Ekspektasi dari Ibadah Puasa

Ustadzah Supiati, S.Ag

Oleh: Ustadzah Supiati, S.Ag

Bicara mengenai puasa, seolah tidak akan ada habisnya materi yang hendak kita bahas dan diskusikan. Telah banyak para pakar ustadz-ustadzah, pejabat, akademisi yang membahas mengenai puasa. Seperti pada acara rutinan saat Ramadhan di berbagai media radio, televisi, sosial media dengan berbagai kemasan yang menarik, acara pengajian di Masjid-masjid umum, tablig ramdhan serta banyak tulisan di media cetak yang menyediakan halaman secara khusus yang membahas mengenai puasa.

A. Tujuan dan Fungsi (Tusi) Puasa

Banyak hal yang bisa kita bicarakan ihwal puasa. Sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Sebagaimana yang telah tercantum dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183, bahwa salah satu tujuan dari adanya ibadah puasa adalah agar bertambahnya ketaqwaan kita selaku umat Islam kepada Allah SWT.

Sebagai ummat Islam diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar bertambah keimanan dan ketaqwaannya. Bertambah dalam hal keyakinannya, yang kaitannya dengan keimanan kepada Allah, bertambah teguh dan mantap eksistensi imannya umat Islam sebagai mahluk yang menghambakan diri kepada Tuhannya. dengan tujuan La‘allakum tattaqun”, (QS. 2:183). Inilah yang menjadi prestasi seorang hamba.

Taqwa ini merupakan harapan, dalam artian, dengan puasa kita menjadi bertaqwa, bukan hanya ketika berpuasa, tapi secara terus menerus, untuk hari dan bulan serta tahun-tahun berikutnya. Taqwa juga merupakan predikat yang harus diupayakan tiap hamba.

Taqwa memang bukan predikat yang bisa kita dapatkan dengan berpangku tangan, sekadar berharap dari Allah swt, tapi ia harus dikejar oleh seorang hamba, dengan niat tulus, ibadah yang sungguh-sungguh, dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam hidup sehari-hari.

Ada indikator yang harus dipenuhi ketika orang menginginkan takwa yaitu: rasa takut kepada Allah, beramal sesuai tuntunan syari’ah, ridha atas ketetapan Allah swt, mampu menyiapkan untuk kehidupan akhirat.

B. Keistimewaan Puasa

Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan Salah satu keistimewaan ibadah puasa adalah bahwa puasa dikatakan langsung oleh Allah bahwa itu untuk-Nya. Demikian sebagaimana disinggung dalam salah satu hadits Nabi, Artinya: Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.

Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari).

Maka dari itu, setidaknya puasa memiliki dua makna. Pertama, melatih keikhlasan. Orang yang berpuasa, menurut beliau, akan ditantang untuk berbuat ikhlas hanya untuk Allah, sebab orang yang berpuasa dengan tidak pun sama. sama-sama terlihat tidak makan dan minum.
Kedua, makna bahwa puasa adalah untuk Allah maksudnya bahwa orang yang berpuasa hendaknya meniru sifat-sifat Tuhan, seperti tidak butuh makan, tidak butuh hubungan biologis pada siang hari, sifat ilmu yang artinya harus selalu belajar, dan sifat-sifat Allah selainnya.

C. Manfaat Puasa

1. Secara Lahiriah
Puasa juga mempunyai manfaat terhadap diri pribadi seorang hamba yang melakukannya. Puasa mempunyai keutamaan secara lahiriah maupun bahtiniah. Secara lahirian, sabda Rasulullah “Shumu tashihhu (Berpuasalah kalian! Niscaya kalian akan sehat)”. Ibadah puasa adalah detok yang paling baik terhadap penyakit apapun dengan pola pelaksanaan yang benar. Saat kita mengalami titik lemas pada jam 12.00 sampai 18.00 itu merupakan proses Autolisis yaitu pembuangan sel-sel yang rusak di dalam tubuh persis seperti sedang menguras kotoran dalam pencucian darah.

2. Secara Rohani (ruhiah)
Sebenarnya katika berpuasa, umat Islam sedang ditempa, digembleng, digojlok oleh kawah candra dimuka pada saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Yang tadinya mempunyaisifat tidak sabar, maka puasa melatih agar dapat bersabar. Jika sebelumnya tidak bisa menahan amarah, maka puasa melatih dapat memanajemen amarah. Jika sebelumnya belum bisa menahan nafsu, maka puasa melatih agar dapat menahan hawa nafsu.

3. Secara Sosial.
Ketika umat Islam berpuasa, di mana sedang berjuang bertahan melawan rasa lapar yang melilit perut, haus yang mencekik tenggorokan, di situ membuat tersadar dan ikut merasakan bagaimana rasanya ketika menjadi seorang yang dalam keadaan kekurangan. Ikut merasakan penderitaan saudara sesama Muslim yang memang dalam kesehariannya selalu lapar dan haus karena memang memiliki kondisi ekonominya serba kekurangan.

Jika umat Islam dapat merasakan kesusahan yang dirasakan oleh saudaranya yang dalam kekurangan Jika umat Islam dapat merasakan kesusahan yang dirasakan oleh saudaranya yang dalam kekurangan, maka di situ akan tergugahlah jiwa sosial seorang Muslim.

Setelah mengetahui bagaimana rasanya hidup dalam rasa lapar dan kekurangan karena tempaan puasa, diharapkan akan tumbuh kesadaran dan pada akhirnya mau saling membantu dan mengulurkan tangan pada saudara yang kekurangan. Dengan demikian, salah satu hikmah dari puasanya ini adalah tergugahnya jiwa sosial pada diri umat Islam.

Momentum bulan yang penuh rahmah ini, marilah kita tingkatkan kesehatan jasmsni dan rohani serta rasa solidaritas dan kepekaan sosial sekaligus toleransi kita terhadap sesama.
Puasa dapat menjadi mediasi bagi hubungan kita untuk kesehatan pribadi memperbaiki kumulusan dan kemesraan dengan Allah serta memperoleh latihan kepekaan sosial.

Harapannya, setelah melewati puasa Ramadhan ini, semakin sehat sehingga kuat beribadah kepada Allah juga tergugahlah jiwa sosial umat Islam yang kemudian menjadikan terciptanya suatu tatanan masyarakat Muslim yang sejahtera, saling mengasihi dan menyayangi.

Bulan spesial mendidik kita menjalankan Ibadah spesial yang memberikan banyak pelajaran kepada siapapun yang mau mengambilnya. Semoga kita bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk tamu yang agung; bulan Ramadhan. Tak lupa kita berdoa kepada Allah swt agar diberikan kekuatan dan istiqomah untuk memaksimalkan mengisinya hingga batas akhir, dan menjadi pribadi yg lebih baik setelahnya.

Penulis adalah Penyuluh Madya, Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh.

Artikel ini bekerjasama dengan Dinas Syariat Islam.

Editor: Rusmadi