Minim Alat Perekam, Ribuan Warga Belum Kantongi KTP-EL

Ahmanuddin.

RAKYAT ACEH | SIMEULUE  – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Simeulue, alami kesulitan serius, disebabkan hanya mengandalkan satu unit fasilitas sarana alat perekam KTP-EL, sehingga masih ada ribuan warga yang telah wajib KTP-EL belum dapat giliran untuk di proses perekaman.

Meskipun pihak Disdukcapil Kabupaten Simeulue telah berupaya melakukan perekaman dengan sistim jemput bola mendatangi warga di sejumlah kecamatan, namun tidak maksimal dengan mengandalkan satu-satunya alat perekam yang ada dan diboyong langsung dari kantor Disdukcapil setempat.

Bila alat perekam itu diboyong dari kantor Disdukcapil untuk pelaksanaan perekaman ditingkat kecamatan atau desa, maka ada warga lain yang hendak melakukan proses langsung pengurusan KTP-EL di Kantor Disdukcapil yang berada di Kota Sinabang, juga terhambat dan tidak terlaksana.

Terkait masih ada ribuan warga pulau Simeulue yang harus dan wajib KTP-EL belum terekam dan hanya mengandalkan satu unit sarana fasilitas alat perekaman itu, disampaikan langsung Ahmanuddin, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Simeulue, yang ditemui Harian Rakyat Aceh, diruang kerjanya, Kamis, 8 Desember 2022.

“Karena hanya ada satu unit fasilitas alat perekam KTP-EL, saat kita bawa ke desa atau ketingkat kecamatan dan pada waktu yang bersamaan ada warga yang juga hendak proses perekaman KTP-EL di kantor Disdukcapil, sementara alat perekam kita bawa, ini terlambat lagi. Jadinya kita seperti simalakama, karena hanya mengandalkan satu unit alat perekam, sehingga masih ada sekitar 2.994 orang dan ini akan bertambah tahun 2023, untuk wajib KTP-EL, sebanyak 2.110 orang,” katanya.

Selayaknya dengan geografis wilayah Pulau Simeulue, sebut Ahmanuddin, untuk Disdukcapil Simeulue harus tersedia tiga unit alat perekam KTP-EL, satu unit dioperasikan di kantor Disdukcapil dan dua unit lagi untuk perekaman sistem jemput bola langsung kerumah warga, di 138 desa dalam 10 kecamatan yang ada, termasuk perekaman di dua pulau berpenghuni, yakni Pulau Siumat, Kecamatan Simeulue Timur dan Pulau Teupah, Kecamatan Teupah Barat.

Selain minim sarana dan membutuhkan dua unit fasilitas alat perekam, dengan estimasi harga persatu unitnya sekitar kurang dari Rp 200 juta, juga membutuhkan fasilitas alat pencetak Kartu Identitas Anak (KIA), yang juga tersedia hanya satu unit, yang seharusnya dibutuhkan sebanyak tiga unit, nantinya bersamaan dibawa saat pelaksanaan perekaman KTP-EL yang langsung kerumah warga.

“Sistem jemput bola mendatangi warga untuk perekaman itu, karena ada warga yang jauh tempat tinggalnya untuk ke Kota Sinabang, tentunya menguras biaya. Memang prosesnya tidak lama hanya 5 menit KTP-EL sudah siap, bila dokumen persyaratan lengkap serta untuk internet tidak ada masalah. Maka selain kita membutuhkan tambahan alat perekam, juga membutuhkan alat KIA,” imbuhnya.

Dia merincikan,  tahun 2021 warga Simeulue yang telah memiliki KTP-EL sebanyak 61.899 orang dan untuk tahun 2022, per tanggal 30 November, tercatat sebanyak 62.365 orang telah kantongi KTP-EL.

Sedangkan untuk proses dokumen lainnya, seperti KK, KIA, Akta Kelahiran, Akta Kematian, barkot, setiap harinya ada 100 dokumen yang di urus warga ke kantor Disdukcapil Simeulue. (ahi)