Reuleut, ‘Hutannya’ Cacao di Pidie Jaya

Seorang warga mengamati tugu Cacao di Gampong Reuleuet Kecamatan Ulim, Pidie Jaya.Rakyat Aceh/Abdullah Gani

MEUREUDU (RA) – Reuleuet, salah satu dari 30 gampong di Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Desa yang terletak di pinggiran perbukitan berjarak sekitar dua kilometer dari jalan raya Banda Aceh-Medan ber penduduk kurang lebih 343 jiwa (174 pria dan 165 wanita) atau 91 kepala keluarga (KK). Mayoritas warga yang berekonomi sederhana ini berpencaharian sebagai petani kebun serta petani sawah.

Untuk menuju ke desa seluas 95 hektare ini dapat ditempuh melalui dua arah. Jika Anda dari arah timur dapat dlalui dari persimpangan Gampong Nanggroe Barat, sementara jika dari arah barat melalui jalan persis di tengah sawah sekitar 100 meter sebelah timur MAN 2 Ulim. Kondisi jalan kesana tergolong lumayan bagus. Desa ini tenang dan nyaman karena berjauhan dari kebisingan lalu lalang kendaraan.

Selain bertani di sawah, penduduk juga menggeluti usaha perkebunan. Komoditi yang terluas adalah kakao atau coklat.

Menurut Bastun Adam, Ketua Kelompok Tani Kebun, saat ini luas tanaman kakao sekitar 50 hektare dan semuanya sudah berproduksi. Mereka mulai mengusahakan tanaman keras ini sejak tahun 2008 lalu. Sekarang ini petani sedang gencar panen dan harganya Rp 30.000-Rp 32.000/kg.

Bastun menambahkan, semua kepala keluarga di Reuleuet berkebun khususnya cacao. Ada juga sebagian mereka mengusahakan komoditi lainnya seperti, durian, mangga, pinang serta pisang. Sementara tanaman hortikultura atau sayur-mayur semisal bayam, kangkung darat, cabe merah, cabe rawit, sawi sudah menjadi usaha rutin atau berkesinambungan setiap tahun. Di tempat usahanya, warga juga tidak ketinggalan memelihara sapi dan kambing. Apalagi didukung oleh pakan yang memadai.

Kakao yang dihasilkan petani setelah dijemur hingga kering atau sesuai standar kadar air serendah mungkin lalu dijual melalui sebuah wadah koperasi yang ada di kampung tersebut. Sehingga nama Reuleuet sudah terkenal dengan sebutan Kampung kakao.
Sebagai simbul Kampung Kakao, sehingga Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, membangun sebuah tugu persis di pintu masuk. Tugu tersebut dibangun pertengaghan tahun 2015 lalu sebagai simbul kemakmuran Reuleut dari kakao.

Baca Juga...  Ketua MIUMI Aceh Safari Dakwah ke Bireuen

Ketika berlangsungnya Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan (Penas-KTNA) ke XV tanggal 5-11 Juni 2017 lalu, Kampung Cacao menjadi salah satu agenda studi banding peserta Penas. Puluhan tamu asal sejumlah provinsi di tanah air ikut berkunjung ke Reuleuet. Tujuannya untuk melihat langsung tanaman cacao yang dibudidayakan petani setempat. Yang menjadi malu Pijay, jalan kesana yang sulit dilalui.

Kala itu, sebut Bastun yang juga Pengurus KTNA Pidie Jaya, peserta study banding tampak kagum dengan keberadaan tanaman cacao di Reuleuet. Bahkan, KTNA perwakilan Sulawesi Selatan (Sulut), Kaltim dan Lampung setelah berakhirnya Penas, kembali menghubungi pihaknya untuk belajar lebih banyak lagi tentang cacao. Hanya satu hal yang menjadi pertanyaan sang tamu luar saat berkunjung kesana yaitu mengenai dengan hubungan transportasi atau jalan menuju areal perkebunan.

Jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer, selain berbukit serta menekung bahkan di beberapa titik kondisinya sangat terjal ditambah lagi dengan berbatu. Tentang itulah yang dipertanyakan. Apakah pemerintah tidak membangun atau memang petani kebun disana yang tidak mengeluh dengan kondisi badan jalan yang teramat sulit dilalui, papar Bastun. Tamu luar Aceh berkunjung kesana kala itu hanya sampai di kaki atau pintu gerbang menuju kebun. Dari sana ditransit dengan mobil bak terbuka.(age/rus)