Komunitas Konservasi di Aceh Kampanye Advokasi Satwa Lindung

Lintas Komunitas Konservasi di Aceh saat membahas Satwa Lindung di Aceh, Jumat (31/12). Ahmadi - harianrakyataceh.com

HARIANRAKYATACEH.COM – Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh mendorong lintas komunitas konservasi di Aceh berkolaborasi untuk melakukan kampanye dan advokasi terhadap satwa lindung. Kerja bersama menjadi penting agar perlindungan satwa berjalan lebih masif.

 

Hal itu mengemuka dalam dialog “evening talk” mendorong lintas komunitas untuk satwa lindung di Aceh, Jumat (31/12/2021). Kegiatan tersebut digelar oleh Forum Jurnalis Lingkungan (FJL), Convervation Response Unit (CRU) Aceh, dan Tropical Forest Conservation Action-Sumatra (TFCA-Sumatera). Dialog dihadiri oleh lintas komunitas anak muda, unsur pemerintah, dan Lembaga swadaya masyarakat.

 

Kepala Bidang Konservasi dan Sumber Daya Alam DLHK Muhammad Daud mengatakan perlu adanya sinergitas antar sektor dalam penanganan terkait satwa lindung. Daud mengatakan perlu edukasi lebih masif kepada warga yang tinggal di kawasan hutan tentang hidup berdampingan dengan satwa.

 

“Banyak warga tidak mau menanam jenis tanaman yang tidak disukai gajah. Ini memicu konflik gajah lebih sering,” kata Daud.

 

Daud mengatakan pemerintah telah berupaya mengurangi konflik satwa dengan membuat parit, membangun pagar kejut, dan memasang kalung deteksi pergerakan. Namun, kata Daud, warga di kawasan hutan harus terlibat dalam pengawasan dan perawatan.

 

Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Tutia Rahmi menjelaskan empat species satwa yakni harimau, gajah, orangutan, dan badak hidup di satu kawasan di Aceh. Kondisi ini seharusnya dapat membuat warga Aceh bangga, sebab tidak ada provinsi lain yang memiliki empat species sekaligus.

 

Namun, karena banyak orang yang tidak paham betapa bernilai species itu rasa memiliki menjadi kurang. Sementara para pemburu memanfaatkan untuk menjual organ satwa.

 

“Ada juga kepercayaan mistis terhadap kepemilikan organ satwa. Jadi bukan hanya semata karena ekonomi,” kata Tutia.

 

Tutia mengatakan anak muda perlu terlibat untuk melakukan kampanye perlindungan dan kebanggan terhadap satwa-satwa kunci tersebut.

 

Koordinator FJL Aceh Zulkarnaini Masry menuturkan keterlibatan anak muda dalam Kerja konservasi sangat penting, sebab mereka adalah pewaris lingkungan. Para anak milenial dapat melakukan kampanye melalui media sosial dan kepada jaringan komunitas.

 

“Kami akan melibatkan anak muda dalam kegiatan konservasi. Kami berharap mereka menjadi agen kampanye perlindungan satwa di Aceh,” kata Zulmasry. (ahi).