Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

UTAMA · 25 Aug 2022 19:33 WIB ·

Aceh Masuk Kategori Potensi Konflik Satwa Liar


 Plt Direktur Pencegahan dan Pengamanan Lingkungan Hidup Kehutanan Sustyo Iriyono. Rakyat Aceh/Rusmadi. Perbesar

Plt Direktur Pencegahan dan Pengamanan Lingkungan Hidup Kehutanan Sustyo Iriyono. Rakyat Aceh/Rusmadi.

HARIANRAKYATACEH.COM – Ada empat provinsi di Indonesia yang berpotensi terjadinya konflik satwa liar dan manusia, salah satunya ada di provinsi Aceh. Belum lagi perusakan kawasan hutan dan konservasi untuk penggunaan lain karena kebutuhan lahan semakin meningkat mengakibatkan menurunnya kualitas dan kuantitas habitat satwa.

“Hal ini berdampak pada meningkatnya perburuan dan konflik satwa dan manusia yang dapat mengakibatkan adanya korban jiwa manusia, kematian satwa dilindungi maupun kerugian materil,” ujar Plt Direktur Pencegahan dan Pengamanan Lingkungan Hidup Kehutanan Sustyo Iriyono, Kamis (25/8/2022) di Banda Aceh.

Dikatakan, baginya sangat mengkwatirkan dengan banyaknya konflik satwa dan manusia dan perburuan satwa liar akan mengancam potensi keanekaragaman hayati di Aceh, khususnya 4 satwa yaitu Harimau, Gajah, Badak dan Orangutan yang hidup di landscape provinsi Aceh.

“Potensi tersebu merupakan kebanggaan dan keunggulan komparatif sekaligus anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu penanganan yang serius dan sinergis antar pihak.

Dikatakan, untuk itu secara simultan supaya mengurangi adanya tindakan kejahatan terhadap konflik satwa liar dan manusia, baik di  Sumatra, Riau, maupun di provinsi lain di Indonesia.

“Sering kita dengar konflik satwa dan manusia kadang membawa korban,” ungkapnya.

Ia berharap, dalam mengolah kawasan konservasi ada kaedahnya dan harus dipatuhi oleh semua pihak sebagai bentuk kolabolasi.

“Kita tetap melakukan tindakan terhadap kejahatan termasuk keanekaragaman hayati,” jelasnya.

Dikatakan, dengan adanya kolaborasi semua pihak dalam membahas dan rumusan sebagai langkah yang tepat dari hulu hingga hilir dalam mengatasi persoalan tersebut.

Untuk itu, ia berharap dapat meningkatkan pemahaman kepadan masyarakat dalam menjaga keanekaragaman terhadap pelaku kejahatan yang mencari keuntungan.

Sementara itu, Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatra, Subhan mengatakan bahwa penegakan hukum terhadap kejahatan tumbuhan dan satwa liar di wilayah Sumatra terus dilakukan.

Namun demikina, penegakan hukum bukanlaj satu-satunya solusi, perlu ada upaya dan komitmen bersama dari para pihak baik pengelola maupun pemangku kawasan, penegak hukum, para mitra, pelaku usaha dan masyarakat dalam penegakan hukum dan penanganan konflik satwa dan manusia.

Dikatakan, dalam rangka membangun sinergitas penegakan hukum kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar dan penanganan konflik satwa liar dan manusia menyelenggarakan rakor penegakan hukum dan penanganan konflik satwa di provinsi Aceh di Banda Aceh. (rus).

Artikel ini telah dibaca 100 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

The Gayo Institute Terbitkan Buku Introspeksi Karya Penyair Aceh

23 July 2024 - 06:22 WIB

Ini Alasan Joe Biden Mundur dari Kandidat Capres Amerika 

22 July 2024 - 15:51 WIB

Pj Bupati Aceh Utara Mahyuzar: Pemasangan Bendera ‘Memudar’

22 July 2024 - 15:10 WIB

Kata Kakanwil Meurah Budiman Usai UPP Satgas Saber Pungli Aceh Lakukan Audiensi Dengan Pj. Gubernur Aceh

22 July 2024 - 15:07 WIB

Brigjen Armia Fahmi Pimpin Upacara Pembukaan Diktukba Polri di SPN Polda Aceh

22 July 2024 - 13:40 WIB

Korban Laka Lantas di Aceh Didominasi oleh Pelajar dan Mahasiswa

22 July 2024 - 09:49 WIB

Trending di UTAMA