Ditolak di Aceh Utara, 256 Rohingya Balik Lagi ke Bireuen

Ratusan etnis rohingya dikumpulkan di balai nelayan Gampong Lapang Barat, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Minggu (19/11) sore. AKHYAR RIZKI RAKYAT ACEH

┬áRAKYATACEH | BIREUEN – Ratusan manusia di atas perahu balik lagi ke Kabupaten Bireuen. Kali ini, sejumlah 256 etnis rohingya dengan rincian, 86 laki-laki dewasa, 110 perempuan dewasa, 24 anak-anak perempuan, serta 36 anak laki-laki, terombang-ambing di kuala Gampong Lapang Barat, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, Minggu (19/11) sekira pukul 01.30 WIB.

Diketahui, ratusan etnis rohingya itu sebelumnya sempat mendarat di dua tempat, yaitu di pantai Kuala Pawon Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, dan di kawasan pesisir Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, namun warga di dua lokasi tersebut menolak kehadiran mereka yang kemudian kapal bersama awaknya ditolak kembali ke laut.

Informasi dihimpun Harian Rakyat Aceh di lokasi itu, ratusan etnis rohingya yang dikabarkan ditolak di Aceh Utara itu, sempat menyebar di beberapa desa lingkungan Kecamatan Gandapura pada malam hari. Beberapa desa yang didatangi manusia di atas perahu tersebut antara lain, Gampong Lhok Mambang, Samuti Krueng, Samuti Rayeuk, dan Blang Rheu.

Hal tersebut dibenarkan Keuchik Samuti Krueng, Fauzi saat diwawancarai media ini. Ia mengaku, warga mendapati sejumlah etnis rohingya di desanya malam hari sekira pukul 02.00 WIB.

“Tadi malam sekitar pukul 02.00 WIB, rumah saya didatangi masyarakat untuk melaporkan bahwa terdapat puluhan etnis rohingya berkeliaran di Samuti Krueng. Sehingga, saya bersama warga mendatangi mereka untuk memberikan makanan dan minuman,” ujar Fauzi.

Tak lama kemudian, desah-desuh dari gampong tetangga juga terdengar terkait kedatangan rohingya, dan kemudian Fauzi mengecek langsung untuk memastikan ke bebepara gampong tetangga, hingga akhirnya ratusan rohingya dikumpulkan.

“Di Lhok Mambang paling banyak warga rohingya yang mendarat, bahkan hingga ratusan jiwa. Di saat bersamaan, gampong tersebut menggelar kenduri maulid nabi, sehingga semua manusia di atas perahu itu diberikan nasi kenduri maulid,” sebut Keuchik Fauzi.

Ia juga mengaku sempat mencari sejumlah rohingya yang diduga berpisah dari rombongan, dan pada akhirnya ditemukan di Gampong Blang Rheu.

“Kami mendapati ratusan rohingya di beberapa gampong dengan rincian, Samuti Rayeuk sejumlah 53 orang, Samuti Krueng 23, Blang Rheu 10, dan di Lhok Mambang sejumlah 170 orang. Setelah berumbuk, kami meminta bantuan kepada Gampong Lapang Barat untuk menampung sementara ratusan rohingya tersebut, mengingat perahu mereka mendarat di kuala gampong itu,” ucap Fauzi.

Setelah diberikan izin oleh Keuchik Lapang Barat dan didukung Muspika Gandapura, seluruh rohingya yang sempat menyebar, akhirnya dikumpulkan di satu lokasi, tepatnya di balai pertemuan nelayan desa setempat yang tidak jauh dari perahu rohingya mendarat.

Selama di Lapang Barat, Ratusan etnis rohingya dilayani dengan sangat baik oleh masyarakat setempat. Mereka diberikan pakaian, makanan dan minuman, serta dicek kesehatan seraya diberikan obat-obatan yang difasilitas oleh Puskesmas Gandapura.

Mukhtar, selaku Keuchik Desa Lapang Barat juga mengaku melayani ratusan etnis rohingya dengan baik bersama warganya.

“Kami patungan membelikan nasi, makanan dan minuman kepada rohingya atas dasar aksi kemanusiaan. Manusia di atas perahu itu sudah ditampung di Lapang Barat sejak pagi tadi hingga sore ini,” ujar Mukhtar seraya juga mengakatan bahwa semua rohingya itu didatangi dari empat desa yang dikunjungi rohingya tadi malam.

Hingga sore hari, Minggu (19/11) sekira pukul 17.00 WIB, etnis rohingya masih berteduh di balai nelayan Gampong Lapang Barat. (akh)