Tiga Strategi Pj Gubernur Untuk Menarik Investor Berinvestasi di Aceh

Kegiatan Aceh Gayo sustainable Investment Dialogue (AGASID) 2022

RAKYAT ACEH | Banda Aceh – Kondisi global untuk bisnis dan investasi yang berubah secara dramatis pada tahun 2022, ini dengan dimulainya perang di Ukraina, yang terjadi ketika dunia masih belum pulih dari dampak pandemi.

Hal ini memberikan ketidakpastian bagi investor karena mereka menghindari risiko yang akhirnya memberikan tekanan yang signifikan pada Investasi Asing secara global pada tahun 2022. kondisi di ASEAN sendiri sejauh ini menunjukkan ASEAN tetap menjadi penerima utama investasi asing di kawasan berkembang dan tetap terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Meskipun demikian, kondisi ini masih lebih baik dari beberapa negara lainnya. Merujuk pada data Bank Indonesia Kantor Perwakilan Aceh, Ekonomi Aceh pada triwulan II 2022 tumbuh 4,36% (year on year). Jumlah ini tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 3,24% (year on year).

“Ekspor dan Impor pada triwulan II juga mengalami peningkatan, meskipun pada triwulan berjalan, ekspor dan impor diperkirakan melambat. Ekspor non-migas Aceh pun masih didominasi oleh komoditas Batubara, Kopi, dan Pinang, ” kata Pj Gubernur Aceh dalam pesan tertulis yang disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh Mawardi dalam pembukaan Aceh Gayo Sustainable Investment Dialogue (AGASID) 2022 di Banda Aceh, (31/10).

Sementara itu, pada triwulan II 2022, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/investasi di wilayah Aceh terkontraksi sebesar 62,92% (year on year), lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 105,46%( year on year). Hal ini sejalan dengan reali sasi investasi Aceh pada triwulan II sebesar Rp1.754,79 miliar.

Pj Gubenur Aceh Acmad Marzuki mengungkapkan, untuk menghadirkan investasi merupakan tantangan tersendiri. Khusus bagi Aceh. Dengan demikian keterlibatan swasta dalam membangun Aceh merupakan yang utama, disusul dengan upaya meningkatkan ekonomi serta mengurangi ketergantungan terhadap anggaran pusat.

“Maka dari itu, disadari bahwa kita harus sepenuhnya memahami kebutuhan investor dan bekerja bersama menuju hubungan yang saling menguntungkan dengan menyediakan layanan investasi, ” sebutnya.

Kendati demikiann, kata Mawardi, untuk menarik investasi dan meningkatkan iklim investasi Aceh, maka perlu kombinasikan tiga pilar. Pertama, promosi investasi terutama kegiatan memasarkan Aceh sebagai tujuan investasi yang menarik dan menargetkan calon investor. “Ini termasuk menawarkan berbagai jenis insentif investasi, program penjangkauan dan kegiatan pembangunan image dan persepsi, ” jelasnya.

Kedua, menghadirkan Fasilitasi investasi yang mencakup semua kebijakan dan tindakan yang bertujuan untuk memudahkan investor dalam mendirikan, mengoperasikan, dan memperluas investasi di Aceh.

“Ini mencakup berbagai kegiatan seperti menyediakan aturan yang transparan dan
dapat diprediksi, menetapkan prosedur administrasi yang efisien dan hubungan stakeholder yang efektif dan menawarkan berbagai jenis layanan investor (misalnya asistensi dengan berbagai proses dan aturan administrasi),” jelasnya.

Dan yang ketiga, adalah Layanan Aftercare untuk meningkatkan investasi dan dampaknya serta memperbaiki iklim investasi. Layanan ini terdiri dari berbagai layanan yang saling berhubungan untuk mempertahankan investasi yang sudah ada, kemudian mendorong dan mempercepat reinvestasi dalam memaksimalkan dampak terhadap ekonomi lokal. “Pada kesempatan ini, kami mengajak mari berbisnis dan berinvestasi di Aceh. Insya Allah, kami berkomitmen dan siap memberikan asistensi dan dukungan yang diperlukan kepada para investor yang berinvestasi di Aceh, ” ujarnya.

Sementara itu, Plh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh, Marzuki mengatakan AGASID 2022 merupakan kegiatan yang digagas oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh bekerja sama dengan Regional Investor Relations Unit (RIRU)-Bank Indonesia Kantor Perwakilan Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dan Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) Aceh.

Kegiatan ini, sebutnya, dirancang khusus untuk memberikan kesempatan kepada seluruh pihak, baik dalam maupun luar negeri, untuk berpartisipasi dalam pembahasan pembangunan dan investasi yang berkelanjutan dan berwawasan kepada pelestarian lingkungan, berdampak sosial dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) atau ESG (Environmental, social, and governance). Selain itu pertemuan bisnis tersebut merupakan salah satu upaya memberikan kesempatan kepada investor untuk berinvestasi pada berbagai sektor ekonomi yang ada di seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Forum dialog AGASID 2022 pada berfokus pada pembahasan bagaimana Aceh dapat mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki guna mendorong investasi bersih dan berkelanjutan sekaligus menciptakan industri hilirisasi yang berbasis produk turunan komoditas unggulan Aceh seperti kakao, kopi dan kelapa sawit.