Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

DAERAH · 29 Jan 2022 09:48 WIB ·

Jabatan Bupati Hampir Berakhir, Ini Introspeksi Mursil


 Bupati Aceh Tamiang, Mursil Perbesar

Bupati Aceh Tamiang, Mursil

HARIANRAKYATACEH.COM – Bupati Aceh Tamiang, Mursil tampak berjiwa besar berani akui kegagalan dalam memimpin. Hingga di ujung pemerintahannya Mursil menyatakan, belum mampu tuntaskan visi-misi.

Meski semua visi-misi dan program prioritas sudah ditunaikan, namun Mursil menilai kepemimpinan belum berhasil dalam konteks penegakkan Syariat Islam di Aceh Tamiang. ‘PR’ pengamalan syariat Islam ini masih mengganjal dibenak Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tamiang (Mursil-Tgk Insyafuddin) menjelang akhir periode.

“Saya belum berhasil menjadi bupati. Karena program kerja yang tertuang dalam visi dan misi belum sepenuhnya terlaksana selama kepemimpinan saya yang sudah hampir berakhir,” kata Mursil di Karang Baru, Jumat (28/1) .

“Masa kepemimpinan saya hanya tersisa lebih kurang 10 bulan lagi, saya gagal melaksanakan visi-misi. Terutama visi-misi terkait meningkatkan kualitas pengamalan syariat Islam dengan upaya-upaya keteladanan dan pengembangan budaya Islami,” ungkapnya lagi.

Diakui Bupati, penerapan syariat Islam di kabupaten berjuluk ‘bumi muda sedia’ ini belum sepenuhnya Islami. Hal itu tampak dari masih banyaknya laporan perbuatan menyalahi norma-norma agama terjadi di wilayah Aceh Tamiang. Padahal, kata dia sudah banyak program keagamaan yang dilaksanakan pemerintah daerah.

“Salah satunya seperti program magrib mengaji bagi anak-anak sekolah di setiap kampung. Program ini sudah saya terapkan sejak kami dilantik empat tahun lalu,” ujarnya.

Namun, Mursil sangat menyangkan program magrib mengaji ternyata tidak didukung sepenuhnya oleh sebagian masyarakat. Karena ada sejumlah rumah ibadah/masjid yang menolak program andalan pemda ini.

“Tidak boleh dilaksanakan magrib mengaji di masjid, dengan alasan kotor dan anak-anak ribut,” kata Mursil, agak heran.

Padahal, Mursil bisa pastikan anak-anak yang ribut itulah kelak yang memakmurkan masjid, bukan anak yang tak pernah ke masjid.

“Contohnya sekarang ini banyak bangunan masjid besar dan megah, tapi siapa yang memakmurkannya,” tanya Mursil.

Dari itu Mursil meminta para orang tua untuk membiasakan diri mengajak anak-anaknya salat berjamaah di masjid. Para pengurus masjid dan orang tua juga harus memaklumi bila mendapati anak-anak bermain atau berlarian di dalam masjid.

“Kita pun dulu begitu sewaktu kecil, ribut, main-main, lari kesana-kesini di masjid. Tapi itu biasa. Kelak, mereka yang ribut di dalam mesjid itulah yang memakmurkan masjid. Karena sejak dini mereka sudah akrab dengan masjid sebagai tempat mainnya,” ulas Mursil.

Di sisi lain, perhatian Bupati Mursil tercurahkan kepada prilaku anak muda. Masih banyak terlihat para remaja berkeliaran hingga tengah malam, dan tidak ada yang berani menegurnya. Kondisi seperti ini mengesankan kontrol sosial dilingkungan masyarakat lemah nyaris tidak ada lagi.

“Tapi realita inilah menjadi tanggung jawab kita bersama, termasuk MPU Aceh Tamiang serta Kementerian Agama,” imbuh Mursil.

Lebih lanjut Mursil mengutarakan, kini waktu memimpin tersisa hanya beberapa bulan lagi, namun Aceh Tamiang masih belum nampak Islami. Hal itu dibuktikan masih ada personel Satpol PP dan WH keliling mengimbau masyarakat pada waktu salat Jumat dan waktu ibadah lainnya agar menghentikan aktivitas sementara untuk menuju masjid.

“Bila daerah kita sudah sepenuhnya Islami, maka tidak perlu ada lagi petugas Satpol PP/WH yang halo-halo pengumuman melalui pengeras suara mengunakan kendaraan patroli ,” sebutnya.

Curhatan Bupati Mursil ini juga sudah disampaikan kepada pemuka agama yakni pengurus MPU Aceh Tamiang dan Dekan FUAD Kampus IAIN Langsa saat penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) tentang penegakkan Syariat Islam antara dua lembaga tersebut di Aula Kantor Bupati setempat, Kamis (27/1).

Langkah ini sebagai upaya terakhir di lima tahun rezim Bupati Mursil ingin mejadikan “Aceh Tamiang Mandiri dan Berdaya Saing Menuju Masyarakat Islami yang Sejahtera” sesuai visi-misi pasangan ‘Bermutu’.

Mursil berharap momentum kerja sama antara FUAD IAIN Langsa dan MPU Aceh Tamiang lewat kajian-kajian agama Islam yang dilaksanakan dapat disebarluaskan ke publik, baik melalui tatap muka maupun siaran radio lokal Aceh Tamiang dan media massa lainnya.

“Meskipun saya tidak lagi jadi bupati nanti, tapi itu adalah inovasi baru yang dilaksanakan MPU Aceh Tamiang. Saya minta program kerja sama ini bisa berlangsung kontinyu,” harap Mursil. (ddh)

Artikel ini telah dibaca 58 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Kodim 0102/Pidie Gelar Doa Bersama Peringati Tahun Baru Islam 1446 H

18 July 2024 - 14:06 WIB

Jaga Ekosistem Alam, Kodim 0102/Pidie dan Jajaran Semai 3000 Bibit Pohon Keras dan Manggrove

17 July 2024 - 12:44 WIB

Kodim 0102/Pidie Dan Subdenpom IM/1-3 Sigli Periksa Kelengkapan Kenderaan Prajurit

16 July 2024 - 11:57 WIB

DPRK Abdya Usul Tiga Nama Calon Pj Bupati

16 July 2024 - 06:22 WIB

Siapkan Hadiah Rp 30 Juta, Piala Ketua Askab PSSI Bireuen Bergulir di Cureh

16 July 2024 - 06:19 WIB

Operasi Patuh Seulawah, Ingatkan Pengendara Kembali Tertib Berlalulintas

15 July 2024 - 17:29 WIB

Trending di DAERAH