Khazanah Sastra Hikayat Aceh

Peserta asal Kabupaten Pidie Jaya menampilkan hikayat Aceh pada event Panggung Hikayat di Taman Seni dan Budaya, Kota Banda Aceh, Minggu, 23 Oktober 2022. (Foto: Eko Deni Saputra)

HIKAYAT tumbuh dan berkembang sebagai tradisi lisan dalam masyarakat Aceh, sebab hikayat hidup sebagai sastra rakyat yang lisan, dikarang dan disampaikan secara lisan. Pada awal perkembangannya, hikayat yang berkembang hanya digunakan dalam kalangan istana kerajaan, seperti hikayat raja-raja pasai, yang penulisannnya berbentuk prosa dan sama seperti hikayat Melayu.

Kemudian hikayat berkembang di kalangan masyarakat, yang diciptakan dan dinikmati oleh kalangan masyarakat, sehingga hikayat Aceh merupakan sastra Aceh atau sastra rakyat yang berkembang secara lisan, dibacakan di masjid, menasah, balai pengajian, dan gedung-gedung tertentu.

Dalam sejarah sastra Aceh, konstribusi bahasa Melayu tak dapat dipungkiri telah membawa pengaruhnya besar terhadap kemunculan sastra di Aceh. Sehingga bahasa melayu dapat diterima dengan baik di dalam masyarakat Aceh, bahkan bahasa Melayu dipergunakan oleh kerajan-kerajan Pasai dan Aceh Darussalam untuk kepentingan penyebaran agama dan kebudayaan Islam.

Budaya Melayu yang bernafaskan ajaran Islam juga dinilai masih melekat dalam kehidupan masyarakat di Aceh hingga saat ini dan punya korelasi sangat dekat, mulai dari adat dan keberagaman lainnya.

Mengenal Hikayat Aceh

Hikayat Aceh adalah hikayat yang digubah dalam bahasa Aceh. Semua hikayat Aceh menggunakan bahasa berirama atau bersajak atau berbentuk puisi, sementara isinya berbentuk prosa. Karena itu, hikayat Aceh tergolong prosa lirik, yakni isinya prosa, tetapi bentuknya puisi.

Hikayat Aceh dapat dinyanyikan dengan berbagai irama sesuai pakhok (rima; rhyme) dan buhu (irama; rhytm) yang serasi. Inilah sebabnya hikayat sangat digemari oleh masyarakat sebagai salah satu bentuk hiburan dan bahan pembelajaran yang dibacakan pada berbagai kesempatan.

Ditinjau dari segi isinya, hikayat Aceh dapat digolongkan ke dalam hikayat agama, hikayat cerita, hikayat sejarah, hikayat safari atau muhibah, hikayat perang, hikayat undang-undang, dan hikayat biografi.

Hikayat Aceh, terutama yang lama, memiliki ciri khas menggunakan bahasa bersajak, dimulai dengan bismillahir rahmanir rahim, mukadimah berisi pujian kepada Allah dan salam sejahtera kepada Rasulullah, serta uraian sifat-sifat Allah dan tugas Rasulullah, tokoh-tokoh utama adalah manusia yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, berwatak pahlawan, berhati budiman.

Kemudian, berciri khas berpendidikan agama yang sempurna dan pengarangnya menyembunyikan identitas dirinya; kalaupun menulis nama dirinya, la senantiasa merendahkan dir sebagai fakir yang hina.  Namun, penulis hikayat Aceh modern kini sudah langsung menuliskan namanya dan ada yang tidak sanggup lagi menyebut dirinya sebagai fakir (paki).

Budaya Melayu yang bernafaskan ajaran Islam dinilai masih melekat dalam kehidupan masyarakat di Provinsi Aceh dan punya korelasi sangat dekat, mulai dari adat dan keberagaman lainnya. 

Upaya Pelestarian

Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbubpar) Aceh terus melakukan beragam upaya pelestarian budaya. Salah satu upaya tersebut yaitu menggelar beragam event seban tahun dengan melibatkan secara langsung budayawan dan seniman.

Teranyar, Disbudpar Aceh baru-baru ini menggelar Panggung Hikayat di Taman Seni dan Budaya, Kota Banda Aceh, Minggu, 23 Oktober 2022. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengundang peserta dari kabupaten/kota se-Aceh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal. (Foto: Eko Deni Saputra)

Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal menjelaskan, pentas Panggung Hikayat ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Aceh untuk meningkatkan ketahanan budaya melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan secara sistematis, serta berkelanjutan di bidang kebudayaan. 

“Panggung Hikayat ini adalah upaya kita menjaga dan melestarikan kebudayaan Aceh agar tetap abadi, sesuai tagline Disbudpar Aceh, ‘Lestarikan Budaya, Majukan Pariwisata’,” ujar Almuniza di Banda Aceh.

Seni hikayat, kata Almuniza, banyak mengandung nasehat agama, pesan moral, sosial dan kemasyarakatan, begitu pentingnya keberlangsungan seni sastra. Oleh karena itu, Disbudpar Aceh hadir untuk memberikan apresiasi kepada seluruh pelaku seni sastra lisan dengan menyediakan panggung, agar dapat menampilkan kemampuan dan keahlian seni hikayat yang baik.

“Hikayat Aceh di antaranya berisikan pesan agama dan sejarah raja kerajaan Aceh masa lampau, yang tujuannya agar bangsa Aceh tidak melupakan sejarah dan mendapat ilmu agama dari pesan-pesan yang disampaikan melalui syair dan lantunan cerita,” ungkap Almuniza didampingi Kabid Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah.

Anggota DPR Aceh, Abdurrahman Ahmad menyampaikan bahwa hikayat adalah salah satu kesenian yang ada di Aceh dan menjadi seni terfavorit bagi masyarakat Aceh.

Anggota DPR Aceh, Abdurrahman Ahmad. (Foto: Eko Deni Saputra)

“Dengan semangat ini kita coba kembangkan, sehingga memberikan motivasi kembali kepada anak-anak muda Aceh untuk membaca hikayat,” ungkap Abdurrahman saat

Ia pun berharap dengan adanya kegiatan Panggung Hikayat tersebut, budaya Aceh bisa berkembang dengan baik.

“Setiap syiar yang ada pada hikayat Aceh seperti hukum dan norma, istilah, cerita rakyat dan lain sebagainya, terkandung ragam manfaat,” pungkasnya. (*/imj)