Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

KHAZANAH · 4 Apr 2022 18:38 WIB ·

Apa yang Memicu Kita Berpuasa Ramadhan?


 Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA
Perbesar

Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Oleh: Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Sering sekali kita mendengar pertanyaan seperti judul artikel ini keluar dari mulut orang-orang kafir yang menganggap berpuasa di bulan Ramadhan oleh ummat Islam sebagai sesuatu yang merugikan. Pertanyaan serupa juga sesekali keluar dari mulut muslim jahil yang tidak paham hakikat puasa Ramadhan sehingga ia ikut-ikutan bersinergi dengan orang kafir mempersoalkan eksistensi puasa Ramadhan. Sesungguhnya kalau kita mau teliti dengan seksama minimal ada lima penyebab kenapa kita harus berpuasa pada bulan Ramadhan setiap tahunnya.

Pertama, karena puasa Ramadhan merupakan sebuah kewajiban, yang namanya kewajiban itu berarti harus dikerjakan dan tidak boleh tidak wajib dikerjakan. Landasan hukum wajib berpuasa Ramadhan adalah surah Al-Baqarah ayat 183, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, landasan inilah yang memikat ummat Islam sedunia rela menahan diri sebulan penuh di bulan Ramadhan, kalau ada ummat Islam yang tidak berpuasa juga boleh jadi mereka tidak paham hukum, jahil fikih, lemah imannya atau jahat dan membangkang kewajiban yang datangnya dari Allah SWT sang pencipta.

Kalau ada ummat Islam yang gagal menunaikan puasa Ramadhan setahun satu bulan maka ia telah melanggar syari’ah yang datangnya dari Allah SWT. layaklah bagi mereka menempati neraka karena telah melawan Allah dan Rasulnya, firman Allah: Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An-Nisa’: 14)

Kedua, kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan tersebut datangnya dari Allah sebagai perintah Khaliq terhadap makhluqNya. Maka bagi orang-orang beriman sangatlah takut meninggalkannya dan mengabaikannya apalagi kalau menantangnya sehingga terkesan melawan Allah SWT baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.

Umpamanya ada orang yang berucap kepada orang lain: saya tidak mau berpuasa Ramadhan ini karena capek sekali bekerja, kalau saya puasa tentu tidak sanggup saya bekerja. Ucapan seperti itu merupakan perlawanan terhadap perintah Allah yang sekaligus dia tidak yakin kalau Allah mampu memberikan tenaga kepadanya untuk bekerja walaupun ia berpuasa. Ketika sikap seperti itu yang terjadi maka terjejaslah imannya, demikian juga ketiga sikap tersebut terjelma dalam amalan hidupnya maka sulit untuk dikatan bahwa dia orang baik-baik di sisi Allah SWT.

Ketiga, puasa Ramadhan itu anjuran dan amalan utama Rasulullah SAW.yang diwajibkan kepada semua ummatnya. Manakala kita ummat Islam mengaku ummat Nabi Muhammad SAW maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berpuasa sebulan penuh dalam Ramadhan setiap tahun. Kalau ada ummat Islam yang tidak ikut Nabi boleh jadi ia telah memungkiri dirinya sebagai ummat Nabi dengan tidak melaksanakan perintah Nabi.

Dalam hadis shahih Bukhari Rasulullah SAW.bersabda: Islam dibangun atas lima landasan utama; syahadatain, mendirikan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa Ramadhan dan naik haji ke Baitullah manakala sanggup. Karenanya tidak ada alasan lagi bagi seorang muslim yang mengakui dirinya sebagai hamba Allah dan ummat Rasulullah SAW untuk tidak berpuasa kecuali dengan alasan yang dibenarkan syari’ah seperti orang sakit yang tidak sanggup berpuasa, orang menyusui anak yang lemah badannya, orang datang haidh, nifas, wiladah, dan orang musafir.

Namun kepada mereka semuanya wajib mengqadhanya di bulan lain sejumlah hari yang ditinggalkan dalam Ramadhan. Khusus untuk orang sakit payah yang sama sekali tidak berdaya untuk berpuasa dan mengqadhanya syari’ah membolehkannya untuk membayar fidyah kepada fakir miskin sejumlah hari yang tertinggal, satu hari untuk seorang fakir miskin sesuai dengan makanan yang dikonsumsikan hari-hari oleh orang sakit tersebut.

Dalil hukum untuk perkara ini adalah surah Al-Baqarah ayat 184 yang artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.

Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Keempat, puasa mendatangkan kesehatan bagi orang-orang yang berpuasa, itulah rahasia dari Allah yang sangat sulit diyakini orang-orang tidak beriman atau kurang imannya, walaupun mereka melaksanakan ibadah lain dengan serius tapi ketika berhadapan denngan puasa Ramadhan cenderung ia lalaikan.

Padahal sudah banyak bukti-bukti kalau orang yang berpuasa dengan penuh keyakinan dan keimanan kesehatan berada bersama dengan tubuh badan mereka. Karena itulah Rasulullah SAW. bersabda: shuwmuw tashihhuw (berpuasalah kamu agar kamu sehat). Implikasi dan realisasi hadits tersebut telah terbukti dengan sejumlah penelitian baik yang dilakukan oleh muslim ataupun kafir. Dalam sebuah penelitian terbaru ditemukan bahwa sel-sel dalam tubuh manusia itu ketika manusia berpuasa ia akan memakan sumbatan-sumbatan perjalanan dari yang membuat penyakit kolesterol, asam urat dan lemak-lemah dapat dibersihkan oleh sel-sel yang sehat tadi sehingga orang-orang berpuasa cenderung memiliki badan yang sehat.

Kelima, karena puasa Ramadhan itu menunjukkan objektif dan logisnya syari’at Islam yang datangnya dari Allah dan Rasulullah SAW. kenapa tidak ketika sebuah kewajiban itu mesti dan harus dilakukan, tetapi dalam berpuasa Ramadhan syari’ah memberikan kesempatan untuk tidak berpuasa karena orang itu musafir, sakit, lemah dan semisalnya dengan ketentuan ia harus mengqadha pada waktu lain di luar Ramadhan. Dispensasi tersebut menunjukkan bahwa syari’at Islam itu sangat soft, muslihat, rasional, objektif, toleran dan anti radikal, hanya orang-orang yang berpikiran warak sajalah yang memahami dan mengakui kondisi seprti ini.

Karena itu kalau ada orang-orang siapa saja dianya yang mengatakan hukum Islam atau syari’at Islam itu keras, kasar, tidak berperikemanusiaan maka dapat dipastikan orang tersebut sedang diserang oleh penyakit 2 J. J pertama bermakna jahil (bodoh) tentang syari’ah sehingga dia tidak paham dan tidak mau memahami syari’ah, efeknya dia ngomong yang negatif terhadap syari’ah.

Sedangkan J kedua adalah jahat, ini terdiri dari manusia-manusia kafir atau muslim SEPILIS yang benci kepada Islam karena Islam memisahkan model kehidupan manusia dengan cara hidup binatang, mereka cenderungnya kepada cara dan gaya hidup hayawan yang hanya mengutamakan kebebasan tetapi membiarkan kemuliaan sehingga syari’ah yang menuntun manusia hidup mulya ditantang oleh mereka karena mereka cenderung mengikuti gaya hidup hayawan yang free sex dan free will.

Sekiranya semua muslimin dan muslimat memahami dengan mendalam penyebab kita harus berpuasa di bulan Ramadhan maka tidak ada seorangpun muslim yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Namun karena manusia yang beragama Islam itu hidup dengan kondisi yang berbeda, latarbelakang yang tidak sama, lingkungan yang beraneka maka terdapat sejumlah tempat yang sejumlah muslim tidak berpuasa Ramadhan bertahun-tahun lamanya malah ada yang selama hidup tidak berpuasa.

Kalau kita mau melihat penyebabnya dapat dirinci sebagai berikuat: pertama karena pengaruh keluarga yang tidak pernah atau bolong-bolong berpuasa, kedua dikarenakan pengaruh lingkungan yang jarang orang berpuasa sehingga diapun tidak berpuasa karena terbawa arus lingkungannya.

Ketiga karena faktor kejahilan terhadap hukum Islam, orang tuanya berpuasa tetapi dia disekolahkan kenegara kafir yang tidak ada orang puasa sehingga dia tidak tau apa itu puasa, maka diapun tidak berpuasa.

Keempat karena faktor iman, orang-orang yang imannya lemah cenderung tidak takut kepada ancaman neraka dari Allah walaupun dia orang pandai yang bergelar ulama, guru besar dan seumpamanya.
Iman itu ibarat air laut yang ada pasang dan ada surut, ketika iman itu pasang maka seorang muslim sangat bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, tetapi manakala imannya surut dia terkadang tidak takut kepada Allah sehingga perintah-perintah Allah rela ditinggalkan dan sebaliknya larangan-laranagn Allah suka dikerjakan.

Pasang surut iman itu pula ada penyebabnya seperti karena tidak rajin mengerjakan shalat, tidak rajin memahami Al-Qur’an, tidak mau melawan syahwat dan tuntutan hawa nafsunya sehingga arus dari semua itu membuat seseorang melemah imannya. Na’uzubillahi minzalik.

Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Artikel ini bekerjasama dengan Dinas Syariat Islam Aceh.

Editor: Rusmadi

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Niat Puasa Tasua dan Asyura, Saum yang Paling Utama setelah Ramadhan

15 July 2024 - 15:36 WIB

Madi, Salah Marah Mak Usuh Tukang Parkir, Akhirnya Diserang Balik

8 July 2024 - 10:24 WIB

Pj Bupati Iswanto Tinjau Progres Pembangunan Jalan Menuju Venue PON Paralayang

16 June 2024 - 03:01 WIB

Pemkab Aceh Besar Gelar Pangan Murah di JSC

1 June 2024 - 15:19 WIB

Mengulik Metode Mengajar Rasulullah SAW sebagai Teladan bagi Guru Masa Kini

30 May 2024 - 17:29 WIB

Dakwah dan Dilema Beragama di Aceh: Menyatu dalam Kebenaran

26 May 2024 - 07:37 WIB

Trending di KHAZANAH