Tujuh Hari Tanggap Darurat Bencana Alam

Rumah warga Kecamatan Simeulue Tengah, yang terendam banjir, Senin (10/1). AHMADI/RAKYAT ACEH

SIMEULUE (RA) – Bencana alam banjir rendam seratusan lebih rumah warga, failitas publik, jembatan putus dan juga merendam areal persawahan milik petani di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Simeulue.

Pemicu terjadinya bencana alam banjir dengan ketinggian sekitar 70 cm, setelah hujan deras sejak pukul 23:00 WIB, Minggu (9/1) dan kini pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simeulue, menetapkan dan berlakukan selama 7 hari masa tanggap darurat.

“Hingga saat ini banjir telah berangsur-angsur surut dan sebahagian korban banjir mengungsi di tempat saudaranya. BPBD Simeulue telah menetapkan dan memberlakukan selama 7 hari masa tanggap darurat, ini bisa berubah sesuai kondisi,” kata Zulfadli, Kalaksa BPBD Simeulue, kepada Harian Rakyat Aceh, Senin (10/1).

M?asih menurut, Zulfadli, banjir yang terparah di empat kecamatan, yakni Kecamatan Simeulue Tengah, Simeulue Cut, Salang dan Kecamatan Alafan. Selain merendam lebih dari 101 unit ruah warga, juga banjir merendam lahan persawahan yang terancam gagal panen padi.

Banjir juga memutuskan akses transportasi yang melintasi Kecamatan Salang, menggerus selebar dua meter lebih material oprit kepala jembatan bailey luan (sungai) Lalla terjadi kemiringan 45 derajat badan jembatan dengan panjang 35 meter.

Untuk sementara untuk melintasi luan Lalla itu, hanya dapat menggunakan transportasi jenis rakit penyeberangan dan dengan kondisi rusak dan miring, jembatan yang terbuat dari baja itu, membutuhkan waktu yang lama untuk perbaikan yang dapat difungsikan.

Pihak BPBD Simeulue telah mendirikan dapur umum yang dipusatkan di Pos Damkar yang ada di Kecamatan serta ternda darurat untuk korban banjir, serta penyaluran bantuan dari TNI Polri kepada korban bencana alam banjir di sejumlah titik di 4 kecamatan tersebut.

Data sementara yang dirilis pihak BPBD Simeulue, dampak bencana banjir, sebanyak 584 jiwa atau 152 Kepala Keluarga. “Jembatan rangka baja sungai Lalla, hingga saat ini belum dapat dilintasi, sehingga akses transportasi disana terputus ke ibukota Kabupaten Simeulue dan saat ini personil kita masih dilapangan”, imbuhnya Kalaksa BPBD Simeulue.

Hamidi, Kepala Desa Sebbe, Kecamatan Simeulue Tengah, menyebutkan ada 10 hektar areal persawahan padi yang sedang berbuah milik petaninya dan bakal terancam gagal panen serta rumah warganya dan Sekolah TK juga terendam banjir.

“Selain rumah warga saya yang terendam, juga sekolah TK serta sekitar 10 hektar areal padi yang sedang berbuah milik warga saya, bakal terancam panen karena terendam banjir”, kata Hamidi kepada Harian Rakyat Aceh, Senin (10/1). (ahi/bai)