Iran vs Amerika Serikat: Bara yang Sulit Padam di Al Thumama

RAKYAT ACEH | DOHA – Anak-anak muda yang sedikit-sedikit merasa tidak ”relate” dengan segala yang datang dari masa lalu, sebaiknya menontonlah dulu di YouTube laga Amerika Serikat versus Iran di Piala Dunia 1998 di Prancis. Itu kalau mau memahami betapa duel dua negara tersebut dini hari nanti WIB di Stadion Al Thumama, Doha, Qatar, meresonansikan berlapis faktor.

Tidak perlu menonton keseluruhan laga 24 tahun lalu itu. Cukup perhatikan betapa emosional selebrasi Hamid Estili yang mencetak gol pertama Iran dalam duel yang mereka menangi 2-1 tersebut. Di matanya yang mendelik seakan tergambar kepuasan, kebanggaan, dan mungkin juga kemarahan.

Maklum, Iran dan AS sangat bermusuhan secara politis. Penyerbuan ke Kedubes AS di Teheran di tengah gelora Revolusi Iran 1979 salah satu contohnya. Juga dukungan AS kepada Iraq dalam Perang Iran-Iraq serta beragam sanksi yang dialami Teheran yang diotaki dari Washington.

Jika ditambah dengan krusialnya laga dini hari nanti WIB terhadap bisa lolos atau tidaknya kedua tim ke fase gugur, bisa dibayangkan panasnya bara di Al Thumama. The Yanks yang baru mengoleksi dua angka dari dua laga tidak punya pilihan selain harus menang.

Hasil imbang mungkin akan cukup bagi Team Melli yang memiliki tiga angka. Tapi, itu berarti mereka masih harus menggantungkan nasib pada laga lainnya di grup B Piala Dunia 2022: Inggris (4 poin) versus Wales (1 poin). Artinya, jalan paling aman ya harus menang.

”Hasil imbang melawan Inggris mudah-mudahan bisa membuat semua orang di AS bangga. Tapi, tugas kami masih jauh dari selesai,” kata Christian Pulisic, otak permainan The Yanks, kepada ESPN.

Pada 1998, oleh FIFA, Iran sebenarnya ditempatkan sebagai tim tamu. Artinya, sebelum kickoff, para pemain Iran harus berjalan ke arah para pemain AS dan menyalami mereka.

Tapi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei melarang Ali Daei dkk melakukannya. Lobi-lobi pun dilakukan hingga akhirnya AS yang menjadi tim tamu.

Sebelum duel dini hari nanti, situasi juga tak kalah panas. Gara-garanya, Federasi Sepak Bola AS (USSF) memasang di akun media sosial mereka bendera Iran tanpa emblem Revolusi Iran. Mereka beralasan itu bentuk dukungan kepada demonstrasi yang menuntut kesetaraan hak bagi perempuan di Iran menyusul tewasnya Mahsa Amini.

Perempuan 22 tahun itu diduga dianiaya aparat setelah ditahan karena tak memakai jilbab. Para aktivis hak asasi manusia di Teheran menyebut rangkaian demonstrasi telah menewaskan 450 demonstran dan 18 ribu lainnya ditangkap.

Iran memprotes keras, mengancam akan mengambil langkah hukum, dan akhirnya unggahan itu pun dihapus. USSF menyebutkan, skuad AS tak terlibat dalam keputusan mengunggah bendera Iran tadi.

Toh bek The Yanks Walter Zimmerman turut menyulut kembali api yang berusaha dipadamkan itu. ”Kami fokus pada apa yang harus kami kerjakan di lapangan. Namun, kami juga berempati dan mendukung penuh hak-hak perempuan,” katanya dalam jumpa pers.

Tapi, ada begitu banyak lapisan dalam relasi Iran dan AS. Negeri Paman Sam mendukung Iraq di Perang Teluk pada 1980-an, tapi toh diam-diam mereka juga berdagang senjata dengan Negeri Para Mullah yang belakangan dikenal dengan skandal Iran Contra.

Begitu panasnya laga di Lyon, Prancis, nyaris seperempat abad silam, tapi dua tahun kemudian, Khodadad Azizi, salah satu bintang Iran, justru dipinang klub Major League Soccer AS San Jose Earthquakes.

Jadi, nuansa politik mungkin tak terhindarkan dini hari nanti WIB. Tapi, pertempuran tetaplah terjadi di lapangan.

The Yanks memang solid di belakang dengan baru sekali kebobolan lewat penalti kapten Wales Gareth Bale. Tapi, satu gol dari dua laga memperlihatkan mereka punya masalah di penyelesaian akhir.

Di sisi lain, Team Melli punya lini depan dengan formasi yang cair dan menjadikan striker FC Porto Mehdi Taremi sebagai titik vokal. Dia bisa menjadi penyerang tunggal dalam sistem 4-1-4-1 atau 4-5-1, bisa pula ditandemkan dengan Sardar ”Messi Iran” Azmoun.

”Taremi sangat berbakat, kuat dalam duel udara, bisa mencetak gol lewat beragam cara, dan selalu terlibat aktif dalam permainan,” tulis analis Omar Mokhtar di Breaking the Lines tentang pemain yang dua musim beruntun masuk ”team of the year” di Primeira Liga Portugal tersebut.

Jadi, yang sudah menonton selebrasi Hamid Estili di Piala Dunia 1998, bersiaplah menyaksikan perayaan tak kalah emosionalnya dini hari nanti tiap kali pemain kedua tim mencetak gol. Bara bakal sulit padam di Al Thumama. (ren/io/c19/ttg/rif)