Gempa Banten Dirasakan di 11 Wilayah, Rusak Ribuan Rumah

TERDAMPAK GEMPA: Seorang bocah mengamati kerusakan di ruang kelas sekolahnya di Desa Kertamukti, Pandeglang, kemarin. (AFP)

HARIANRAKYATACEH.COM – Gempa susulan (aftershock) masih terjadi di lepas pantai Pandeglang, Banten, hingga kemarin (15/1) pukul 12.00. BMKG mencatat terjadi 32 kali aktivitas kegempaan dengan magnitudo maksimum M5,7 dan terkecil M2,5.

Sementara itu, gempa tektonik M6,6 pada Jumat (14/1) dilaporkan merusak ratusan rumah di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Namun, menurut ahli BMKG, kekuatan gempa tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan potensi sebenarnya gempa Selat Sunda.

Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebut gempa itu bersifat destruktif. Terutama di wilayah Kabupaten Pandeglang. Meski demikian, gempa tidak berpotensi tsunami karena magnitudonya masih di bawah ambang batas rata-rata gempa pembangkit tsunami, yaitu M7,0.

Faktor lain adalah lokasi hiposentrumnya yang cukup dalam. Yakni, di kedalaman 40 kilometer. Data monitoring muka laut tidak menunjukkan adanya catatan perubahan pascagempa. ”Ini yang menjadi bukti bahwa gempa yang terjadi tidak memicu tsunami,” kata Daryono kemarin.

Dari karakteristiknya, gempa tersebut merupakan jenis dangkal karena adanya deformasi/patahan batuan di dalam Lempeng Indo–Australia yang tersubduksi (menghunjam) ke bawah Selat Sunda–Banten. Para ahli menyebut jenis gempa tersebut sebagai intraslab earthquake.

Gempa jenis itu, kata Daryono, memiliki ciri mampu meradiasikan guncangan (ground motion) yang lebih besar dan kuat daripada gempa sekelasnya dari sumber lain. ”Sehingga wajar jika gempa ini memiliki spektrum guncangan yang sangat luas dirasakan hingga Sumatera Selatan hingga Jawa Barat,” jelasnya.

Anggota Dewan Ahli Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) itu menyampaikan, guncangan gempa bisa terasa sangat kuat di Jakarta lantaran ada efek tapak lokal (local site effect) dalam lapisan tanah lunak dan tebal di wilayah Jakarta. Efek tersebut memicu terjadinya resonansi gelombang gempa. Hingga akhirnya, guncangan tanah mengalami amplifikasi atau perbesaran. ”Di samping itu, ada fenomena vibrasi periode panjang karena gempa kuat yang sumbernya relatif jauh,” paparnya.

Menilik dari karakteristiknya, lanjut Daryono, gempa dekat Ujung Kulon itu mirip gempa selatan Jawa Timur magnitudo M6,1 pada 10 April 2021 yang juga bersifat destruktif. ”Keduanya sama-sama gempa intraslab, yakni gempa dengan sumber di dalam Lempeng Indo–Australia,” ujarnya.

Meski begitu, Daryono menyebut, gempa Jumat kemarin tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan potensi gempa merusak yang terkandung di pedalaman tumbukan lempeng sekitar Selat Sunda. Segmen megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa dengan magnitudo tertarget mencapai M8,7 dan gempa itu bisa terjadi sewaktu-waktu. ”Kapan saja dapat terjadi karena Selat Sunda ini merupakan salah satu zona seismic gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum pernah terjadi gempa besar,” jelasnya.

Sementara itu, hingga kemarin sore, BNPB terus mendata kerusakan dan dampak gempa. Update terakhir Sabtu (15/1) pukul 00.25, total 257 unit rumah rusak. Kabupaten Pandeglang terdampak paling parah dengan 26 unit rumah rusak berat, 33 unit rusak sedang, dan 131 unit rusak ringan. Kemudian, fasilitas umum meliputi 10 unit sekolah, 1 puskesmas, 1 pabrik, 1 kantor pemerintahan, 1 tempat ibadah, dan 1 tempat usaha.

Kabupaten Serang melaporkan, 16 rumah rusak sedang. Di Kabupaten Lebak, ada 12 rumah yang rusak berat, 3 rumah rusak sedang, 21 rumah rusak ringan, dan 3 bangunan sekolah terdampak. Di samping itu, dilaporkan satu warga mengalami luka ringan terdampak gempa bumi.

Selanjutnya, di Kabupaten Sukabumi ada tiga rumah yang rusak sedang dan enam rumah rusak ringan. Di Kabupaten Bogor, delapan rumah rusak sedang.

TERDAMPAK GEMPA: Seorang warga Desa Kertamukti membersihakn puing-puing tembok rumahnya yang roboh. (AFP)

Berdasar catatan lapangan yang dihimpun Pusdalops BNPB dari beberapa BPBD terdampak, gempa banten M6,6 mengguncang total 11 wilayah di barat Pulau Jawa dan selatan Pulau Sumatera. ”Guncangan itu membuat masyarakat berhamburan keluar dari ruangan untuk menyelamatkan diri,” kata Kapusdatinkom BNPB Abdul Muhari.

Sebelas wilayah itu, antara lain, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kabupaten Lebak di Provinsi Banten. Kemudian, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok di Jawa Barat. Selanjutnya adalah Provinsi DKI Jakarta dan Kabupaten Lampung Barat.

Kepala BNPB Suharyanto meninjau langsung lokasi terdampak gempa kemarin pagi. Dia meminta pendataan dilakukan dengan baik. Mulai kerusakan bangunan, jumlah warga terdampak, kebutuhan dasar warga terdampak, hingga hal lain. Data-data itu segera diselesaikan dan dimutakhirkan dengan baik agar penanganan darurat dapat dilakukan.

Bupati Kabupaten Pandeglang Irna Narulita melaporkan, sekitar 200 warga mengungsi karena terdampak gempa bumi. Namun, Irna memastikan sebagian besar saat ini telah kembali ke rumah masing-masing.

Berbeda dengan BNPB, Irna menyebutkan, Pemkab Pandeglang mencatat kerusakan rumah mencapai angka 1.100 unit. Perinciannya, 617 rusak ringan, 269 rusak sedang, dan 214 rusak berat. Kemudian, ada 13 gedung sekolah yang rusak sedang, termasuk 14 fasilitas kesehatan, 3 kantor pemerintahan, 4 tempat ibadah, dan 1 tempat usaha.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tau/c14/fal