Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

UTAMA · 22 Aug 2022 06:58 WIB ·

Polda Aceh Buru Pembakar Merah Putih

 
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy, menunjukkan gambar yang discreenshot, penyebar video bendera merah putih dibakar.
IST/RAKYAT ACEH Perbesar

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy, menunjukkan gambar yang discreenshot, penyebar video bendera merah putih dibakar. IST/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Ditreskrimsus Polda Aceh saat ini sedang menyelidiki asal usul, termasuk pelaku dan lokasi pembakaran bendera Merah Putih yang videonya sempat beredar luas di media sosial (medsos).

“Kita masih menyelidiki pelaku ataupun lokasi pembakaran bendera Merah Putih dalam video yang beredar tersebut. Namun, kuat dugaan lokasinya di Aceh,” ungkap Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy, Minggu (21/8).

Winardy menceritakan, video pembakaran bendera Merah Putih itu pertama kali diunggah oleh akun facebook yang diduga milik NU (53) pada 17 Agustus 2022, pukul 13:57 WIB.
NU diketahui merupakan warga Pidie, yang menerima suaka politik dari UNHCR dan berdomisili di Horsens, Denmark. Ia juga tergabung dalam kelompok Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF).

Video tersebut selanjutnya diunggah kembali oleh akun facebook yang diduga milik TD (25), pada 17 Agustus 2022 pukul 16:25 WIB. TD merupakan warga Pidie Jaya, yang juga mantan narapidana kasus narkoba.

“Kita masih terus mendalami pemilik akun facebook yang menyebarkan video pembakaran bendera Merah Putih tersebut dan sejauh mana keterlibatannya dalam kasus pembakaran bendera itu. Bagi pemilik akun, jika terbukti akan dikenakan Pasal 28 ayat (2) UU ITE, karena dianggap dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (sara),” sebut Winardy.

Di samping itu, Winardy mengimbau masyarakat agar memanfaatkan media sosial secara positif dan jangan mudah termakan isu tidak benar. Karena, penyebaran informasi hoax dapat menimbulkan keresahan dan perpecahan.

“Menyebarkan berita hoaks atau konten negatif sangat bahaya baik dari sisi hukum, agama, kesusilaan, maupun kesopanan karena akan menyebabkan perpecahan. Oleh karena itu, gunakanlah medsos dengan bijak,” imbau Winardy. (ril/ra)

 

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Polisi akan Tindak Truk Tangki Penyebab Tumpahan CPO di Jalan

24 July 2024 - 11:42 WIB

Jalin Sinergi dan Koordinasi, Kakanwil Pajak Kunjungi Polda Aceh

23 July 2024 - 19:59 WIB

Komitmen OJK Tingkatkan Literasi dan Akses Keuangan Syariah bagi UMKM dan Santri di Aceh

23 July 2024 - 19:52 WIB

Tersangka Kasus BRA Dicecar Puluhan Pertanyaan

23 July 2024 - 19:45 WIB

Berhasil Membina Pengembangan TTG Inovasi Desa, Pj Bupati Iswanto Raih Penghargaan Menteri PDTT

23 July 2024 - 18:43 WIB

Israel Serang Khan Younis, Ribuan Pengungsi Palestina Melarikan Diri

23 July 2024 - 15:52 WIB

Trending di INTERNASIONAL