Rabu-Kamis (24-25/11) di Aula Diskominfosan Atam.

Ternyata banyak masalah yang dihadapi guru baik di kota maupun di pedalaman terutama masalah nasib guru honorer. Selain itu masalah kesejahteraan guru, sarana dan prasarana juga mengemuka dalam pembahasan di talkshow tersebut.

“Yang muncul rata-rata itu penempatan guru status bakti dan PDPK tidak sesuai prosedur sehingga terjadi kecemburuan sosial bagi guru lama,” kata Jayanti Sari usai talkshow.

Anggota Komisi I DPRK Aceh Tamiang ini juga menyinggung terkait pemetaan guru di Disdikbud Aceh Tamiang tidak ada sehingga tingkat kebutuhan guru untuk masing-masing sekolah belum ada datanya.

“Jadinya pendistribusian guru untuk sekolah perkotaan dan di pedalaman diketahui sangat timpang terkesan menumpuk di daerah kota. Sementara sekolah di desa itu banyak guru bakti, komposisinya banyak guru honor daripada PNS-nya,” ungkap Jayanti.

Anggota Komisi IV DPRK Aceh Tamiang Tri Astuti menyoroti siswa anak berkebutuhan khusus (ABK). Setelah menjaring aspirasi para guru, kata Tri hampir rata-rata sekolah formal yang memiliki ABK tanpa fasilitas dan tenaga pendidik yang memadai. Hal itu membuat kondisi siswa ABK seperti terabaikan.

“Di luar SLB gurunya tanpa memiliki pembekalan untuk mendidik ABK, sehingga kedepan butuh pelatihan untuk guru dan sarpras untuk sekolah umum yang memiliki ABK,” kata Tri Astuti.

Sementara Erawati Is menitik beratkan persoalan yang dihadapi guru tingkat Raudatul Atfal (RA) atau TK harus disetarakan dengan guru kontrak lain, baik mutu pendidikan maupun kesejahteraannya. Ia menilai selama ini terjadi kesenjangan antara guru RA dan guru sekolah negeri yang ada di Aceh Tamiang. Padahal guru RA meski posisinya dibawah naungan Kemenag namun digaji melalui APBK.

“Intinya guru RA dibawah Kemenag jagan dianak tirikan. Kalau ada pelatihan-pelatihan guru diajak mereka karena yang diajar oleh guru RA anak-anak kita juga,” ujarnya.

Moderator talkshow Neni Sriwahyuni menjelaskan acara talkshow ini diinisiasi oleh Jayanti Sari, anggota Komisi I DPRK Aceh Tamiang yang membidangi pendidikan. Kemudian direspon dengan baik oleh dua dewan perempuan lain yang juga peduli dengan dunia pendidikan di daerah.

“Karena bicara pendidikan tidak hanya sekolah dan guru, di dalamnya ada anak-anak yang menjadi objeknya. Perempuan itu adalah seorang ibu juga, itu dasar utama memilih legislator perempuan yang memiliki keterwakilan 30 persesn di parlemen Aceh Tamiang,” ujar Neni.

Menurut Neni Sriwahyuni talkshow ini bertujuan untuk menjaring persoalan langsung dari sumbernya dimomen 25 November 2021 adalah Hari Guru Nasional ke 76.

“Menariknya tiga anggota dewan ini harus memerjer uang pribadinya satu sama lain untuk bisa menjalankan kegiatan talkshow ini. Jadi ini murni dana dari ketiga dewan perempuan tersebut,” sebut Neni. (mag-86)