Pengungsi Banjir Makan Mie Instan dan Ikan Asin di Aceh Tamiang

Dua warga korban banjir sedang santap makan siang dengan lauk apa adanya (mie instan dan ikan asin) jatah dari dapur umum tenda pengungsian di Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang yang terendam banjir mencapai mencapai 1 meter sejak dua hari terakhir, Selasa (1/11/2022). DEDE/RKAYAT ACEH

RAKYAT ACEH | KUALA SIMPANG – Rasyid (50) dan Budi Adam (43), dua orang warga korban banjir di Desa Landuh, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang tampak lahap saat makan siang meski hanya nasi putih campur lauk sejumput mie instan dan sepotong ikan asin saja.

“Jadi mau kita bilang tidak betul (tidak percaya), ini buktinya ikan asin sama mie,” tutur Budi Adam saat disambangi Rakyat Aceh Online di tenda pengungsian Kampung Landuh, Selasa (1/11/2022).

Namun mereka dapat memaklumi keterbatasan makanan tersebut, karena sedang dalam kondisi darurat bencana berada di dapur umum bersama puluhan pengungsi lainnya.

“Ini nasi dari dapur umum. Ini baru nasi perang namanya. Sudah syukur Alhamdulillah kali ini,” timpal Rasyid dengan riang.

Dua pria paruh baya ini juga mengeluhkan dalam beberapa hari ke depan tidak bisa beraktivitas mencari nafkah akibat banjir 

Butuh bantuan logistik

Datok Penghulu (Kepala Desa) Desa Landuh, Helmi mengatakan, sebanyak lima dusun di desanya semuanya terimbas banjir setinggi 50 centimeter sampai 1 meter.

Paling parah di Dusun Garuda dan komplek perumahan KPR. Kondisi ini memaksa puluhan warganya mengungsi di tenda-tenda pengungsian dan fasilitas umum lainnya.

“Untuk sementara ini kami butuh logistik sandang pangan untuk stok dapur umum di pengungsian, seperti pempers bayi juga sangat perlu karena banyak balita,” kata Helmi.

Tenda pengungsian dan dapur umum didirikan tepat di depan kantor datok penghulu yang aman dari banjir. Sementara itu kapasitas tenda tidak cukup untuk menampung pengungsi, sebagian ibu rumah tangga terpaksa memanfaatkan serambi musala untuk tidur.

“Di sini yang mengungsi ada 30 KK. Rumah yang terendam banjir sebanyak 600 unit. Sebagian warga masih enggan meninggalkan rumahnya,” ujar Helmi sembari memperkirakan jumlah warga mengungsi akan terus bertambah karena banjir luapan sungai ini semakin besar dari hari kemarin.

Sementara itu dari pantauan di lapangan, sebagian warga kaum bapak memanfaatkan situasi banjir dengan menjala ikan disekitar tenda pengungsian. Arus jalan Kampung Landuh-Kota Lintang juga tampak terputus akibat tergenang banjir dalam. (ddh)