Balai Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Aceh Adakan Seminar Kesehatan Secara Daring

Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh mengadakan Seminar kesehatan secara Virtual

HARIANRAKYATACEH.COM – “Update informasi terkait covid-19 dan program vaksinasi “. Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh mengadakan Seminar Kesehatan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke 57 yang jatuh pada tanggal 12 November 2021 yang lalu.

Tema yang diusung pada seminar kesehatan yang berlangsung pada Hari Kamis, 25 November 2021 adalah “Understanding the Epidemiology of Covid-19, Sars Cov-2 Mutation and Vaccine Implication.”

Tujuan kegiatan  ini adalah berbagi informasi terkait situasi Covid-19 di Indonesia saat ini, perkembangan mutasi Sars-Cov 2 di Indonesia dan tentu saja upaya yang dilakukan pemerintah terkait pencegahan melalui program vaksinasi, upaya pengembangan dan penyediaan vaksin, serta tantangan dalam pelaksanaan program vaksinasi.

Kegiatan berlangsung secara daring via Zoom Meeting dan juga melalui kanal Youtube Balai Litbangkes Aceh yang dihadiri oleh akademisi, peneliti, instansi terkait, lintas sector, mahasiwa hingga masyarakat umum sejumlah kurang lebih 250 peserta.

Ada 4 narasumber yang menjadi pembicara pada seminar Kesehatan kali ini yaitu Dr. Masdalina Pane, SKM, M.Kes, Msi (Han ) dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Frilasita A. Yudhaputri, M. BiomedSc dari Pusat Riset Biologi Molekuler EIJKMEN Indonesia, Acep Riza Wijayadikusumah, Ph.D dari PT. Biofarma (Persero) dan terakhir dr.Hanif dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh.

Kegiatan ini diawali dengan kata sambutan Ketua Panitia, Nur Ramadhan, Ners, M.Kep dilanjutkan  sambutan sekaligus pembukaan pleh Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh Dr. Fahmi Ichwansyah, S.Kp, MPH.

Dalam sambutannya Kepala Balai Litbangkes Aceh menyampaikan problematika yang kita hadapi pada masa pandemic covid-19 ini banyak hal menjadi poin penting.Secara epidemiologi penyebaran Covid-19 butuh surveilance yang berkelanjutan melalui pelacakan kasus dan testing, data ini menjadi data evidence based dalam kesiapsiagaan dalam menghadapi lonjakan kasus covid-19

Baca Juga...  BEM Poliven Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Timur

. Selanjutnya dalam sambutannya Pak Fahmi juga menyampaikan terkait mutase Sars-Cov 2 ini perlu dideteksi sedini mungkin, tentunya karena proses mutasi sangat cepat agar kita bisa mengantisipasi peningkatan transmisi dan juga keefektifan terapi pada pasien covid-19.

Mengenai vaksinasi yang dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menjaga kekebalan tubuh dan mencapai herd immunity, saangat banyak dinamika yang terjadi dalam proses pelaksanaan yang nantinya akan dijelaskan secara detail oleh pembicara pada seminar kali ini.

Acara berlangsung dalam 2 sesi yaitu panel 1 dimoderatori oleh dr. Nelly Marissa M.Biomed yaitu paparan mengenai pemetaaan Surveilan Covid-19 oleh Dr. Masdalina Pane, SKM, M.Kes, Msi (Han) dan Mutasi Sars-Cov 2 oleh Frilasita A. Yudhaputri, M. BiomedSc.

Paparan Ibu Masdalina menjelaskan tentang perkembangan kasus covid-19 di Indonesia, indikator pengendalian yang digunakan dalam memantau transmisi kasus, dan juga permasalahan terkait data. Salah satunya terkait selisih data yang terlapor dalam sistem pelaporan nasional dengan jumlah kasus aktual.

Beliau juga menjelaskan tentang peta persebaran varian of concern di Indonesia, India dan USA. Menutup paparannya, beliau mengatakan kemungkinan besar kita akan masuk ke dalam masa endemic, yang artinya kita akan hidup Bersama covid-19 tapi kasus nya bisa dikontrol baik itu dengan teknologi, program vaksinasi, dan adanya pengobatan.

Hidup dengan Covid-19 merupakan suatu keniscayaan, dan kita terus berjuang agar pandemic ini bisa dikendalikan dengan baik. Pemateri kedua ibu Frilasita menjelaskan tentang mutasi virus Sars cov 2 yang nantinya sangat berguna untuk membantu kegiatan penanganan Covid-19.

Beliau memaparkan tentang penjelasan tentang virus Sars-Cov2, peran dan manfaat next gene sequencing (NGS),dan update tentang pekembangan Sars-Cov2 di Indonesia. Bahwa virus Sars Cov ini terus bermutasi dan beradaptasi, nantinya yang mendominasi nantinya yang akan menjadi varian of Concern dan saat ini yang umum di Indonesia yaitu varian Alpha, Beta dan Delta.

Baca Juga...  Musannif: Ada nama ASN, Bukti PPP Bukan Eksklusif!

Saat ini varian Delta mendominasi kasus di berbagai wilayah di Indonesia. Pemeriksaan whole genom Sequensing (WGS) sangat penting dilakukan untuk memberikan informasi terkait transmisi dan penyebaran virus sebagai data surveilance, menyediakan data untuk tracking data, akhirnya data WGS ini bermanfaat dalam pengkajian dan mendukung program kesehatan masyarakat dalam penanganan C0vid-19 di Indonesia.

Panel sesi 2 dimoderatori oleh Evan Febriansyah, M.Si dengan paparan tentang upaya pengembangan dan penyediaan vaksin oleh Acep Riza Wijayadikusumah, Ph.D dan tantangan pelaksanaan vaksinasi di Provinsi Aceh oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh dr. Hanif.

Bapak Acep menjelaskan bagaimana vaksin covid-19 begitu cepat karena kebutuhan yang begitu mendesak karena menghadapi kondisi pandemic tapi tetap menggunakan kaidah yang disetujui oleh konsesus yang dilakukan secara parallel dan terstandar tetapi dengan waktu yang lebih singkat.

Saat ini ada 24 vaccine yang sudah diterima di Dunia, termasuk vaksin yang saat ini beredar di Indonesia seperti Sinopharm/Sinovac, Astrazeneca, moderna, dan Pfitzer. Beberapa penelitian saat ini juga mengungkapkan bahwa vaksin yang beredar saat ini cukup efektif dalam memberi perlindungan atau kekebalan terhadap varian Sars-Cov2 di Indonesia.

Akhir paparannya pak acep menghimbau bahwa Ketika masyarakat abai, tidak percaya akan adanya covid, maka kasus covid akan berpotensi semakin meningkat sehingga mari kita saling mengingatkan demi melalui masa pandemic ini. Paparan terakhir oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr hanif menjelaskan tentang tantangan dalam pelaksanaan program vaksinasi covid-19 pada masyarakat Aceh.

Secara umum masalah yang dihadapi tidak jauh tentang isu hoax mengenai vaksin, suplai vaksin dan penolakan vaksinasi oleh masyarakat. Saat ini capaian vaksinasi Covid-19 di Aceh sebesar 37,18%.

Baca Juga...  Musannif: Ada nama ASN, Bukti PPP Bukan Eksklusif!

Langkah-langkah strategis yang ditempuh pemerintah Aceh meliputi Kerjasama dengan TNI/POLRI, mengikutsertakan ulama dalam keiatan, menggalang vaksinasi pada anak sekolah, memberikan penghargaan kepada guru dengan cakupan vaksinasi yang baik, melakukan vaksinasi di pesantren dan menggalang dukungan kepala desa. Kegiatan sosialisasi vaksin masih terus dilakukan hingga saat ini demi mengejar cakupan vaksinasi di provinsi Aceh.

Kegiatan berakhir pada pukul 12.00 wib ditutup oleh koordinator kelompok substansi sarana layanan penelitian dr. Eka Fitria. Harapan kegiatan ini bermanfaat dan semua paparan dari narasumber menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peserta. Beliau juga menghimbau agar kita tetap waspada dan terapkan protocol kesehatan serta melakukan vaksinasi demi terkendalinya kasus Covid-19 di Indonesia.