OJK Sebut Kinerja Lembaga Jasa Keuangan di Aceh Tumbuh Positif

Kepala OJK Aceh, Yusri

RAKYAT ACEH |  BANDA ACEH – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan, Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang beroperasional di Aceh membukukan kinerja positif dan akseleratif di tahun 2022 pasca implementasi Qanun LKS dan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“OJK menyampaikan apresiasi kepada seluruh LJK yang beroperasional di Aceh karena membukukan kinerja yang positif,” ujar Kepala OJK Aceh, Yusri saat melakukan silaturahmi dengan pelaku media di Aceh, Senin (30/1).

Yusri menjelaskan, sektor pebankan di Aceh yang saat ini sudah melakukan aktivitas berdasarkan prinsip syariah tumbuh akseleratif, dimana di tahun 2022 (yoy) Total Aset Bank Umum tumbuh 5,58% menjadi Rp48,54 Triliun, DPK tumbuh 0,80% menjadi Rp39,63 Triliun dan Pembiayaan tumbuh 9,83% menjadi Rp34,23 triliun.

“Kinerja ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kinerja tahun 2021, dimana ketiga indikator tersebut mengalami pertumbuhan negatif. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) juga turun dan terjaga di angka 1,53%, relatif lebih baik dari rasio NPF nasional sebesar 2,41%,” sebutnya.

Hal yang sama pada kinerja BPR/BPRS di Aceh, dimana Total Aset tumbuh 11,47% menjadi Rp910,5 miliar, DPK tumbuh 3,33% menjadi Rp533,40 miliar dan Pembiayaan tumbuh 14,88% menjadi Rp593,87%.

Dalam paparannya, Yusri menyampaikan bahwa meksipun komposisi penyaluran pembiayaan berdasarkan sektor ekonomi ke sektor Rumah Tangga masih cukup tinggi mencapai 60,55%, namun penyaluran pembiayaan berdasarkan kategori debitur untuk UMKM cenderung meningkat dan tahun 2022 tercatat sebesar 26,14%.

Selanjutnya, market share pembiayaan oleh perbankan di Aceh masih didominasi oleh 2 (dua) bank yaitu BSI dan Bank Aceh Syariah masing-masing 50,44% dan 46,51%.

Gap pembiayaan berdasarkan lokasi bank terhadap lokasi proyek tahun 2022 juga mengalami penurunan sebesar Rp235 miliar menjadi Rp15,05 Triliun, yang memperlihatkan akselerasi perbankan di Aceh cukup gencar untuk mengakuisisi pembiayaan yang dilakukan oleh bank di luar Aceh, serta potensi ekonomi dan usaha di Aceh yang masih sangat terbuka untuk dibiayai oleh perbankan di Aceh.

Untuk itu, OJK mengajak seluruh bank yang ada di Aceh agar dapat lebih responsif melihat peluang ekonomi dan usaha di Aceh. Pada sektor Pasar Modal, jumlah investor pasar modal meningkat 47,81% menjadi 114.488 SID, di antaranya terdapat jumlah investor saham yang meningkat 26,35% menjadi 42.493 SID dengan jumlah kepemilikan saham meningkat 15,67% menjadi Rp1.04 triliun.

Kinerja sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di Aceh juga mengalami peningkatan, dimana: 1. Jumlah pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan meningkat sebesar 5,27% menjadi Rp3,89 triliun (Desember 2022, yoy) dengan NPF terjaga dan cukup rendah sebesar 1,58%; 2. Jumlah pembiayaan oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) meningkat sebesar 4,34% menjadi Rp29,57 (Desember 2022, yoy); dan 3. Jumlah pembiayaan oleh Fintech (Peer to Peer lending) sampai dengan November 2022 meningkat menjadi sebesar Rp1,51 triliun.

Di tahun 2022, OJK juga telah menyelesaikan Survei Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 yang dilakukan dalam 3 tahunan, dimana tingkat literasi keuangan di Aceh tahun 2022 meningkat sebesar 5,51% menjadi 49,87% (lebih baik dari tingkat literasi nasional sebesar 49,68%) dan tingkat inklusi keuangan di Aceh juga meningkat sebesar 3,78% menjadi 89,87% (lebih baik dari tingkat inklusi nasional sebesar 85,01%). Hal yang positif lainnya adalah, gap antara tingkat literasi dan inklusi di Aceh tahun 2022 menurun menjadi dari survei sebelumnya sebesar 41,73% menjadi 40%. (drh)