Larang Berjualan di Pingir Jalan Pedagang Hamburkan Cabai

Pedagang di Pasar Paya Ilang, Kota Takengon, membuang cabai ke tengah badan jalan karena marah dengan keputusan dinas setempat terkait pelarangan berjualan. JURNALISA/RAKYAT ACEH

TAKENGON (RA) – Entah apa yang ada dalam pikiran pedagang di Aceh Tengah, hingga membuang puluhan kilo cabai merah dan hijau, ke tengah jalan di Pasar Paya Ilang, Kecamatan Bebesen, dua hari lalu.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, belasan pedagang dilarang berjualan dipinggir jalan. Dan hal itu sudah disepakati dengan pengelola pasar sebelumnya. Namun, tidak puas dengan keputusan, sebagian membuang cabai ke badan jalan.

Pelarangan karena ada keputusan dari Plt Dinas Perdagangan, Mawardi Munthe, melalui dua lembar surat. Menyebut kios sepanjang Gedung Putih Paya Ilang dan sepanjang jalan Pasar Paya Ilang menuju lembaga diperuntukan untuk bukan penjual sayur.
Surat itu sendiri ditandatangani oleh Mawardi Munthe, 4 Januari 2022 saat ada aksi demo di Dinas Perdagangan menuntut penertipan pedagang di Pasar Paya Ilang yang selalu padat penjual.

Dedi Sarpika, salah satu pedagang Pasar Paya Ilang merasa tidak adil dengan keputusan Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Aceh Tengah tentang penetapan atau penunjukan zonasi dagangan kawasan pasar paya ilang.

“Kami sudah biasa berjualan sayur, disuruh jualan lain diluar kemampuan kami. Manalah kami bisa,” kata Dedi.

Pedagang Pasar Paya Ilang meminta keadilan kepada pemerintah daerah setempat agar memberi peluang berjualan sesuai keahlian mereka. Jika tidak dibolehkan berjualan di pinggir Jalan, mereka minta gedung putih itu dihancurkan agar bisa pembeli masuk kedalam.

“Kesal kami dengan ketidakjelasan, sudah beberapa kali kami dipindahkan untuk berjualan, kami minta keadilan dari pemerintah,” tegas Dedi.

Sekitar enam karung lebih cabe dibuang hari ini, kerugian kurang lebih berjumlah Rp 10 juta. Pedagang merencanakan (13/1) menemui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten Aceh Tengah untuk menyampaikan keluhan mereka.

“Kami beli dari petani uang kontan, kami jual murah dan keadaannya seperti ini, bagaimana nasip kami tidak rugi,” tutup Dedi. (jur/bai)