Pesan dan Harapan untuk Marselino Ferdinan dari Mereka yang Pernah Menjajal Eropa

Marselino Ferdinan, eks pemain Persebaya Surabaya.

RAKYAT ACEH | SURABAYA – Dari angkatan Kurniawan Dwi Yulianto dan Bima Sakti sampai generasi Witan Sulaeman-Egy Maulana Vikri, semua pernah merasakan sulitnya mendapat menit bermain di Eropa. Mereka berharap Marselino Ferdinan bisa beradaptasi dengan cepat, bermental baja, dan tidak terbebani ekspektasi dari tanah air.

BAGUS P.P., FARID S.M., Surabaya-TAUFIQ A., Jakarta

SUDAH sejak 2019 Witan Sulaeman merumput di Eropa. Membela empat klub di tiga negara Eropa Timur: Serbia, Polandia, serta Slovakia.

Tapi, pemain kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 21 tahun lalu itu total hanya mengantongi 941 menit bermain. Itu pun lebih banyak bukan sebagai starter dan sebagian lainnya dihabiskan rekrutan baru Persija Jakarta tersebut bukan di tim utama.

Karena itu, pelatih Persija Thomas Doll menyebut bergabungnya Witan dengan klub yang dia tangani merupakan langkah tepat. ’’Di Eropa, mungkin perannya tidak terlalu menentukan karena kulturnya sangat berbeda. Sementara itu, Witan sangat perlu menit bermain,” katanya dalam jumpa pers setelah perkenalan pemain berposisi winger/wide attacker itu sebagai penggawa anyar Persija kemarin (3/2).

Itulah barangkali tantangan utama yang dihadapi para pemain Indonesia yang hendak berkiprah di Benua Biru, termasuk Marselino Ferdinan: mengatasi kejutan budaya agar bisa segera beradaptasi sehingga kans bermain jadi besar. Budaya ini tak hanya menyangkut urusan di dalam lapangan, tapi juga di perkara sehari-hari.

Saat ini ada belasan pemain asal Indonesia atau keturunan Indonesia yang tercatat bermain di berbagai negara di Eropa. Elkan Baggott (Cheltenham Town, Inggris) atau Shayne Pattynama (Viking FK/Norwegia), misalnya, tentu menghadapi tantangan sebesar yang menghadang Witan atau Marselino karena mereka dibina klub-klub Eropa sedari kecil.

Baggott, Pattynama, atau Justin Hubner yang kini membela klub Inggris Wolverhampton Wanderers tahu bagaimana kerasnya disiplin dan persaingan di sana. Lahir dan besar di Benua Biru, hal-hal di luar sepak bola otomatis pula tak menjadi masalah bagi mereka.

Egy Maulana Vikri menyebut betapa tak mudah mendapat kepercayaan bermain selama lima tahun berkarier di Eropa. Itu pula yang akhirnya mendorongnya untuk balik ke Indonesia dan bergabung bersama Dewa United.

Dia perlu me-recharge ulang kariernya. ’’Yang pasti pertama menit bermain, karena saya di Eropa sudah lima tahun dengan menit bermain yang sangat sedikit,’’ ujarnya tentang alasan utama balik ke tanah air.

Alumni PSSI Primavera pada 1990-an yang bisa dibilang sebagai angkatan pertama pemain asal Indonesia yang merumput di Eropa. Kurniawan Dwi Yulianto sempat membela klub Swiss FC Luzern dan Bima Sakti memperkuat klub Swedia Helsingborg. Itu pun tidak bisa dibilang sukses meski sorotan demikian besar saat itu. Kurniawan, misalnya, hanya mencatat 12 penampilan bersama Luzern dan membukukan tiga gol.

Jadi, bongkahan aral di hadapan Marselino selama membela klub Belgia KMSK Deinze memang tak kecil. Tapi, peluang tentu selalu ada untuk bisa melangkahinya. Apalagi, pemain binaan Persebaya Surabaya itu mendarat dengan jam terbang mencukupi bersama tim utama Persebaya dan tim nasional di berbagai level.

Gelandang 18 tahun tersebut juga dikenal punya kepercayaan diri tinggi. Ayah-ibunya pun bakal turut mendampinginya di Eropa, sesuatu yang tentu tak pernah dirasakan para bintang asal tanah air yang menjajal peruntungan di Benua Biru.

Meski demikian, Kurniawan berpesan, adik kandung gelandang PSIS Semarang Oktafianus Fernando itu kudu berani melepas status bintang. ’’Ibaratnya, dia adalah gelas kosong saat datang ke Eropa,’’ kata Kurniawan kepada Jawa Pos kemarin (3/2).

Kurniawan yang kini menjadi asisten pelatih di klub Italia Como bahagia ada talenta Indonesia yang bermain di Eropa. Tapi, dia tahu Marsel sedang dalam ’’tekanan”. Yang dimaksud adalah ekspektasi tinggi dari tanah air. ’’Ekspektasi masyarakat yang tinggi itu jangan sampai membebani pikiran Marsel,” ucap mantan penyerang Persebaya itu.

Pesan lain dari mantan pemain yang pernah ikut tur Sampdoria ke Indonesia itu, Marsel harus bermental baja. ’’Kalau misal jarang dimainkan, jangan down. Harus bangkit dan menunjukkan yang terbaik. Soal mindset, harus ditanamkan, apa sih tujuan saya main di Eropa?’’ beber pelatih 46 tahun itu.

Dia juga berharap Marsel bisa lebih mandiri karena Eropa memiliki standar sepak bola yang tinggi. Mulai mengatur pola makan sampai menjaga jam istirahat. ’’Talentanya sudah ada, semoga bisa sukses di Eropa,’’ tambahnya.

Bima Sakti juga senada. Dia yakin Marsel bisa sukses di Eropa. Jebolan timnas Primavera itu yakin dengan kemampuan Marsel. ’’Tapi itu harus diimbangi dengan konsistensi dan harus cepat adaptasi,’’ ujar Bima kepada Jawa Pos.

Egy pun berharap juniornya tersebut bisa lebih sukses dari dirinya. Juga lebih sukses dibandingkan teman-teman lainnya yang sudah di Eropa. ’’Saya berharap banyak ke dia supaya bisa menunjukkan yang terbaik,’’ ucap Egy yang seperti Witan, masih berambisi bermain lagi di Eropa. (JPG/rif)